Rendahnya Kualitas Angkatan Kerja Pemicu Masalah Ketenagakerjaan di NTT

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Persoalan atau masalah ketenagakerjaan di wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini adalah rendahnya kualitas angkatan kerja.

Hal ini dapat dilihat dari tingkat prosentase angkatan kerja yang dicapai dalam beberapa hal. Antara lain, dari sisi tingkat pendidikan, angkatan kerja NTT 55,55 persen masih berpendidikan sekolah dasar.

Tingkat pengangguran terbuka masih 3,01 persen dari angkatan kerja, setengah penganggur 48,55 persen dari jumlah orang yang bekerja, pekerja di sektor informal 76,04 persen dan kelompok pekerja keluarga tanpa upah mencapai 26,51 persen.

Demikian Wakil Bupati Belu J. T Ose Luan dalam sambutan sekaligus membuka Rapat Koordinasi Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tingkat Provinsi NTT di Hotel Matahari Atambua, Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL, Kamis (27/02/2020).

Dikatakan, masalah ketenagakerjaan yang sangat krusial dihadapi NTT saat ini adalah tingginya jumlah tenaga kerja yang berangkat bekerja ke luar negeri dan ke luar provinsi NTT secara non prosedural.

“Tenaga kerja non prosedural yang berhasil kita cegah, tangkap dan pulangkan ke daerah asal baik di Bandara El Tari maupun Pelabuhan Laut Tenau jumlahnya cukup signifikan. Akan tetapi tak kunjung surut bahkan terjadi hampir setiap minggunya,” ucap Ose.

Masih menurut mantan Sekda Belu itu, terkait koperasi permasalahan di Indonesia dapat dilihat dari dua sisi. Dari sisi eksternal, corak pekerjaan koperasi cenderung semakin fleksibel, freelancer atau kemitraan, ekonomi digital tumbuh seiring dengan pertumbuhan infrastruktur informatika-teknologi, arus modal, barang dan jasa lintas negara, e-commerce 94 persen barang import, investasi asing di unicorn/decacorn dan revolusi industry 4.0 (Four Point Zero).

Sedangka dari sisi internal, koperasi mengalami sindrom penuaan, tidak dikelolah secara profesional dan belum mengembangkan inovasi sehingga terjebak zona nyaman.

“Model kelembagaan koperasi mengalami stagnasi, tidak sekedar melayani kebutuhan anggota tetapi harus menciptakan enterpreneur, lapangan kerja dan kekayaan,” kata dia.

Terkait itu, solusi guna mengatasi permasalahan yang timbul, ditekankan pentingnya strategi yang komprehensif untuk memodernisasi dan menjawab tantangan zaman, diantaranya mengembangkan model-model bisnis dan kelembagaan baru untuk koperasi melalui pendekatan ekonomi digital berbasis inovasi.

Kemudian tata kelolah profesional, penguatan koperasi sektor riil, regenerasi pelaku koperasi dengan pembaharuan koperasi mahasiswa, koperasi pesantren, koperasi jemaat gereja dan komunitas kreatif lainnya.

Hadir dalam kegiatan rakor tersebut, Kepala Dinas Koperasi Propinsi NTT Sylvia R. Peku Djawang serta 42 orang peserta mewakili setiap Kabupaten/Kota se-NTT.