Ambulans Motor Cara Baru YKS Selamatkan Ibu dan Bayi Kala Partus

Bagikan Artikel ini

Laporan Adi Riang Hepat
Kupang, NTTOnlinenow.com – Upaya menekan angka kematian ibu dan bayi kala melahirkan hingga saat ini masih sangat sulit dilakukan dan masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan sejumlah stakeholder lainnya. Kondisi itu kian sulit bila terjadi di sejumlah daerah (pelosok) yang masih minim sumber daya medis dan infrastruktur baik pos layanan kesehatan maupun transportasi kesehatan. Fakta itu kini masih masif terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Timur drg. Dominggus Minggu Mere menyebut, angka kematian ibu dan bayi di provinsi berbasis kepulauan itu masih tinggi. Betapa tidak sejak Januari hingga April 2019, angka kematian ibu dan bayi mencapai 300 orang. Sementara bayi lahir hidup berjumlah 30.747 orang.

Dari jumlah kematian 300 orang itu, untuk kematian ibu berjumlah 32 orang dan selebihnya adalah kematian bayi yang dilahirkan, yaitu berjumlah 268 orang. Sementara data sepanjang 2018 (Januari-Desember), jumlah kematian ibu dan anak capai 1.423 orang dengan rincian, kematian ibu berjumlah 158 orang dan kematian bayi berjumlah 1.265 orang. Dari jumlah itu rata-rata penyebabnya karena perdarahan, infeksi serta hipertensi dalam kehamilan (HDK). Terlambat penanganan medis, menjadi salah satu pemicu. “Ya kami terus berupaya untuk menekan jumlah tersebut hingga mencapai titik nol,” katanya.

Minimnya sarana dan prasaran kesehatan pendukung khusus di daerah-daerah terpencil beberapa pulau di provinsi itu masih menjadi kendala besar. Sebut saja sejumlah daerah (desa) dan kampung di Kabupaten Flores Timur.

Topografi berbukit tanpa infrastruktur jalan mulus, telah memberi dampak buruk bagi penanganan pasien ibu hamil yang hendak melahirkan. Praktis mobil ambulans tak bisa masuk melintasi sejumlah jalur itu. Itu pun jika tersedia kendaraannya. Hal yang bisa dilakukan hanya dengan motor.

“Ya, dengan ambulans motor inilah saya bisa leluasa melakukan bantuan persalinan ke sejumlah daerah terpencil sekalipun,” kata seorang bidan Desa di Flores Timur NTT, Maria Yasinta Lowa.

Dia mengaku mendapatkan bantuan sarana (ambulans motor) itu dari sebauh yayasan peduli kesehatan bernama Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS).

Mengabdi sekian waktu (10 tahun) sebagai bidan desa di wilayah Kabupaten Flores Timur, kata Maria Yasinta, hal yang tersulit adalah menjangkau lokasi (kediaman) pasien ibu hamil (melahirkan).

“Syukurlah sejak bantuan unit ambulans motor dari YKS semua persoalan itu mulai teratasi secara perlahan,” katanya.

Bahkan persoalan transportasi medis yang menjadi sebab tingginya angka kematian ibu dan anak di Kabupaten Flores Timur mulai perlahan ditekan dan mulai minim jumlah.

Dia menyebut, pada semester pertama 2019 (Januari-Juli) sudah tak ada lagi kematian ibu dan anak, khusus di tiga kecamatan yang mendapatkan intervensi bantuan ambulans motor dari YKS. Tiga kecamatan yang mendapat intervensi program ambulans motor masing-masing Kecamatan Adonara Barat dengan 18 desa, Kecamatan Ile Mandiri dengan jumlah 8 desa dan Kecamatan Solor Barat dengan 14 desa.

Sebelum intervensi program ambulans motor di tiga kecamatan itu, jumlah kematian ibu, bayi dan balita sangat tinggi. Menurut dia, setahun sebelum intervensi ambulans motor (2012), angka kamtian ibu, bayi dan balita berjumlah 199 orang dengan rincian, kematian ibu 25 orang, bayi 77 orang dan kematian balita 97 orang. “Prinsipnya lanjut dia, terlambat melakukan penanganan semenit saja, maka akan membawa dampak korban jiwa. Dengan intervensi ambulans motor ini, semuanya bisa teratasi baik,” tuturnya.

