Kasus Penghinaan Terhadap Pastor Paroki, Kuasa Hukum Bersama Seratus Lebih Umat Datangi Polsek Insana

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Sebanyak seratus lebih umat asal Paroki Kiupukan Kecamatan Insana, Kabupaten Timor Tengah Utara mendatangi Kepolisian Sektor (Polsek)Insana di Kiupukan, Jumat (10/01/2020).

Tujuan kedatangan umat bersama Korban Penghinaan, Pastor Paroki Kiupukan Romo Donatus Tefa, Pr ke Polsek Insana didampingi Kuasa Hukum Gereja Katolik, Keuskupan Atambua, Yoseph Maisir , SH. meminta kejelasan penanganan kasus penghinaan yang dilaporkan umat. Pasalnya sudah sejak Oktober 2019 laporan penghinaan tersebut diterima pihak kepolisian tapi belum diketahui perkembangannya.

Dalam kesempatan tatap muka dengan Kanitres Polsek Insana, Aipda Barry G.J Gwedjor, Romo Donatus Tefa, Pr selaku korban berharap agar kasusnya segera dituntaskan. Menurut Romo Don, kasus penghinaan yang menimpa dirinya sangat berpengaruh pada umat. Ia juga mengaku sangat kesulitan meredam umat yang ingin mengambil sikap main hakim sendiri lantaran tidak terima dirinya diperlakukan secara tidak manusiawi di depan umum.

“Sebagai korban saya merasa malu sekali. Saya kemana – mana ini badan geli, walaupun bercanda tapi orang bilang kera sudah datang. Kalau saya pribadi tidak punyajabatan sebagai Pastor Paroki itu tidak masalah. Tapi ini saya tinggal tetap disini untuk umat yang tiap hari berpapasan terus melayani mereka dan mereka ingat ada sesuatu yang kurang baik, saya merasa sangat malu. Dan ketika saya melayani Ekaristi kemudian terpikir bagaimana saya diperlakukan di depan umum, ini menjadi beban batin tersendiri. Penghinaan macam ini secara pribadi berpengaruh sekali untuk umat saya. Sehingga kami minta kejelasan penanganan kasus ini, kalau ditangani secara baik kitajuga tidak mau buat masalah. Bukan saja saya sebagai pemimpin, tapi kalau siapapun yang mengeluarkan kata – kata seperti itu untuk orang lain rasanya sangat tidak manusiawi”, tandas Romo Don.

Dan sebagai bentuk kerjasama Gereja Katolik dengan Pihak Kepolisian dalam upaya penegakan hukum, Yoseph Maisir, SH selaku Kuasa hukum Gereja Katolik Keuskupan Atambua menyatakan memberikan dukungan moral kepada pihak kepolisian dalam upaya mengusut tuntas kasus penghinaan yang dilaporkan umat. “Kedatangan kita itu yang pertama untuk Institusi Polri, khususnya Polsek Insana, kami meminta agar memproses secara hukum terkait laporan penghinaan terhadap Romo Donatus Tefa, Pr.

Selain menanyakan perkembangan kasusnya, sekaligus kami memberi dukungan moral kepada aparat kepolisian bahwa dalam kasus ini aparat kepolisian tidak sendiri. Aparat kepolisian bersama Gereja Katolik Keuskupan Atambua dan bersama umat Keuskupan Atambua teristimewa umat Paroki Kiupukan. Kita memberi garansi penuh bahwa sepenuhnya mendukung kinerja aparat Kepolisian”, ungkap Maisir.

Disampaikan Maisir juga, alasan mereka meminta kejelasan penanganan dari aparat kepolisian, karena di luar sana umat tidak bisa diredam emosinya. Ia juga merasa bertanggungjawab menjaga kenyamanan korban yang adalah tokoh agama di paroki Kiupukan.

