Serangan Ulat Grayak Terus Meluas, Pemerintah NTT Bentuk Posko

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Pemerintah NTT mengambil kebijakan membentuk posko penanganan serangan hama ulat grayak terhadap tanaman jagung karena areal tanam akibat serangan ulat asal Amerika itu terus meluas.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Jhon Oktovianus sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Kamis (20/2).

Jhon mengatakan, posko penanganan hama ulat grayak tersebut terbentuk di semua kabupaten, walaupun belum semua kabupaten sudah terpapar hama dimaksud. Sudah sekitar 10.563 lebih hektare dari 680.696 hektare luas tanaman jagung milik petani yang dilaporkan sudah terserang hama ulat grayak.

“Areal tanaman jagung petani yang terserang hama ulat grayak ini tersebar di 16 kabupaten,” ungkap Jhon.

Ia mengatakan, luas areal tanaman jagung yang paling banyak terserang hama ulat grayak antara lain, Flores Timur seluas 4.585 hektare. Sikka seluas 2.121 hektare dan Lembata seluas 1.908 hektare. Sedangkan kabupaten yang belum terserang hama ini sesuai laporan yang diterima adalah Manggarai, Alor, Rote Ndao, Malaka serta Kota Kupang yang belum ada laporan.

Menurut Jhon, luas areal tanaman jagung yang paling banyak terserang hama ulat grayak ini adalah Kabupaten Flores Timur yakni mencapai 4.585 hektare. Disusul Kabupaten Sikka seluas 2.121 hektare dan Kabupaten Lembata seluas 1.908 hektare.

“Posko yang dibentuk itu bertugas melakukan pemantauan dan pengendalian ulat-ulat yang menyerang tanaman jagung di wilayah masing-masing,” ungkap Jhon.

Ia menjelaskan, pengendalian hama ulat grayak tersebut berupa pengamatan tentang kepastian serangan hama,
dan pengendalian hama secara fisik, yakni tangkap dan bunuh. Kegiatan pengendalian melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk anak-anak sekolah.

“Waktu pengendalian yang paling bagus adalah pagi hari sebelum matahari terbit,” papar Jhon.

Lebih lanjut ia menyampaikan, kegiatan pengendalian fisik disertai dengan pengendalian agronomis dilakukan dengan menggunakan bumbung bambu. Tujuannya, menjebak hama tapi melindungi musuh alami.

“Penggunaan pestisida secara selektif merupakan alternatif terakhir dalam penanganan hama ulat grayak,” terang Jhon.(ntt-lr)