Memang sejak intervensi program ambulans motor dari YKS di tiga kecamatan itu, perlahan angka kematian ibu, bayi dan balita mulai berabgsur ditekan. “Dan tiga kecamatan ini menjadi tiga wilayah awal intervensi program kami ini,” kata seorang aktivitis Yayasan Kesehatan untuk Semua (YKS), Mansentus Balalawa dalam sebuah perbincangan dengan media ini.

Dia mengatakan, intervensi program ambulans motor di Kabupaten Flores Timur itu didasari dengan tingginya angka kematian ibu, anak dan balita daerah itu yang dipicu sejumlah persoalan. “Salah satunya karena minimnya sarana pendukung pertolongan jelang melahirkan,” katanya.

Mempertimbangkan kondisi itulah, YKS lalu mencoba menciptakan program ambulans motor itu untuk mempermudah mobilitas petugas medis dalam melaksanakan pertolongan ibu hamil dan melahirkan.

Berawal dari program Manajemen Sarana Transportasi (MST), Yayasan Kesehatan untuk Semua mulai melakukan intervensi ambulans motor di kabupaten itu sejak 2002 silam. Program ini pun mulai bergulir dan sukses capai tujuannya. Sejumlah sasaran yang menjadi target akhir program adalah, menekan angka kematian warga karena kian cepatnya respon petugas medis atas permintaan pertolongan pasien di daerah terpencil. Selain juga lanjut Mansentus, terjadi peningkatan cakupan wilayah pelayanan kesehatan, akses informasi dan pelayanan kesehatan, jumlah fasilitas sanitasi yang dipantau serta frekwensi layanan kesehatannya.

Secara akumulatif, sebut Mansentus, sebelum program ini dilakukan, angka kematian di tiga kecamatan capai 199 orang, dengan jumlah kematian ibu berjumlah 25 kasus, kematian bayi 77 kasus dan balita 97 kasus.

Namun sejak intervensi program itu pada 2013-2017 kematian ibu di tiga kecamatan hanya 1 kasus dan itu terjadi di tahun 2014 di Kecamatan Adonara Barat. Dua kecamatan lainnya masing-masing Ile Mandiri dan Solor Barat nol kematian.

Sementara untuk kematian bayi di tiga kecamatan pada periode sama, terjadi 34 kasus, dengan rincian di 2013, terjadi 11 kasus, masing-masing di Kecamatan Adonara Barat 3 kasus, Ile Mandiri 6 kasus dan Kecamatan Solor Barat 2 kasus. Pada 2015 terdapat satu kasus kematian bayi terjadi di Kecamatan Adonara Barat. Kemudian di 2016 terdapat 18 kasus, dengan sebaran di Kecamatan Adonara Barat 12 kasus, Ile Mandiri 5 kasus, dan Kecamatan Solor Barat 1 kasus. Dan pada 2017 terdapat 4 kasus, masing-masing di Kecamatan Ile Mandiri 2 kasus dan Solor Barat 2 kasus.

Sedangkan untuk kematian balita di periode sama (2013-2017) di tiga kecamatan itu hanya terjadi dua kasus. Kejadian itu terjadi pada 2017 di Kecamatan Ile Mandiri.

Dia mengaku sangat memberi dampak positif dari intervensi program ini. “Kami sedang merangkul pemerintah setempat (Kabupaten Flores Timur) untuk bisa bekerja sama untuk kelanjutan intervensi di kecamatan lainnya,” katanya mengaku.

Memang tak banyak yang bisa dilakukan oleh Mansentus Balalawa dan sejumlah rekannya di YKS. Belum banyak wilayah juga yang bisa terintervensi program tersebut. Namun yang pasti, niatan YKS untuk menekan jumlah kematian ibu, telah menjadi contoh bagi pihak lainnya, terutama pemerintah untuk bisa sedikit membuka mata menerapkan program serupa. Ya, semuanya hanya untuk menyelamatkan satu jiwa saat melahirkan di daerah ini, di tengah kondisi masih minimnya sarana dan prasarana kesehatan dan ketersedian paramedis yang handal. Bukankah satu jiwa yang diselamatkan akan menjadi titik awal penyedia generasi unggul bangsa ini ke depan?! ***