Penyaluran Pinjaman Fintech Lending Baru Rp105,67 Miliar

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Tingkat penyaluran pinjaman fintech lending di Kupang masing sangat kecil yakni hanya Rp105,67 miliar atau 0,13 persen dari total penyaluran nasional Rp81,49 triliun.

Direktur Penyaluran, Perizinan dan Pengawasan Financial Technology Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hendrikus Passagi sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Jumat (28/2/2020).

Hendrikus mengatakan, penyaluran pinjaman di luar Pulau Jawa termasuk di Kupang mencapai Rp11,67 triliun dari total nasional. Sedangkan penyaluran di Pulau Jawa mencapai Rp69,82 triliun atau 85,68 persen.

“Pengguna pinjaman fintech lending di Kupang juga masih sangat sedikit yakni 30.000 pengguna. Diduga, faktor sosialisasi menjadi penyebab rendahnya penyaluran dan pengguna pinjaman fintech,” kata Hendrikus.

Ia menyampaikan, saat ini jumlah penyelenggara teknologi finansial (tekfin) atau fintech peer to peer (P2P) lending sebanyak 161 penyelenggara. Dari jumlah tersebut, 25 penyelenggara tekfin telah memiliki status berizin. Beberapa waktu lalu, pihaknya terpaksa mencabut tiga fintech kerena bermasalah seperti berkinerja buruk.

“Sebenarnya terhitung sejak tahun 2017 sampai sekarang, sebanyak 15 fintech sudah dicabut tanda daftar di Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI),” papar Hendrikus.

Tentang bunga pinjaman, ia berargumen, sebenarnya bergantung pada kesepakatan antara fintech lending dengan peminjam atau pengguna. Bila terjadi kredit macet, denda pinalti tidak boleh lebih dari 100 persen nilai pinjaman.

Wakil Ketua Umum AFPI, Sunu Widyatmoko mengatakan, untuk mewujudkan perekonomian digital yang merata di seluruh Indonesia, AFPI menyelenggarakan FinEast 2020 di Kupang. Dipilihnya Kupang menjadi tempat kegiatan mengingat penyaluran pembiayaan fintech lending yang masih rendah, yakni hanya 0,13 persen dari total penyaluran nasional.

“Padahal perekonomian NTT sangat potensial untuk terus bertumbuh melalui dukungan terhadap pelaku UMKM,” ujar Sunu.

Ia menegaskan, FinEast di Kupang menjadi komitmen berkesinambungan antara AFPI bersama OJK. Tujuannya, mendorong para penyelenggara fintech lending mulai menyasar ke seluruh wilayah Indonesia, tidak melulu terpusat di Pulau Jawa. Yang terpenting dari kegiatan ini adalah edukasi dan literasi mengenai keuangan, terutama fintech lending, dapat sampai ke masyarakat dengan baik.

“Kami juga ingin mengimbau para penyelenggara untuk berkontribusi dalam pemerataan perekonomian digital dengan segera membuka layanannya di Indonesia Timur, salah satunya di Kupang, NTT,” tandas Sunu.

Ia menambahkan, penyaluran fintech lending ini diutamakan untuk mendanai kegiatan yang sudah dijalankan pelaku UMKM. Syarat pinjaman sangat sederhana yakni bisa akses internet dan memiliki rekening bank. Namun bagi pelaku usaha yang mengajukan nilai pinjaman besar, ada syarat lain seperti fintech lending melakukan tatap muka.

“Kami tidak disamakan dengan rentenir online. Kehadiran fintech lending untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Tenor pinjaman lebih singkat, yakni di bawah satu tahun dengan nilai bunga 0,8 persen per hari dari nilai pinjaman,” terang Sunu. (ntt-lr)