Disinyalir Ketiadaan Alat Infus Set, 1 Pasien Anak Kasus DBD di RSUD Atambua Meninggal

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Seorang anak (6) penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) meninggal dunia di RSUD Mgr. Gabriel Manek, Svd Atambua, Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL.

Korban berinisial FSS pelajar PAUD warga Haliwen, Desa Kabuna, Kecamatan Kakuluk Mesak meninggal akibat DBD, Rabu (26/2/2020) sekitar magrib. Korban pasien anak yang sedang dirawat bersama beberapa pasien kasus DBD meninggal setelah hari keempat dirawat di rumah sakit.

Berdasarkan data pihak RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua hingga saat ini, tercatat ada sembilan (9) kasus positif demam berdarah yang sementara menjalani perawatan intensif di ruangan Dahlia bangsal anak.

Informasi yang berhasil dihimpun dari sumber media Rabu malam menyebutkan, kematian bocah 6 tahun pasien DBD disinyalir ketersediaan atau stok infus set (alat untuk meneteskan infus yang dihubungkan dengan infus pump) di rumah sakit tidak sama merek dalam sebulan terakhir ini.

Kendala tersebut menyebabkan pihak medis yang menangani pasien DBD selama ini mengalami kewalahan dalam pelayanan terkait minimnya peralatan dimaksud untuk menangani pasien DBD yang menjalani perawatan.

Ketidakcocokan merk infus set dengan infus pump terpaksa membuat pihak medis dalam pelayanan memberikan cairan kepada pasien hanya dilakukan secara manual yang bisa saja tidak akurat, karena jika dengan alat itu akan diketahui takaran cairannya. Korban pasien DBD masuk rumah sakit lantaran mengeluh nyeri pada perutnya sejak sore.

Terpisah Kabid Penunjang RSUD Atambua, Henny Nahak saat dikonfirmasi awak media, Kamis (27/2/2020) menuturkan ketersediaan infus set untuk penanganan pasien anak penderita DBD ada, hanya saja tidak cocok merknya.

“Ketersediaan infus set di RS bukan tidak ada sama sekali, tetapi kebetulan yang tersedia (ada) tidak cocok dengan infus pump yang digunakan pasien,” ujar dia.

Lanjut Nahak, masalah ketersediaan infus set bukan tidak ada sama sekali. Kita mempunyai tetapi kebetulan sekali yang ada, yang tersedia itu tidak cocok dengan infus pump yang sedang dipakai di pasien.

“Memang itu kemarin ada sedikit kesulitan tetapi infus tetap. Tadi malam sudah ada, sudah tersedia. Jadi kita berusaha kalau tidak ada di satu perusahaan kita coba untuk cari di perusahaan lain. Atau misalnya kalau perusahaan jauh, kita coba untuk pinjam dulu di RS terdekat lain. Selalu seperti itu,” sebut dia.

Saat ditanyai terkait kematian bocah pasien DBD semalam lantaran ketiadaan alat infus set, Kabid Penunjang itu membantah pasien meninggal bukan karena ketiadaan infuset tersebut.

“Kalau terkait pasien kemarin (meninggal) saya sangat yakin bukan karena alat itu (infuset). Adik itu bukan tidak dapat cairan sama sekali, dia menggunakan infus set yang agak sedikit berbeda,” terang dia.

Tambah Kabid Pelayanan RS Atambua Sipri Mali, saat ini pihak RSUD Atambua tengah merawat kurang lebih sepuluh pasien anak penderita DBD.

Diuraikan, dari hasil lab 10 pasien positif DBD. Sementara yang di rawat di ruangan ini (ruang Dahlia) ada sebanyak 9 pasien, sementara 1 pasien sementara di ICU. “Dari sepuluh ini ada satu pasien yang kritis (rujukan) dari RS Sito kemarin sore tetapi kondisinya sudah membaik,” terang Sipri.

Disaksikan media di ruangan Dahlia bangsal anak, pasien anak penderita cukup banyak. Terbukti tiga pasien kasus DBD jalani perawatan di lorong dalam ruangan bangsal anak itu lantaran delapan kamar semua terisi pasien anak penderita DBD.