Baca Juga : Menghina dan Memaki Pejabat Gereja di Depan Umum, Goris Taneo Dipolisikan Umat

“Pak Kanit, terus terang saya capek dan sangat kewalahan, umat mau mengambil sikap yang menurut saya sudah di luar koridor hukum. Berulang kali saya datang ke sini untuk meredam amarah mereka. Kita menganitisipasi segala kemungkinan, saya berusaha meredam amarah mereka tapi ketika saya pulang, apa yang akan terjadi. Karena saya juga punya keterbatasan, tidak bisa menjangkau umat Paroki Kiupukan satu per satu. Sebagai bagian dari penegak hukum, tugas saya sebagai advokat adalah memberi pengertian kepada umat agar tidak main hakim sendiri. Ini semua karena mereka menilai polisi lambat menangani kasus ini sehingga mau mengambil sikap sendiri. Meskipun sudah saya jelaskan bahwa itu domainnya pihak kepolisian, namun perlu kita memaknai betul, selentingan – selentingan dari umat itu sebagai sesuatu yang serius dan perlu diwaspadai. Dalam konteks pidana, kami tidak mau ada kesan bahwa ada permainan dalam proses hukumnya. Mari kita bersama – sama menjaga citra kepolisian yang lagi bagus ini”, pintanya.

Kanit Reskrim Polsek Insana, Aipda Barry. G.J Gwedjor

Diakhir audiens, Maisir kembali menekankan agar proses hukum kasus penghinaan tidak mandek.
“Kami percayakan kasus ini kepada aparat penegak hukum, semoga tidak mandek. Jika kasusnya mandek di sini kami akan lanjut beraudiens dengan Kapolres TTU”, pesan Maisir.

Sementara Kanit Reskrim Polsek Insana, Aipda. Barry G.J Gwedjor menyambut baik dukungan dan beberapa masukan dari Kuasa hukum korban dan umat. Setelah menyampaikan beberapa kendala keterlambatan proses hukum kasus penghinaan, Barry berkomitmen menindaklanjuti kasusnya sesuai aturan hukum yang berlaku.
“Terimakasih banyak bapak Romo, Kuasa Hukum dan orang tua semua. Saya sebagai Kanitres berterimakasih atas dukungan dan masukan yang baik untuk menunjang Kinerja kami di Polsek Insana. Intinya bahwa kami tidak tinggal diam dengan laporan yang masuk. Tetap Senin saya buat panggilan untul terlapor. Kasusnya memang sudah lama dilaporkan, tapi ada beberapa kendala sehingga belum ditindaklanjuti”, jelas Barry.

Adapun Kendala yang dihadapi Polsek Insana, yakni bertepatan dengan beberapa alat kerja yang mengalami kerusakan. “Kami sempat kewalahan karena beberapa akat kerja mengalami kerusakan tapi semua sudah kami atasi. Kami optimis kasus ini diproses sesuai aturan hukum yang berlaku dan akan tuntas sampai ke Pengadilan”, Jelas Barry.

Sebelumnya diberitakan, Gregorius Taneo alias Goris, umat Paroki Kiupukan Kecamatan Insana dipolisikan umat Paroki setempat, terkait tindak Pidana Penghinaan yang dilakukannya terhadap Pejabat Gereja, Romo Donatus Tefa, Pr selaku Pastor Paroki Kiupukan.

Menurut umat pelapor, Isak Tikneon tindakan tidak terpuji terlapor jelas ditujukan kepada Romo Donatus Tefa Pr disaksikan sekitar kurang lebih 100 umat yang sementara melakukan kegiatan pembersihan di Lingkungan Taman Doa, Gua Bitauni kecamatan Insana, pada Senin (16/09/2019) lalu. Terhadap Romo Donatus Tefa, pelaku menghina dan memaki dengan menggunakan kata – kata kasar.

Laporan Tikneon diterima pihak Polsek Insana dengan Laporan Polisi Nomor : LP /91/X / 2019 / Polsek Insana, pasal penghinaan.