Warga Geram Dituding PLH Sekda Belu “Curi” Maek Bako Milik Pemkab di Hutan Jati Nenuk

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta menuding warga yang berdomisili sekitar kawasan Hutan Jati Nenuk, Desa Naekasa, Kecamatan Tasifeto Barat “mencuri” maek bako (porang) milik Pemerintah Kabupaten Belu di hutan jati untuk ditanam di lahan warga.

Ungkapan itu dilontarkan PLH Sekda Belu Marsel Mau Meta setibanya di lokasi hutan jati Nenuk saat Gubernur NTT, Viktor Laiskodat meninjau budidaya porang milik warga yang sukses, Selasa (11/2/2020).

Di lokasi budidaya maek bako salah seorang anggota Pena Batas RI-RDTL sempat menuturkan bahwa lokasi budidaya porang yang ada di kawasan hutan jati Nenuk murni milik warga bukan pemerintah.

Sontak PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta disaksikan beberapa media membantah bahwa warga telah “mencuri” maek bako milik pemerintah Belu yang ditanam di kawasan hutan jati.

Warga pemilik maek bako membantah tudingan oleh PLH Sekda Belu yang menuduh mereka telah mencuri tanaman porang milik pemerintah yang ditanam di kawasan hutan jati sebelah pos Polisi.

“Itu tidak Benar. Program pemerintah Kabupaten Belu baru dimulai sejak tahun 2017. Sedangkan masyarakat sudah mulai menanam Maek Bako sejak tahun 2012,” ujar Yosefa de Jesus pemilik lahan bersama warga kelompok ketika dikonfirmasi awak media di lokasi sesaaat setelah kepergian rombongan Gubernur NTT.

Menurut dia, mereka mendapatkan Maek Bako dari hutan yang sudah tumbuh liar sejak tahun 2012. Saat itu, mereka mencari kunyit untuk ditimbang sembari mengumpulkan Maek Bako untuk ditanam di lahan hutan jati.

“Saat itu, kami tahu bahwa Maek Bako sudah ada harga, makanya kami cari untuk tanam di sini,” jelas dia.

Dikatakan, memang saat ini mereka menanam di lokasi hutan lindung. Namun, karena mereka mendapat ijin dari pihak kehutanan dengan catatan tidak menebang pohon, maka mereka pun mulai menanam maek bako dan selama ini kami didampingi pihak Kehutanan.

“Kami memang tanam di lahan milik pemerintah, tapi kami tidak curi maek bako milik pemerintah,” tandas de Jesus.

Sementara itu PLH Sekda Belu, Marsel Mau Meta saat dikonfirmasi mengemukakan, maksud dari pernyataan tersebut bukan menuding masyarakat mencuri. Tetapi mengambil porang yang ditanam pemerintah Kabupaten Belu di hutan jati Nenuk.

“Jangan bilang curi. Kasihan orang. Orang sudah kerja setengah mati kita bilang curi lagi,” kata dia.

Jelas dia, masyarakat mungkin ingin membudidaya sendiri Maek Bako, sehingga mereka mengambil dari lahan yang sudah ditanam oleh Pemerintah Kabupaten Belu. Dengan begitu, masyarakat akan dengan mudah untuk memanen dan menjual Maek Bako.

Dikatakan, kalau mereka ambil mungkin mereka butuh. Mereka mungkin ingin memiliki sendiri. Kalau mereka ingin rawat sendiri, mereka ambil tidak masalah to? Karena mereka pingin rawat sendiri, kemudian nanti mereka panen sendiri.