Menghina dan Memaki Pejabat Gereja di Depan Umum, Goris Taneo Dipolisikan Umat

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Gregorius Taneo alias Goris, umat Paroki Kiupukan Kecamatan Insana kabupaten Timor Tengah Utara dipolisikan umat Paroki setempat, terkait tindak Pidana Penghinaan yang dilakukannya terhadap Pejabat Gereja, Romo Donatus Tefa, Pr selaku Pastor Paroki Kiupukan.

Menurut umat pelapor, Isak Tikneon tindakan tidak terpuji terlapor jelas ditujukan kepada Romo Donatus Tefa Pr disaksikan sekitar kurang lebih 100 umat yang sementara melakukan kegiatan pembersihan di Lingkungan Taman Doa, Gua Bitauni kecamatan Insana, pada Senin (16/09/2019).

Kepada media ini, Tikneon mengisahkan Romo Donatus dimaki dan dihina terlapor dengan kata – kata jorok dan sangat kasar didepan umat. “Romo biadab kau. Kau berkoar – koar di atas mimbar seperti malaikat tetapi saat turun ke lingkungan sifat kau seperti seekor kera. Bahkan

sebelumnya juga terlapor secara berulang kali melakukan penghinaan terhadap korban sejak bulan Mei 2019 dengan mengumumkan ke salah satu umat yang juga sebagai saksi dalam kasus tersebut bahwa korban bersifat sangat biadab”, terang Tikneon yang ditemui di Pastoran Kiupukan, Kamis (05/12).

Atas peristiwa tersebut, pelaku penghinaan, Goris Taneo telah dipolisikan Isak Tikneon pada Senin (28/10)ke Polsek Kiupukan.

Laporan Tikneon diterima pihak Polsek Insana dengan Laporan Polisi Nomor : LP /91/X / 2019 / Polsek Insana, pasal penghinaan.

Korban yang dikonfirmasi langsung media ini membenarkan perbuatan terlapor. Dikisahkan korban, terlapor dengan geram memaki dan menghinanya dengan menunjukkan gaya ingin memukul korban di depan umat.

“Waktu itu kami ada kegiatan kerja bakti di Bitauni. Tiba – tiba seorang ibu berteriak melapor ke Goris (mungkin via telpon) bahwa saya dan umat sementara beraktifitas di lahan terlapor. 30 menit kemudian, terlapor tiba di lokasi dan melarang semua umat berhenti bekerja bakti. Berhenti, kau Romo penipu, pembohong, tipu umat, Kau bukan orang Insana kau datang dari Miomaffo tidak bawa tanah . Dia sempat tunjukan sikap mau pukul saya, sehingga saya sodorkan sebatang kayu dan meminta dia memukul saya menggunakan kayu itu namun dia menjawab saya dengan mengatakan kau asu…lu di atas mimbar berkotbah, berkoar – koar seperti malaikat tapi begitu turun ke lingkungan tindakan lu seperti seekor kera. Merasa terhina, saya menegur dia agar lebih santun dalam berbicara. Saat itu ada umat yang berusaha menjauhkan dia dari saya agar tidak terjadi perkelahian. Selain terhadap saya, dia juga mengancam akan memukul umat yang masih terus bekerja sambil terus memaki saya. Karena merasa tidak enak, kamipun bubar. Cerita penghinaan itupun berkembang dalam suatu acara sambut baru. Ternyata saat itu ada umat yang merekam insiden tersebut dan umat yang sempat menonton marah atas sikap terlapor dan langsung melaporkan kejadian tersebut ke Polsek Insana”, kisah Romo Donotus Tefa.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini, terlapor tidak memiliki hubungan baik dengan semua Imam dan tidak pernah mau mengikuti Misa di Gereja.

Bahkan dalam rekaman video keributan yang ditonton, terlihat dan terdengar dengan jelas terlapor berteriak tidak mengakui Gereja dan tidak butuh Gereja. “Saya tidak butuh Gereja, gereja – gereja semua penipu umat, saya tidak butuh lu…lu Imam yang urat malunya sudah putus. Lu urat malu sudah putus”, teriak Goris berulang kali di depan umat sambil menunjuk korban dan berlagak ingin memukul korban, sesuai yang ditonton dalam video viral berdurasi 1 menit 34 detik.

Kepala Kepolian Sektor Insana, Iptu Djibrael Daud Daka Besi yang dikonfirmasi melalui Kanitres Polsek Insana, Aipda Barry Gwedjor pada Sabtu (14/12/2019) membenarkan adanya kasus tersebut.

Menurut pihak kepolisian Sektor Insana, pelapor sudah diambil keterangan saat laporan diterima. Sementara korban, Romo Donatus Tefa, Pr bersama tiga saksi lainnya, Manek Taolin, Sabina Sau dan Vinsensius Bessi secara terpisah juga sudah diambil keterangannya pada Kamis (28/11/2019).

“Kami sudah memeriksa korban dan beberapa saksi. Dalam waktu dekat, terlapor juga akan dipanggil untuk menjalani pemeriksaan”, ungkap Barry.

Lanjutnya, pihak Kepolisian Sektor Insana akan menjalankan proses hukum sesuai aturan yang berlaku. “Kasus ini sementara berproses dan akan kami tindaklanjuti sesuai dengan aturan hukum yang berlaku”, tegas Barry.

Tindakan tidak terpuji itu nekad dilakukan pelaku, lantaran pelaku mengklaim seluruh tanah Gua Bitauni sampai pelataran Gereja Bitauni merupakan miliknya secara perorangan.

Sesuai dengan keterangan korban, dan dokumen – dokumen tertulis yang ditunjukkan dari pihak Keuskupan Atambua maupun dari Arsip Sonaf L.A.N.Taolin, bahwa tanah – tanah yang diklaim sebagai milik perorangan pelaku sudah tercatat sebagai aset Keuskupan Atambua. Tanah Gua Bitauni diserahkan Raja Insana L.A.N. Taolin secara administratif kepada pihak gereja, diterima Yang Mulia Uskup Anton Pain Ratu, SVD disaksikan sejumlah toko agama, Pejabat Pemerintah setempat dan sekitar 25 ribu lebih umat yang hadir dalam Perayaan Misa dan Perarakan Patung Bunda Maria di Taman Doa Gua Bitauni, pada tanggal 2 September 1988.

Sebelumnya tanah Gua Bitauni sudah diserahkan secara lisan oleh Raja Insana Calmento Kahalasi Taolin (almarhum), ayah dari L.A.N Taolin (almarhum) kepada pihak gereja pada tahun 1939.

Dan sejak tahun 1939 hingga kini, Gua Bitauni sudah difungsikan sebagai tempat Doa dan Ziarah umat Katolik.