Personil TNI-PNS Kodim 1605/Belu Dapat Penyuluhan P4GN Dari BNN

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Personil TNI-PNS Kodim 1605/Belu mendapat penyuluhansosialisasi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) dari Badan Narkotika Kabupaten (BNK) Belu wilayah Timor Barat perbatasan RI-RDTL.

Kegiatan tentang Narkoba yang berlangsung di Aula Darma Andika Makodim 1605/Belu pada Selasa (16/3/2020) dihadiri Kasdim 1605/Belu, Mayor Inf Ery Ninu, Pasi Intel, Pasi Ter, para Danramil, Personel TNI-PNS Kodim dan Penyuluh Narkoba Ahli Pertama BNK Kabupaten Belu, Dominikus Bria Seran.

Adapun topik pembahasan dalam kegiatan sosialisasi tersebut adalah, adanya isu wacana untuk melegalkan tanaman ganja di Indonesia dan isu wacana untuk melegalkan tanaman kratom di Indonesia.

Dalam sambutan, Kasdim 1605/Belu, Mayor Inf. Ery Ninu mengatakan, diharapkan dalam pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini agar para anggota lebih khususnya para Babinsa untuk mencatat hal-hal yang penting sebagai bahan untuk disampaikan kepada masyarakat tentang bahaya narkoba bagi keluarga dan masa depan anak-anak.

Pelaksanaan kegiatan sosialisasi P4GN untuk memberikan pemahaman serta mencegah dan memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkoba, agar anggota TNI yang bertugas di Kabupaten Belu khususnya Kodim 1605/Belu tidak terjebak.

Dengan adanya kegiatan sosialisasi yang dilakukan terus kerjasama Kodim 1605/Belu dengan BNK Kabupaten Belu sebagai bentuk komitmen TNI dalam melakukan pemberantasan peredaran dan penyalahgunaan narkoba di wilayah teritorial Kabupaten Belu.

Dominikus Bria Seran Penyuluh Narkoba Ahli Pertama dalam sosialisasi menyampaikan isu legalisasi ganja, bahwa secara umum Narkoba adalah merupakan zat aktif yang dapat mempengaruhu fungsi saraf kita yang berdampak pada halusinasi, stimulan, depresan dan adiksi atau ketergantungan.

Isu wacana legaliasi tanaman ganja untuk kepentingan medis, pemerintah melalui BNN menolak dengan keras untuk legalisasi ganja. Sebab penggunaan ganja memiliki kecendrungan digunakan untuk kebutuhan rekreasi ketimbang medis, tingginya kasus sitaan ganja di indonesia menunjukan bahwa ganja banyak disalahgunakan untuk kepentingan rekreasional karena itu BNN menolak keras wacana legalisasi ganja.

Legalisasi ganja akan menimbulkan permasalahan yaitu peningkatan kemungkinan angka kesakitan dan kematian karna tidak ditanggulangi oleh BPJS kesehatan. Perlu diketahui komposisi kandungan ganja atau ganja asli memiliki lebih dari 500 zat, namun ada 2 zat yang lebih tinggi yaitu THC dan CBD.

CBD adalah salah satu cannabinoid yang ditemukan pada pohon ganja, salah satu senyawa yang paling banyak diteliti. CBD bersifat non-psikoaktif. Tidak akan membuat merasa tinggi. Namun CBD secara teknis masih tidak legal di seluruh negara.

Sementara, THC adalah bahan kimia yang menghasilkan sensasi euforia dan menghasilkan efek yang kita sebut ” tinggi”. Karena THC bukan satu-satunya cannabinoid yang menghasilkan efek tinggi, tetapi ini adalah satu-satunya yang ada dalam jumlah yang cukup signifikan dalam produk ganja untuk konsumen mendapatkan efek tinggi.

Sebagian besar efek kognitif dan psikologis THC pada tubuh manusia, termasuk perubahan yang menyenangkan dalam suasana hati, persepsi dan pemikiran, dan memiliki berbagai macam aplikasi obat.

Dua poin terpenting dari perbedaan antara cannabinoid CBD tidak menghasilkan efek tinggi, sementara THC pasti akan membuat tinggi. Pengguna medis, kesehatan, dan kebugaran cenderung memilih CBD, sementara konsumen rekreasi cenderuna menyukai THC.

Sementara isu legalisasi tanaman kratom Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan, daun kratom (mitragyna speciosa) dilarang total digunakan dalam suplemen makanan dan obat tradisional. Kratom dikenal juga sebagai biak-biak, ketum atau maeng da, merupakan tanaman dari family kopi-kopian dan tanaman asli asia tenggara ini banyak terdapat di indonesia, malaysia dan thailand.

Adapun latar belakang pelarangan penggunaan daun kratom adalah karena tumbuhan tersebut jauh lebih kecil manfaatnya dibandingkan efek dan kerugiannya. Daun kratom mengandung senyawa-senyawa yang berbahaya bagi kesehatan sehingga jika digunakan dengan dosis rendah akan menyebabkan efek stimulan. Efek sedatif menyebabkan tenang atau kantuk, menidurkan, hingga yang berat, yaitu hilangnya kesadaran, keadaan anastesi, koma, dan mati. Karna kandungan kratom 13 kali lebih kuat dibandingkan morfin.

Penggunaan kratom di masyarakat tidak didukung oleh data penelitian. Penggunaan tradisional kratom banyak digunakan oleh petani, buruh sebagai stimulan untuk mengatasi kelelahan atau beban kerja yang berat dan meningkatkan produktifitas kerja.