Kondisi Bocah Perempuan di Manggarai Memprihatinkan

Bagikan Artikel ini

Laporan Alvaro S. Marthin
Ruteng, NTTOnlinenow.com-Sungguh memprihatinkan! Kondisi fisik seorang bocah perempuan berinisial SH (8), putri ke 3 dari 5 bersaudara, buah perkawinan pasangan Tarsisius Tamur bersama Yasinta Setia, warga kampung Ruwat, desa Mata Wae, kecamatan Satar Mese Utara, kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur cukup memprihatinkan.

Bocah berjenis kelamin perempuan itu terlihat tidak normal, alias perut kembung atau membesar. Kondisi ini ternyata telah berlangsung sejak lama. Akhibatnya proses pertumbuhannya terbilang lamban atau tidak stabil sebagaimana bocah normal lainnya.

Yasinta Setia, ibu kandung SH kepada wartawan beberapa waktu lalu mengaku, kondisi fisik yang dialami anaknya itu sudah berlangsung lama. Namun bukanlah bawaan sejak lahirnya.

“Kondisi anak ini sudah lama. Tetapi saat lahir, kondisinya normal, tidak seperti sekarang ini,” cerita ibu kandung SH kepada wartawan.

Kondisi fisik SH terus memburuk seiring pertumbuhannya. Perutnya terlihat semakin membesar dari waktu ke kewaktu.

Namun walau demikian, ternyata tak menyurutkan semangatnya untuk tetap bermain bersama teman-teman sebayanya selayaknya bocah sehat lainnya. Termasuk dirinya ingin bersekolah.

Punya kemauan bersekolah, tetapi gagal sudah

“Ingin hati memetik bintang, tetapi apalah daya tangan tak sampai, maksud hati meraih pendidikan, tetapi apalah daya kondisi fisik tak memungkinkan,” mungkin inilah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan kondisi yang dialami SH saat ini.

Keinginannya untuk bersekolah dan bermain bebas seperti rekan-rekan sebayanya begitu tinggi, namun apalah daya kondisi fisik menjadi penghalang utama baginya. Hingga terpaksa, SH mengorbankan dirinya untuk tidak menikmati dunia pendidikan.

Akhibat terus memburuknya kondisi fisik yang dialami SH ini, terpaksa orang tuanya mengaku enggan mendaftarkan putrinya itu ke sekolah, sebab takut jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan pada anak mereka apabila dipaksakan untuk bersekolah.

“Anak ini memang punya kamuan keras untuk bersekolah. Dan Kami juga sangat menginginkannya demikian, bisa bersekolah dan bebas bermain seperti anak-anak lain yang seusianya. Dia sendiri pernah meminta untuk sekolah, tapi kami tolak karena kondisinya ini. Kami takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada dirinya,” ungkap Yasinta sambil mata berkaca-kaca.

Orang tua ekonomi lemah

Keadaan ekonomi rupanya menjadi salah satu faktor kendala utama untuk melakukan perawatan medis bagi SH.

Sehat atau bebas dari keterbelakangan oleh karena sakit adalah tentu menjadi keinginan atau harapan dari semua orang dibumi ini, termasuk bagi SH dan orang tuanya. Namun lagi-lagi, keadaan ekonomi lemah menjadi salah satu factor kendala utama bagi keluarga ini untuk melakukan perawatan medis bagi SH.

“Kami pernah bawah anak ini ke dokter dan Kami disuruh untuk merujuknya ke salah satu rumah sakit di Denpasar-Bali. Namun, bagaimana kami bisa turuti karena kami tak punya biaya,” tutur Yasinta Setia ibu kandung SH.

Keluarga hanya bisa berpasrah

Ketiadaan biaya perawatan medis membuat orang tua SH akhirnya hanya bisa berpasrah pada nasib, sembari berharap kepada Pemerintah, serta uluran kasih dari semua pihak untuk meringankan langkah penyembuhan dari anak mereka (SH).

“Kami hanya bisa berpasrah dan berharap kepada Pemerintah dan semua pihak, agar anak kami bisa tertolong dan segera sembuh dari sakitnya ini,” tutup Yasinta Setia.