Keluarga Korban Tewas Dalam Sel Tahanan, Mengirim Surat Terbuka kepada Presiden Jokowi

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Keluarga korban almarhum Marianus Oki mengirim surat terbuka kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Jakarta. Pasalnya sudah 4 tahun kasus pembunuhan tahanan atas nama Marianus Oki dalam sel Polsek Manamas belum diungkap Polda NTT.

Surat setebal dua halaman tertanggal 4 Desember 2019 itu ditandatanganl istri korban Maria Oki, anak kandung korban Yohanes Au dan sepupu korban atas nama Wihelmus Oki. S.Ip.

Berikut penggalan Isi surat terbuka itu:

Hari ini 04 Desember 2019, kasus terbunuhnya saudara kami almarhum Marianus Oki kembali berulang tahun yang ke -4 dalam penanganan penyidik di Mapolda Nusa Tenggara Timur. Sejak tahun 2O15 yang lalu almarhum saudara kami mati terbunuh secara Kejam di sel tahanan Pos Polisi Manamas, Polsek Nunpene, Polres Timor Tengah Utara.

Sel tahanan polisi dalam sistem hukum Indonesia adalah tempat/rumah berlindung yang menjamin kenyamanan hidup setiap warga negara, ternyata berubah dengan sangat tragis menjadi tempat yang seram dan menakutkan karena di dalam rumah inilah, saudara kami almarhum Marianus Oki terbunuh.

Kasus ini telah mengisi ruang publik selama empat/ tahun dan hingga saat ini belum mendapat kepastian hukum dan ruang keadilan. Terhadap kasus ini pun masih menjadi perdebatan tersendiri di kalangan para penyidik Polda Nusa Tenggara Timur. Seolah ada dua kubu besar di Mapolda NTT yang dibentuk untuk mendramatisir kasus pembunuhan almarhum saudara kami Marianus Oki, yang berakibat pada pembiaran sebagai modusnya.

Meskipun demikian, hingga hari ini pihak Keluarga tetap berkeyakinan, bahwa yang bertanggung jawab terhadap térbunuhnya saudara kami adalah para polisi dan Brimob yang bertugas di Pos Polisi Manamas pada saat itu.

Keprihatinan sebagai keluarga sangat besar menyaksikan penundaan keadilan bagi saudara kami oleh Mapolda Nusa Tenggara Timur sudah empat tahun lamanya. Kondisi ini meyakinkan kami sebagai rakyat lndonesia untuk berkesimpulan bahwa di Mapolda NTT khusus untuk kasus terbunuhnya Marianus Oki tidak ada kepedulian terhadap penegakan keadilan bagi rakyat.

Namun sebagai warga Negara, kami masih tetap percaya bahwa lndonesia adalah negara hukum yang masih berpihak terhadap keadilan dan kebenaran, sehingga dalam usia empat tahun kasus ini, kami keluarga mencoba menyusun jalan keadilan dan kebenaran kepada Presiden Republik Indonesia.

Adapun memori penanganan kasus ini dalam empat tahun terakhir oleh penyidik Mapolda Nusa Tenggara Timur sebagai berikut,

Pertama, bahwa Mapolda NTT membentuk tim Penyidik Pertama I (pertama) untuk menangani kasus terbunuhya saudara kami Marianus Oki yang telah melakukan rekonstruksi dan menyimpulkan bahwa almarhum Marianus Oki mati gantung diri.

Kedua, bahwa pihak keluarga menyampaikan Keberatan terhadap kesimpulan penyidik Polda NTT dengan alasan bahwa rekonstruksi yang dilakukan tidak meyakinkan secara hukum dan keluarga meminta untuk melakukan rekonstruksi ulang dengan memperagakan menggunakan orang yang ukuran tinggi sama dengan almarhum pada tempat yang sama dengan menggunakan alat yang sama seperti alibi hukumnya penyidik polda NTT.

Keprihatinan sebagai keluarga sangat besar menyaksikan penundaan keadilan bagi saudara kami oleh Mapolda Nusa Tenggara Timur sudah empat tahun lamanya. Kondisi ini meyakinkan kami sebagai rakyat lndonesia untuk “. berkesimpulan bahwa di Mapolda NTT khusus untuk kasus terbunuhnya Marianus Oki tidak ada kepedulian terhadap penegakan keadilan bagi rakyat .

Ketiga, bahwa Kapolda NTT mengeluarkan perintah untuk membentuk Tim Penyidik ll (kedua). Dalam Rekonstruksi yang di Pimpin Tim Penyidik II Polda NTT dilakukan secara terbuka dengan meragakan cara gantung diri di tempat yang sama dengan alat yang sama. Ternyata fakta lapangan menunjukan bahwa orang meragakan dengan ukuran tinggi sejajar bahkan lebih tinggi dari ukuran tinggi badannya almarhum Marianus Oki. secara meyakinkan tidak menunjukan almarhum Marianas Oki Mati karena gantung diri.

Keempat, bahwa Tim Penyidik Polda NTT ke ll mengeluarkan Kesimpulan bahwa almarhum Marianus Oki mati secara tidak wajar.

Kelima bahwa keluarga juga mengadukan kasus ini kepada Kompolnas. Dan pada gelar perkara bersama Kompolnas di Mapolda NTT bersama – sama dengan dua penyidik yang pernah menangani Kasus ini menyimpulkan untuk kedua tim penyidik yang pernah menangani kasus Ini ‘dengan kesimpulan Hukum yang berbeda. Padahal secara bersama- sama melakukan rekonstruksi menyeluruh dan terbuka. Tetapi hingga hari ini sudah memasuki tahun keempat. kesimpulan gelar perkara bersama dengan Kompolnas tidak dilaksanakan oleh Polda NTT.

Keenam bahwa Tim ke ll penyidik Polda NTT yang menyimpulkan bahwa kasus kematian almarhum Marianus Oki di Pos Polisi Manamas adalah tidak wajar saat ini telah dipindah tugaskan dari Direskrimum Polda NTT,

“Berdasarkan hal – hal di atas kami keluarga almarhum Marianus Oki menyampaikan surat terbuka ini kepada Presiden Republik Indonesia agar sedapat mungkin memberi kami harapan penegakan keadilan dan kebenaran dari negara atas terbunuhnya saudara kami di dalam Sel Tahanan Pos Polisi Manamas Kabupaten TTU dengan memerintahkan kepada Institusi Mabes Polri dan Mapolda NTT supaya memberi atensi prioritas dalam menuntaskan kasus terbunuhnya saudara kami,” tulis keluarga korban.