Penggugat Sering Mangkir Sidang,Tergugat III Romo Gerardus Salu : Kuasa Hukum Penggugat Harus Menjunjung Tinggi Etika Profesi

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Sidang gugatan perdata, Nomor : 11/pdt G/2019/PN Kfm terkait kepemilikan tanah Bitauni yang berada di Kelurahan Bitauni kecamatan Insana kembali ditunda untuk ketiga kalinya.

Sidang gugatan perdata tersebut ditunda pasalnya, pihak penggugat dan kuasa hukum penggugat tidak hadir pada persidangan dengan agenda pembacaan replik di Pengadilan Negeri Kefamenanu, Senin (06/01/2020).

Atas beberapa kali terjadi penundaan sidang itu, para tergugat kesal lantaran merasa dipermainkan Kuasa Hukum penggugat, Manotona Laia, SH bersama Yardinus Hulu, SH dan para penggugat, yakni Gregorius Taneo, Gabriel Anunut dan Nikolaus Naikofi.

Kepada nttonlinenow, Pastor Paroki St. Theresia Kefamenanu, Romo Gerardus Salu, Pr sebagai tergugat III mengungkapkan kemarahannya.

“Kita boleh hadir terus, mereka malah enak-enakkan duduk di rumah. Kita sudah sangat capek dan merasa dipermainkan. Saya setuju bahwa kita harus setia dengan proses hukum, tapi kita juga wajib taat terhadap hukum itu sendiri”, ungkap Romo Gerardus Salu, Pr. Dari awal, sebagai Tergugat kami berkomitmen untuk setia terhadap seluruh proses persidangan hingga akhir. Sementara itu sebagai Penggugat kenapa tidak hadir. ” sesal Romo Deken Kefamenanu.

Romo Gerardus menilai para penggugat dan kuasa hukumnya telah mempermainkan peradilan dan menginjak harkat dan martabat Gereja Katolik.

“Selain telah mempermainkan peradilan, Para Penggugat dan Kuasa Hukumnya juga telah mempermainkan harkat dan martabat Para Tergugat termasuk harkat dan martabat Gereja Katolik Keuskupan Atambua. Dan untuk urusan tersebut, kita tidak akan mentolerir”, tandas Romo Gerardus.

Romo Gerardus juga meminta kepada dua kuasa hukum penggugat, agar tahu menjunjung tinggi etika profesinya. ” Hal tersebut tidak perlu terjadi apabila sebagai Kuasa Hukum menjunjung tinggi etika profesi. Kuasa hukum itu, ketika anda dipercayakan menjadi Kuasa Hukum, mestinya anda bertanggungjawab dengan cara hadir di setiap persidangan. Jangan seenaknya tidak hadir begitu. Seolah-olah kami hadir hanya untuk menyaksikan palu diketok untuk penundaan. Kami sudah sangat capek. Banyak urusan terbangkalai akibat sikap para penggugat seperti itu,” tandasnya.

Kekecewaan serupa juga disampaikan oleh Tergugat II, Romo Donatus Tefa, Pr. Menurutnya, apa yang dipertontonkan oleh Para Penggugat dan Kuasa Hukumnya mencerminkan sikap anggap remeh dan tidak menghargai. “Tidak ada dasar yang jelas tiba-tiba mereka menggugat. Dalam perjalanannya tiba-tiba mencabut gugatan dan menghilang tanpa alasan yang jelas. Ini sikap anggap remeh, tidak menghargai dan sangat tidak terpuji,” ungkap Pastor Paroki Kiupukan.

Romo Don melanjutkan, yang merasa kecewa dan marah bukan hanya Para Tergugat melainkan umat Katolik pada umumnya. “Bukan hanya kami yang marah. Umat juga kecewa dan marah dengan sikap Para Penggugat,” tegasnya.

Secara terpisah, Kuasa Hukum Keuskupan Atambua Yoseph Maisir, SH mengatakan, apa yang dirasakan oleh Para Tergugat adalah cerminan dari perasaan umat Katolik Keuskupan Atambua. “Sebagai Kuasa Hukum, saya mengetahui benar apa yang dirasakan oleh umat. Mereka sering mengungkapkan kekecewaan bahkan kemarahannya. Namun saya terus berupaya memberi pengertian,” ungkap Maisir.

Meski demikian, Maisir mengaku dirinya tidak dalam kapasitas untuk terus menerus memberi pengertian. “Selaku Kuasa Hukum, kapasitas kami adalah memperjuangkan hak-hak atau kepentingan-kepentingan hukum dari Klien, tentunya dari perpektif hukum. Soal apa yang dirasakan oleh umat, itu bukanlah domain kami,” ungkapnya.

Dilanjutkannya, yang paling bisa ia lakukan adalah memberi pemahaman kepada para Tokoh umat dengan harapan pesan yang sama bisa tersampaikan kepada umat. “Itulah yang bisa kami lakukan. Tentu kami tidak bisa menjangkau seluruh umat,” ujarnya.

Mengenai beberapa kali penundaan sidang, Maisir berharap agar Para Penggugat maupun Kuasa Hukumnya mengedepankan respect. “Marilah kita sama-sama menghargai proses yang sedang berjalan. Dan untuk rekan-rekan Kuasa Hukum Para Penggugat, marilah kita junjung etika profesi dan bersikap lebih professional,” pungkasnya sembari berharap sikap tegas dari Pengadilan terkait penudaan tersebut.

Sebagaimana yang terjadi pada Senin (6/1/2020) lalu, sidang dengan agenda Replik kembali ditunda akibat ketidakhadiran Para Penggugat dan Kuasa Hukumnya. Ini adalah penundaan yang kedua kalinya untuk agenda yang sama. Berdasarkan penundaan itu, sidang akan dilanjutkan pada Kamis (16/1/2020) mendatang. Dan untuk itu, Pengadilan berkewajiban untuk sekali lagi memanggil Para Penggugat berikut Kuasa Hukumnya.