Instalasi Boawae Jual Babi Beli Pakan Babi

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembibitan Ternak dan Produksi Makanan Ternak milik Pemerintah NTT di instalasi Boawae terpaksa menjual ternak babi yang ada untuk membeli pakan babi.

Kepala UPT Pembibitan Ternak dan PPT Instalasi Boawae, Bambang Permana sampaikan ini kepada tim Komisi II DPRD NTT ketika berkunjung ke instalasi itu, Kamis (14/2).

Ia menjelaskan, penyedian pakan ternak sedikit mengalami keterlambatan karena menggunakan sistem lelang yang memakan waktu cukup lama. Memang periode Januari sampai Mei bisa teratasi karena pihaknya bisa memproduksi pakan sendiri. Namun periode April sampai Juni, mengalami kekosongan pakan karena keterlambatan lelang.

“Mengatasi kekosongan ini, kami terpaksa harus menjual babi yang ada untuk membeli pakan,” kata Bambang.

Ia menyampaikan, rekanan baru bisa menyediakan pakan pada Agustus. Walau demikian, rekanan hanya mampu memenuhi 41,44 persen atau 24 ton dari 60 ton yang mesti disiapkan.

Ketua Instalasi Boawae, Sergi Wea juga menyebutkan beberapa hambatan dalam mengelola instalasi tersebut. Saat ini hanya diurus oleh sembilan dari seharusnya 25 orang. Kekurangan tenaga kerja ini tentunya dirasakan cukup berat.

“Kami minta bantuan tambahan tenaga kerja. Karena bukan hanya mengurus dua jenis ternak, namun juga mengerjakan hijauan makan ternak (HMT) tambahan untuk ternak seluas 44,5 hektar,” papar Sergi.

Lebih lanjut ia menyebutkan permasalahan lain yang dihadapi seperti kekurangan air sehingga sangat dibutuhkan adanya sumur bor. Pagar pembatas yang selalu dirusak masyarakat yang ingin memasukan ternaknya ke dalam kawasan instalasi ini.

Anggota Komisi II DPRD NTT, Thomas Tiba merekomendasikan beberapa aspek terkait sejumlah permasalahan yang dihadapi. Terkait sumber daya manusia (SDM) tenaga kerja, harus ada kajian beban kerja yang jelas sehingga harapan dari target bisa terjawab. Tenaga kerja harus yang profesional pada bidang ini, karena SDM manjadi hal yang sangat penting.

Selain itu, menyangkut manajemen pengerjaan, hendaknya sistem pengelolaan harus difasilitasi dengan baik. Tenaga manusia boleh kurang namun harus didukung dengan perlengkapan tambahan yang memadai.

Thomas Tiba menyatakan, air merupakan sumber kehidupan. Karena itu harus disiapkan laporan resmi guna dibantu pada rapat komisi bersama mitra. Target pendapatan yang hendak diperoleh harus jelas.

“Segala temuan di lapangan ini akan menjadi catatan penting yang akan dicari jalan keluar agar persoalan yang dihadapi segera terselesaikan,” tandas Thomas Tiba. (ntt-lr)