Sekda Belu : Butuh Kerjasama Lintas Sektor Cegah Stunting

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Upaya pencegahan kasus stunting pada anak kurang gizi di wilayah Kabupaten Belu daerah perbatasan dengan Negara Timor Leste butuh kerjasama lintas sekrot terkait guna menurunkan angka stunting.

“Persoalan kasus ini serius butuh kerjasama dalam mengatasinya. Ini bukan tugas dinas teknis saja, tapi tugas bersama kita semua lintas sektor terkait,” tegas Sekda Belu, Petrus Bere saat membuka kegiatan Evaluasi Pokja Stunting Tingkat Kabupaten Belu di hotel Permata, Jumat (20/12/2019).

Dikatakan, pencegahan dalam upaya penurunan angka stunting harus lewat berbagai forum, sosialisasi dan edukasi yang terus dilakukan berulang-ulang kepada warga masyarakat.

“Cara melakukan pencegahan dengan cakupan zat besi bagi anak dan ibu, hindari asap rokok serta rutin melakukan pemeriksaan kandungan ke posyandu atau fasilitas kesehatan terdekat,” ujar Bere.

Dia menyampaikan terima kasih kepada tim Pokja stunting yang sudah bekerja tentunya selama tahun 2019. Evaluasi hari ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana kerjanya pokja menangani stunting di Kabupaten Belu.

Lanjut dia, ini menunjukkan bahwa di Belu masih ada sekitar 21, 20% dari anak yang di diukur ternyata masih banyak. Yang penting kita bekerja keras bagaimana caranya kita merapatkan barisan. “Makanya rapat ini untuk menyamakan persepsi sebagai bahan penting dapat kita minimalisir pesatnya yang gagal tumbuh,” kata Bere.

Ada dua hal yang ditemukan penyebab stunting yakni pertama asupan gizi, kurang jadi orang tua itu mengandung seharusnya dia harus butuh makanan gizi bukan hanya untuk pribadi untuk anak. Diharapkan hindari anak dari yang namanya penyakit serangan-serangan, penyakit kronis.

“Karena anak itu akan gagal tumbuh, ini butuh kerjasama koordinasi, integrasi di semua lini terkait kalau Dinas Kesehatan sendiri tentu tidak tidak bisa melaksanakan itu tapi harus bersama-sama,” ungkap Bere.

Sementara itu dalam laporan pantia, stunting merupakan kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1000 hari pertama kehidupan kondisi gagal tumbuh pada anak balita disebabkan oleh kekurangan asupan gizi.

Lanjut, dalam waktu lama serta terjadinya infeksi berulang dan kedua faktor penyebab ini dipengaruhi oleh pola asuh yang tidak memadai dalam 1000 hari penting dilakukan sedini mungkin untuk menghindari dampak jangka panjang yang merugikan.

Tujuan kegiatan ini mengevaluasi seluruh kegiatan Pokja dalam pelaksanaan intervensi penurunan stunting terintegrasi, mengkoordinasikan penyelenggaraan intervensi penting untuk mengoptimalkan sumber daya sumber dana dan pemutakhiran data manajemen, data publikasi.

Untuk diketahui hadir dalam kegiatan evaluasi tim koordinasi penurunan stanting dan aksi konvergensi ke-6 (manajemen data) Kabupaten Belu 41 orang perwakilan dinas dan lintas sektor serta narasumber Kadis Kesehatan Propinsi dan Kasubid Pemerintahan dan Politik pada Bapelitbang Propinsi NTT.