DPRD Belu Tegas Minta Polisi Proses Hukum Kasus Anak Pengusaha Aniaya ODGJ

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Belu desak Kepolisian Polres Belu untuk memproses hukum dua pelaku anak pengusaha serta empat karyawan Timor Permai Atambua diduga telah menganiaya Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) pada Jumat lalu (13/03/2020).

Aksi atau tindakan para pelaku sangat brutal, apalagi dilakukan terhadap orang dengan gangguan jiwa. Tindakan ini melawan hukum, karena itu harus diproses hukum.

Hal itu ditegaskan Anggota Dewan Benedictus Manek selaku Ketua Komisi I DPRD Belu kepada media via whatsappnya, Jumat (20/2).

Menurut dia, tindakan dua anak pengusaha serta karyawannya terhadap orang dengan gangguan jiwa sangat tidak manusiawi. Karena itu diminta kepada pihak Kepolisian wajib memproses hukum para pelaku.

Sebab, jelaskan Manek tindakan para pelaku merupakan tindakan main hakim sendiri. Itu tindakan melawan hukum sehingga Polisi wajib memproses dan para pelaku dikenakan sanksi pidana.

“Kita sangat prihatin. Karena itu Polisi segera tindak tegas para pelaku dengan proses hukum, karena aksi main hakim sendiri tindakan melawan hukum,” tandas Manek.

Terkait itu, sebagai mitra kerja Komisi I DPRD Belu akan terus mengawal proses hukum tersebut hingga selesai dengan adil. “Kita akan kawal proses hukum sampai dimana supaya jelas dan ada efek jera terhadap para pelaku,” kata Manek.

Diketahui, pada Jumat pekan lalu (13/3/2020) Rodrigo Bere Lelo (64) seorang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dianiaya secara brutal oleh dua putra dan sejumlah karyawan Timor Permai Atambua.

Akibat aksi tidak manusiawi itu, korban yang merupakan warga Haekesak, Kecamatan Raihat perbatasan RI-RDTL mengalami sejumlah luka serius di bagian wajahnya.

Aksi brutal dua anak pengusaha bersama karyawan terhadap ODGJ menjadi viral di media sosial (Facebook) saat ini dan pemberitaan sejumlah media online dan media cetak.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Belu, AKP Sepuh Ade Irsyam Siregar yang dikonfirmasi, Kamis (19/3) lalu mengaku pihaknya belum bisa melakukan proses hukum hingga kini.

Menurut Siregar, pihaknya masih mendalami kasus tersebut dengan mengumpulkan fakta-fakta. Jika dipertimbangkan dari sisi keadilan akui dia, pihaknya sedikit mengalami kesulitan untuk memproses lebih lanjut kasusnya.

Lanjut dia, pihakbya baru sebatas mendapatkan fakta-faktanya. Kalau dari segi keadilan, agak sulit kita berbicara sepihak dari sisi melihat korban saja, tapi kita harus lihat segi sebab akibat sehingga kita harus mendudukan ini secara seimbang. “Bahwa salah satu pihak tersebut saat menggendong naik ke atas bak truk kemudian tangannya digigit sehingga refleks korban terbanting mengenai dinding bak truk,” ujar Siregar ketika ditemui awak media pekan lalu.

Menurut dia, para pihak juga sudah beritikad baik saat itu akan membawa ke kantor polisi, namun karena ada insiden kemarin, jadinya dibawa ke rumah sakit dan mengobati korban. Setelah mendapat perawatan juga korban kondisinya sudah kembali stabil. “Hanya saja saat keesokan harinya akan dibawa ke dinas sosial pemda Belu, yang bersangkutan sudah pergi tanpa diketahui arah tujuannya,” jelas dia.

Lanjut Siregar, dalam kasus tersebut pihaknya tidak bisa menyalahkan siapapun. Karena namanya orang dengan gangguan jiwa juga tidak bisa ditelantarkan berkeliaran begitu saja.

“Karena siapa yang akan bertanggung jawab bila yang bersangkutan mengganggu ketertiban umum sedangkan yang bersangkutan tidak bisa dituntut secara pidana,” kata dia.

Dalam vidio yang beredar, kedua kaki dan tangan korban ODGJ diikat lalu diangkut diatas sebuah mobil pick up. Tidak saja itu, nampak salah satu anak pengusaha menonjok wajah korban yang sudah berlumuran darah. Tidak menonjok, kedua pelaku anak pengusaha juga mengumpat kata-kata makian ke korban.