FWI 2019 di Perbatasan Motaain, Lirik Anak Yatim Piatu

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Atambua, NTTOnlinenow.com – Dalam gelaran event Festival Wonderful 2019 di Motaain, Selasa (5/11/2019), Perwakilan Kementerian Republik Indonesia melirik anak – anak yatim dengan menitipkan santunan kepada 10 orang asal desa silawan kecamatan Tasifeto Timur. Ke sepeluluh anak Yatim Piatu tersebut, masih bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Silawan. Dengan diantar Kepala Sekolah, Osis dan guru lainnya, ke sepuluh anak tersebut menerima santunan berupa buku tulis dan alat tulis menulis, ATK, Kamus bahasa Inggris – Indonesia dan Minuman sehat berupa susu.

Barang santunan bagi anak Yatim Piatu itu diserahkan perwakilan Kementerian RI, Herbin Saragih, Kadis Pariwisata TTU, Robertus Nahas, Kabid Pemasaran Dispar Belu Rainer Koly, Kepala Sekolah SMP Silawan, Petrus Bere Bria S. Sos S. Pd dan Pembina Osis Kanisius Sungga S.Pd, Gr dan panitia FWI 2019.

Penyerahan santunan yang dipandu langsung Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Muh Ricky Fauziyani berlangsung penuh haru. Beberapa anak penerima santunan terlihat menangis saat Asdep Ricky menyampaikan pesan – pesan yang sangat memotivasi dan menguatkan.

Pada kesempatan yang sama, Ricky juga berkesempatan bertemu dengan seorang bocah berusia 8 tahun asal Balibo Timor Leste.

Berbagi kasih, Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Muh Ricky Fauziyani menyerahkan cenderamata berupa souvenir FWI kepada Azis.

Bocah yang bernama lengkap Azis Soares Da Cruz biasa disapa Azis, selama berlangsungnya Event FWI 2019 dari bulan Agustus hingga November merupakan pengunjung setia booth FWI. Azis rajin berbelanja sembako dan pakaian murah di booth FWI. Azis merupakan tulang punggung keluarganya di usia yang masih tergolong sangat kecil, 8 tahun. Dari pekerjaannya sebagai portir di PLBN Motaain yang selalu berburu rupiah di batas, ia mampu menghasilkan uang 10 hingga 50 ribu rupiah per hari.

Dari uang yang diperolehnya, ia mampir ke booth bazar dan pakaian murah FWI berbelanja sembako dan pakaian untuk orang tua dan dua kakaknya yang terlahir cacat fisik dan hanya terbaring di tempat tidur sejak lahir. Keterangan foto : Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Muh Ricky Fauziyani bersama Azis.

“Saya tadi belanja beras dua kilo, bawa ke rumah untuk bapak dan mama masak. Tiap hari begitu. Pagi – pagi saya sudah di batas kejar jam travel masuk. Biasa kalau dapat bawa tas orang, saya dibayar 3 ribu, 5 ribu bahkan 10 ribu rupiah kalau tasnya besar dan berat. Tapi tidak setap hari saya dapat uang, kadang tdak dapat sama sekali. Saya kuat karena setiap hari pikul barang masuk dan keluar batas. Ini uang yang saya dapat tiap hari untuk pakai beli beras (cerita Azis sambil mengeluarkan sejumlah uang dari dalam saku bajunya sambil dihitung).

Mulai ada acara begini saya dapat uang banyak. Saya semangat tunggu travel sambil dengar musik, tunggu travel pertama masuk jam 10 pagi dan travel terakhir jam 2 siang. Tadi ada uang lebih dari beli beras, saya pakai beli baju lagi untuk kakak dan adik. Saya senang di bazar FWI ada jual barang murah jadi saya bisa belanja. Belanja dalam pasar di Timor (TL) mahal – mahal”, kisah Azis sambil tersenyum.

Azis bercerita sambil tersenyum menunjukkan baju yang dipakainya. “Ini saya beli baju dari uang hasil pikul barang tadi dan harga baju juga murah. Saya beli di bazar FWI. Saya, bapak, mama, kakak, adik dapat banyak kenang – kenangan dari kegiatan FWI, dari bapak – bapak di Jakarta. Ada bapak bos satu yang kasih uang, saya sudah lari antar uangnya ke rumah tadi supaya mama bisa pakai beli sayur “, cerita Azis.

Rangkaian kegiatan tersebut diakhiri dengan kegiatan tebe bersama rombongan Kemenpar RI, pejabat pemkab TTU, Belu, panitia FWI, Kepala Sekolah , guru dan siswa siswi SMP, SDN Silawan.