Dampak Corona, Seluruh Destinasi Pariwisata Di Labuan Bajo Ditutup, Pemerintah Akui Kehilangan PAD Miliaran Rupiah

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro S. Marthin
Labuan Bajo, NTTOnlinenow.com – Akibat semakin masifnya penyebaran Covid-19 (C-19) di sejumlah Negara di dunia, termasuk Indonesia salah satunya, pemerintah terpaksa mengeluarkan kebijakan sosial distancing. Di Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat (Pemkab Mabar) terpaksa menutup seluruh destinasi wisata di daerah itu guna mencegah penyebaran C-19, termasuk Taman Nasional Komodo (TNK).

Seluruh destinasi wisata di daerah pariwisata super prioritas itu ditutup sementara waktu hingga situasi pulih kembali, kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Manggarai Barat, Agustinus Rinus kepada wartawan belum lama ini di Labuan Bajo.

“Pemerintah daerah telah mengambil kebijakan dengan menutup seluruh destinasi diluar Taman Nasional Komodo, sejak 23 Maret hingga 6 April 2020 mendatang,” ujar Agustinus Rinus.

Langkah ini diambil Pemkab Mabar semata-mata hanya untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19 yang kian mewabah di sejumlah Negara di dunia dan sejumlah daerah di Indonesia.

Dia menjelaskan, pasca penutupan, tak ada satupun wisatawan yang datang berkunjung kedaerah itu, baik Wisatawan Nusantara (Wisnu) maupun Wisatawan Manca Negara (wisman).

Akhibatnya, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Manggarai Barat juga ikut berdampak, yaitu terjadi kehilangan PAD sebesar 1 (satu) sampai 2 (dua) miliar rupiah dari pajak retribusi tiket masuk pariwisata.

Sebelumnya, PAD Mabar dari retribusi masuk pariwisata sebesar 20 (dua puluh) miliar rupiah.

Sementara, Pemkab Mabar telah menargetkan PAD retribusi masuk pariwisata sebesar 30 (tiga puluh) miliar rupiah. Namun dengan munculnya kasus covid-19 ini, dipastikan target itu tak akan tercapai, ungkap Rinus.

Data dinas pariwisata Mabar, per tanggal 1 hingga 10 Maret 2020, menyebutkan, tingkat kunjungan wisatawan mengalami penurunan yang cukup signifikan, dengan total kunjungan 1612 orang, terdiri dari, 830 orang diantaranya Wisman yang menggunakan kapal cruise, sedangkan, 782 orang lainnya adalah Wisnu.

Dengan demikian terjadi penurunan signifikan kurang lebih 408 Wisman, sedangkan Wisnu sedikit mengalami kenaikan yaitu 1556 kunjungan.

Rinus, juga mengungkapkan, sebelumnya 2019 lalu, kunjungan wisatawan ke Taman Nasional Komodo di donimnasi oleh Wisman asal benua Eropa, yang berasal dari Jerman, Inggris, Prancis dan Spanyol.