Deklarasi Warga Peduli AIDS (WPA) Dua Kelurahan dan Enam Desa di Kabupaten Belu

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Sebagai upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS secara terpadu dan berkelanjutan demi menyelamatkan generasi bangsa, Development Bethesda YAKKUM membentuk komunitas warga peduli AIDS (WPA) di enam desa dan dua kelurahan dalam wilayah Kabupaten Belu.

Adapun enam desa dan dua kelurahan yang deklarasi WPA antara lain, Desa Tukuneno, Bakustulama Kecamatan Tasifeto Barat, Desa Fatuketi, Leosama Kecamatan Kakuluk Mesak, Desa Manleten, Silawan Kecamatan Tasifeto Timur serta Kelurahan Tulamalae dan Umanen Kecamatan Atambua Barat.

Hal tersebut disampaikan Koordinator Bethesda YAKKUM wilayah Belu, Yosafat Ician kepada media ketika dihubungi, Jumat malam (20/12/2019).

Dikatakan, pembentukan WPA setelah digelarnya pelatihan kepada perwakilan dari enam desa dan dua kelurahan tentang pengetahuan dan ketrampilan dasar berkaitan dengan HIV/AIDS yang berlangsung selama dua hari di hotel Nusantara II terhitung Kamis 19 hingga Jumat 21Desember lalu.

“Tujuan kegiatan memberikan pemahaman kepada peserta tentang situasi epidemi dan layanan HIV/AIDS di Kabupaten Belu. Memberikan pemahaman dan pendalaman materi tentang HIV AIDS dan IMS, pemahaman konsep dasar Warga Peduli AIDS, pemahaman dan ketrampilan tentang teknik komunikasi persuasif,” terang Ician.

Lebih lanjut dijelaskan, dalam pelatihan itu diberikan pemahaman tentang penyebaran HIV/AIDS di Belu, konsep warga peduli AIDS juga tentang upaya untuk mengintegrasikan pencegah dan penanggulangan HIV/ADIS dengan dana desa.

Dikatakan, inisiatif dan upaya membentuk WPA perlu didukung karena minimnya stakeholder yang terlibat dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Belu. Data KPA Belu sejak tahun 2013 sampai Desember 2019 terdapat 665 kasus.

“Dari kasus itu terdapat 262 IRT yang terinveksi HIV dan mayoritas ini berada di desa dan dengan keterbatasan informasi pengetahuan tentang HIV akhirnya mereka jadi korban,” ujar Ician.

Potensi penularan HIV ditengarai karena tingginya mobilitas penduduk, meningkatnya jumlah pekerja seks dan murah, pengiriman TKI tanpa dibekali Informasi HIV/AIDS yang cukup dan peredaran narkoba.

Meningkatnya kasus HIV/AIDS memerlukan upaya pencegahan dan penanggulangan secara terpadu dan berkelanjutan terutama untuk menyelamatkan generasi bangsa yang berusia produktif, ibu rumah tangga dan anak.

“Lewat pembentukan ini mereka mulai berikan informasi tentang HIV ke masyarakat dan mulai melakukan penjaringan mengamati warga yang beresiko tinggi lalu mendorong mereka melakukan tes HIV di setiap puskesmas dan bisa melakukan pendamping, penguatan kepada warga yang terkena HIV, dan itu yang akan kita kembangkan ke depan,” harap dia.

Kedepan lanjut Ician kita akan perkuat WPA dan kedepan dengan dinas PMD dan Kepala Desa untuk membicarakan keberlangsungan WPA untuk memperkuat kerja mereka di desa dengan mnegalokasikan dana dari dana desa untuk aktivitas mereka WPA.

Ditambahkan, kita akan bangun komunikasi dan koordinasi antar OPD seperti Dinas Nakertrans, Dinas Kesehatan untuk sinergi kedepan terkait pembekakan kepada tenaga yang akan bekerja ke luar daerah. Hal itu penting karena kontribusi terhadap peningkatan HIV di Belu salah satu sumber yakni warga yang bekerja di luar negeri.