Foho Rai Festival Mengangkat Ekosistem Budaya Leluhur Nyaris Punah

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Komunitas Fohorai dalam platform Indonesiana menggelar Foho Rai Festival 2019 di Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan Negara Indonesia dengan Timor Leste, Jumat (8/11/2019).

Kegiatan yang dikemas dalam sebuah rangkaian budaya berbasis ekosistem dilaksanakan di beberapa lokasi kampung adat atau rumah adat yang terdapat di wilayah perbatasan daerah Belu.

Disaksikan media, di kompleks kampung adat Uma Metan Lidak di Dusun Berkase, Desa Tukuneno acara Foho Rai Festival berlangsung meriah dengan menampilkan budaya leluhur Tebe Bot dan Ai Tahan Timur.

Kegiatan Foho Rai Festival didukung Dirjen Kebudayaan bertujuan untuk menggali, mengangkat dan menghidupkan kembali ekosistem budaya leluhur daerah nyaris punah bahkan punah.

Dalam press release yang diterima media, penyelenggaraan sebuah festival berbasis ekosistem merupakan amanah kultur dan panggilan peradaban.

Tanpa ekosistem budaya masyarakat adat, sebuah tradisi tidak akan mungkin terangkai dalam satu alur sejarah hidup yang panjang. Karena ekosistem-lah yang memiliki identitas, cerita dan jati diri sebuah peradaban.

“Foho Rai Festival 2019 ini lahir dari sebuah kepekaan, gotong-royong, partisipasi dan inisiatif kultur masyarakat adat pemilik ekosistem budaya. Topik yang diangkat pada event budaya 2019 ini adalah Belu Panggil Pulang : Mai Ita Fila Ba Uma,” ujar Romo Sixtus Bere selaku koordinator acara tersebut.

Kegiatan Festival Fohorai 2019 akan berlangsung pada tanggal 8 sampai 13 November 2019 mendatang. Festival ini kembali membangkitkan kesadaran baru dan rasa cinta masyarakat Belu pada kekayaan budaya yang sedang dihidupinya.

Diharapkan, Ema (orang) Belu dapat menemukan spirit kultur dan peradaban dengan setiap kali berkiblat kepada akar kehidupan atau rumah peradaban dari mana berasal.

“Orang Belu kembali disadarkan akan arti pentingnya kekayaan tradisi sebagai identitas dan kebanggaan kultur leluhurnya sebagai tatanan nilai kehidupan yang sampai kapan pun tidak boleh tergerus oleh arus perubahan,” kata dia.

Untuk diketahui nama FOHORAI menggambarkan entitas jati diri dan identitas kultur masyarakat Belu yang selalu terikat dengan tradisi menghargai leluhur dalam semua aspek dan unsur budaya yang dihidupinya.

Ada dua ekosistem budaya (ekosistem adat) Belu menjadi fokus eksplorasi yang diangkat dalam rangkaian Foho Rai Festival 2019 yakni, Kampung adat Uma Metan Manuaman Lidak Tukuneno-Berkase, Kecamatan Tasifeto Barat dan Kampung Adat Sadi, Kecamatan Tasifeto Timur.

Dengan menggambil 2 Kampung adat ini, Foho Rai Festival berupaya membidik kesadaran dan rasa bangga akan foho no rai ema Belu. Selain itu juga mengemas rangkaian festival ini dalam dua segmen yakni, segmen utama dan segmen pendukung.

Adapun segmen utama meliputi Pagelaran Kekayaan “Tebe Bot dan Ai Tahan Timur” di Uma Metan Lidak Tukuneno Berkase serta Upacara Ritual “Ha’a Luha” sebagai tradisi khas ekosistem ada di Kampung adat Sadi.

Sedangkan segmen pendukung mencakup atraksi seni budaya, permainan tradisional, pertunjukan tenun ikat, pameran tradisional hasil karya masyarakat lokal, pameran kuliner tradisional, Likurai dan interpretasinya, Jelajah Gunung Lidak, Konser Musik tradisi, Bazar, Pameran Foto, Pameran dan Studi Tenun, Jelajah Rumah Adat serta pemutaran film Foho Rai.

Dalam bingkai gotong royong, Foho Rai Festival mendapat dukungan yang serius dari komunitas
masyarakat adat pada kedua kampong adat ini. Sebagaimana tahun 2018, kembali Pemerintah Belu dan komunitas local yang ada di Kabupaten Belu menyambut baik penyelengaraan festival ini sebagai wujud kepercayaan diri masyarakat adat akan kekayaan tradisi yang pantas dilestarikan dan dikembangkan.

Berikut kegiatan Festival Foho Rai 2019 yang berlangsung dari tanggal 8–13 November 2019 sebagai berikut :
a. Tanggal 8–9 November, rangkaian kegiatan di Kampung Adat Uma Metan Manuaman Lidak
Tukuneno Berkase dengan kegiatan inti adalah Pagelaran Tebe Bot dan Ai Tahan Timur
b. Tanggal 10 sampai 13 November, rangkaian kegiatan di Kampung Adat Sadi dengan kegiatan inti adalah Upacara Ritual Ha’a Luha
c. Tanggal 8-11 November, Bioskop Keliling (Bioling) dan Sosialisasi Cagar Budaya BPCB Bali.
d. Tanggal 11 November, Festival Film Foho Rai.
e. Tanggal 12 November, Launching Museum Foho Rai.