Kematian Akitu Dasilva, Keluarga Korban Minta Penjelasan Prosedur Penahanan. Sebelum Meninggal, Korban Diamankan di Mapolres TTU

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Fransisko Amaral Dasilva alias Akitu (35), yang ditemukan tak sadarkan diri di pinggir jalan, tepatnya di jalan Imam Bonjol, samping Polres Timor Tengah Utara, Kelurahan Kefamenanu Tengah, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara, pada Rabu (01/01) pukul 08.30 wita, akhirnya meninggal pada pukul 16.30 wita setelah sebelunya sempat mendapat perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)Kefamenanu.

Kematian Akitu hingga pemakamannya yang awalnya diterima keluarga sebagai suatu peristiwa Iman, berubah menjadi suatu teka teki. Pasalnya berkembang informasi ke keluarga korban bahwa malam sebelum korban ditemukan (31/12), korban berada di rumah polisi. Korban dijemput tim Rajawali Polres TTU di rumah Camat Kota, Yonas Tameon di Koko, Bansone. Yang mana sebelumnya korban diduga pencuri yang akan beraksi dari belakang rumah camat kota sehingga dilaporkan.

Akhirnya atas informasi seorang anggota polisi, korban dijemput tim Rajawali Polres TTU dan ditahan di Polres. Tidak diketahui dimana korban diamankan, apakah dalam sel atau di ruang piket. Yang jelas bagi keluarga korban, polisilah yang paling bertanggungjawab atas kematian korban. Pasalnya korban dijemput tim Rajawali dari rumah camat Kota Yonas Tameon dan dibawa ke rumah polisi.

Berdasarkan infornasi itulah keluarga korban mendatangi Polres TTU pada Selasa(21/01). Keluarga korban meminta penjelasan pihak kepolisian terkait prosedur penjemputan, penahanan, alasan korban dilepas tanpa diketahui pihak keluarga.

“Saat itu, saudara saya tidak sedang mabuk parah. Akhir – akhir ini korban memang mengalami perubahan yang tidak dimengerti keluarga. Sehingga dengan kondisi demikian, pihak kepolisian dalam memulangkan korban juga perlu ada pemberitahuan ke keluarga korban. Kalau hanya dijemput beberapa jam kemudian dilepas, untuk apa dibawa ke Polres apalagi ditahan. Kami curiga, Kapolres tidak tahu saudara kami dijemput dan dibawa ke Kantor Polisi. Semua orang, termasuk Kapolres hanya tau bahwa saudara kami meninggal karena mabuk akibat kecelakaan lalu lintas. Tapi justru dia tidak mengendarai sepeda motor. Kalau dia terjatuh saat sedang berjalan kaki, apakah normal disekujur tubuhnya ada luka gores bahkan sampai patah tulang leher belakang”, ungkap saudara kandung korban, Asatu Dasilva.

Kasus kematian korban yang sudah menjadi konsumsi publik di media sosial membenarkan informasi penjemputan korban di rumah Camat Kota.

Informasi yang berhasil diperoleh media bahwa korban pertamakalinya ditemukan dipinggir jalan tepatnya di samping Polres TTU oleh anggota Polres TTU, Brigpol Arsyningsih, kemudian diinfokan ke piket Penjagaan Polres TTU dan pada saat itu juga dua anggota, yakni Brigpol Kosam Nesnay dan Bripda Ruyan mendatangi Tempat Kejadian Perkara (TKP), dan langsung membawa Akitu ke RSUD Kefamenanu guna mendapat pertolongan medis.

Korban sempat ditolong anggota Polres TTU, dibawa ke RSUD setempat guna mendapat perawatan.

Sebelum Akitu menghembuskan nafas terakhir, pada pukul 15.00 wita Kasat Intelkam IPTU MAHFUD, S.H. bersama anggota IK mengecek langsung kondisi Fransisko Amaral Dasilva alias Akitu di RSUD Kefamenanu dan sempat bertemu dengan Maya Lorens ( Calon istri ) dan Sanca Da Silva ( adik kandung).

Saat korban menghembuskan nafas terakhirnya, dokter yang menangani korban mengatakan bahwa korban mengalami cedera kepala berat dimana sebelumnya yang bersangkutan pernah mengalami kecelakaan pada tanggal 28 Desember namun tidak ada pengobatan lanjutan. Sehingga efek dari kecelakaan itu mengakibatkan benturan keras di kepala sampai terjadi pecah pembulu darah.

Sementara dari keluarga korban yang ikut merawat korban mendapati luka gores pada belakang leher, tangan, dada, betis kaki kanan, dan jari kaki kiri serta kaki kanan korban.

Video Viral temuan korban jadi petunjuk bahwa korban berada di kantor Polisi pada malam sebelum ditemukan meninggal.

Beberapa kejanggalan kematian korban dibeberkan keluarga, diantaranya, Video viral berdurasi 1 menit 37 detik yang tersebar si medsos, saat salah satu anggota polisi merekam kejadian tersebut sambil berkata “Dia yang tadi malam to abang….”. Menurut saudara kandung korban, Asatu Dasilva bahwa suara di menit pertama detik ke delapan yang terekam membuktikan bahwa anggota polisi itu tau kejadian semalam saat korban dibawa ke Polres TTU. Namun video viral lainnya, telah dipotong klip saat polisi mengatakan korbanlah yang semalam bermasalah. “Videonya sama, tapi mengapa ada potongan klip itu sedangkan sudah terlanjur tersebar video lengkapnya.

“Kejanggalan lain, jika korban ditahan pihak kepolisian, apakah korban di sel. Kalau bukan di sel, dimana dia diamankan. Piket ruang tahanan yang sempat dihubungi keluarga korbanpun mengaku tak ada tahanan masuk malam itu”, aku Asatu Dasilva.

Pihak keluarga meminta agar pihak kepolisian segera mengungkap kasus yang menyita perhatian besar bukan saja warga kabupaten TTU tetapi juga warga NTT secara keseluruhan.