678 Kasus HIV dan AIDS Terjadi di Belu, Tertinggi Kecamatan Atambua Selatan

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Sebanyak 678 kasus HIV dan AIDS terjadi di Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan Negara Indonesia dengan Timor Leste.

Jumlah kasus itu akumulasi sejak tahun 2013 sampai dengan bulan Oktober 2019 sesuai data observasi pihak Komisi Penggunaan Aids Daerah (KPAD) Belu.

Hal itu disampaikan Koordiantor Program KPAD Belu, Marsel Siga kepada media disela-sela pelatihan SALT, Kamis (12/3/2020).

Menurut Siga, berdasarkan data yang dimiliki KPAD Belu kasus HIV Aids terbesar di empat Kecamatan antara lain, Kecamatan Kota, Kakulik Mesak, Atambua Selatan dan Atambua Barat

“Kasus tertinggi tersebar di Kecamatan Atambua Selatan yakni 114 kasus kemudian Kakuluk Mesak 109 kasus, Atambua Barat 105 kasus dan Kota Atambua 85 kasus,” urai dia.

“Dari jumlah 678 kasus HIV AIDS di Belu tercatat sebanyak 72 orang telah meninggal dunia,” tambah Siga.

Dari jumlah itu paling banyak berprofesi ibu rumah tangga 262 kasus, kemudian pekerja swasta 92 kasus, petani 85 kasus, ojek 36 kasi, TKI 33 kasus, sopir 30 kasi, tidak kerja 28 kasus, PNS/TNI/POLRI 26 kasus, guru 21 kasus, mahasiswa 12 kasus, WPS 11 kasus, lain-lain 29 kasus.

Potensi penularan HIV ditengarai karena tingginya mobilitas penduduk, meningkatnya jumlah pekerja seks dan murah, pengiriman TKI tanpa dibekali informasi HIV AIDS cukup, peredaran narkoba.

Kasus itu memerlukan upaya pencegahan dan penanggulangan secara terpadu dan berkelanjutan untuk menyelamatkan usia produktif maupun ibu rumah tangga dan anak.

Lanjut Siga, pihak terus melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan melalui sosialisasi serta terapi ARV. Selain itu
pemetaan terhadap populasi kunci pendamping, pemberdayaan terhadap odha dan warga dalam hal ini WPA (Warga Peduli Aids).

“Kita juga lakukan edukasi dan penjangkauan terhadap warga yang terinveksi, memberikan sosialisasi serta terapi ARV,” ucap dia.