Pandangan Bangsa Terhadap Kandungan Nilai Pancasila

Bagikan Artikel ini

Pandangan Bangsa Terhadap Kandungan Nilai Pancasila

Oleh : Siti Fidaa’ul Jannah

Judul buku  : PENDIDIKAN PANCASILA UNTUK PERGURUAN TINGGI

Penulis  : M.Taufik,S.H., M.H., Prof. Dr. Drs. Yaqub Cikusin, S.H., M.Si., Dr.Hj.                            Rahmatul Hidayati, S.H., M.H., Dr. Suratman, S.H., M.H., H. Umar Said Sugiharto. S.H., M.S., Dr.H. Abdul Rokhim, S.H., M. Hum., Hayat, S.Ap., M.Si., Drs. Noorhuda Muchsin, B.E., M.M., Dr.Ir.Sumartono, M.p.

Penyunting      : Hayat dan H. Suratman.

Penerbit            : Baskara Media.

Tebal buku       : xii + 383 Halaman.

Cetakan            : Pertama, Juli 2018.

ISBN                : 978-602-50306-7-3.

Sejarah istilah pancasila lima  dasar sendiri dikenal sejak jaman sriwijaya dan majapahit dimana sila-sila yang terdapat dalam pancasila itu sudah diterapkan dalam kehidupan masyarakat maupun kerajaan meskipun sila-sila tersebut belum dirumuskan secara konkrit. Pancasila menurut bahasa “panca” artinya lima dan “syila” aritnya “dasar” jadi, pancasila berarti 5 dasar negara repunlik indonesia. Perumusan pancasila ini berawal dari pemberian janji kemerdekaan oleh perdana mentri jepang saat itu.sehingga dibangunlah organisasi berupa BPUPKI  yang diketuai oleh Dr.Radjiman Wedyodiningrat, dan beranggotakan 60 orang, organisasi ini bertujuan untuk membuat satu kesatuan utuh yang disebut pancasila.

Perjuangan memerdekakan indonesia dari kolonialiasme telah melalui tahapan dan usaha yang panjang. Selain perjuangan fisik, bangsa indonesia secara gigih mampu membangun pondasi kemerdekaan dengan merumuskan dasar dan ideologi negara melalui persiapan-persiapan yang dilakukan oleh para tokoh bangsa. Juga perlu kita ketahui, bahwa pancasila tidak hanya dirumuskan oleh pemimpin nasional saja. Namun tokoh tokoh ulama’ NU seperti KH.Wahid Hasyim dan ulama dari kalangan Muhammadiyah juga turut serta membantu keberhasilan perumusan pancasila.

Pancasila sebagai ideologi dan dasar sebenarnya memiliki keselarasan dengan ajaran islam sebagai agama mayoritas penduduk bangsa indonesia. “Ketuhanan yang Esa” merupakan konsep tauhid dalam islam. Sehingga tidak ada alasan bagi umat islam untuk menolak konsep tersebut dalam pancasila. Dalam konsep tersebut, umat islam mempunyai hak menjalankan keyakinan agamanya tanpa medikriminasikan keyakinan agama lain.di titik inilah, menjalankan pancasila sama artinya mempraktikkan syariat islam dalam konsep hidup berbangsa dan bernegara.

Bericara tentang pancasila dan ilmu filsafat, bermula pada rasa ingin tahu yang diikuti dengan pernyataan. Rasa ingin tahu inilah yang nantinya akan menuntun manusia untuk sampai kepada pengetahuan. Pengetahuan itu di peroleh melalui perenungan yang sedalam-dalamnya(kontemplasi) sampai kepada hakikatnya, muncullah pengetahuan filsafat. Perenungan kefilsafatan ialah percobaan untuk menyusun suatu sistem pengetahuan yang rasional, yang memadai untuk memahami dunia tempat kita hidup, maupun untuk memahami diri kita sendiri.

Pancasila adalah sumber nilai dimana seluruh tatanan kehidupan masyarakat, bangsa, dan bernegara menggunakan pancasila sebagai dasar moral atau norma dan tolak ukur tentang baik dan buruk, benar dan salah sikap, perbuatan dan tingkah laku bangsa indonesia. Seperti membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan berkepercayaan terhadap tuhan yang maha esa adalah nilai yang bisa kita ambil di sila pertama. Kehidupan manusia didalam pergaulan masyarakat diliputi oleh norma-norma. Sejak manusia dilahirkan hingga mengenal pergaulan antara manusia lainnya, mereka sudah merasakan adanya peraturan-peraturan yang membatasi ruang geraknya. Dalam pergaulan hidup ada 4 macam norma, yaitu norma agama, norma kesusilaan, norma kesopanan dan norma agama. Lain halnya dengan moral. Sesuatu yang mutlak harus dimiliki oleh manusia, baik hal yang berkaitan dengan orang lain dalam lingkup keluarga atau dalam proses sosialisasi yang eksplisit dari individu, karena proses sosialisasi hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang memiliki moral.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, agama merupakan realitas yang berada di sekeliling manusia. Masing-masing manusia memiliki kepercayaan tersendiri akan agama yang dianggapnya sebagai sebuah kebenaran agama yang telah menjadi kebutuhan dasar manusia ini tidak dapat di pisahkan dari kehidupan sosial manusia tersebut. Agama juga diyakini tidak hanya ritual semata melainkan juga berbicara tentang nilai-nilai yang harus dikonkretkan dalam kehidupan sosial. Termasuk dalam ranah ketatanegaraan muncul runtutan agar nilai-nilai agama di terapkan dalam kehidupan bernegara. Masing-masing penganut agama meyakini bahwa ajaran dan nilai-nilai yang dianutnya harus di tegakkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Konsep persaudaraan sesama manusia (ukhwah insaniyah) dilandasi oleh ajaran bahwa semua umat manusia adalah makhluk allah. Sekalipun allah memberikan petunjuk kebenaran melalui ajaran islam, tetapi allah juga memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih jalan hidup berdasarkan pertimbangan rasionya sesuai Q.S Al-Maidah:48 yang artinya ”Sekiranya allah menghendaki niscaya kamu dijadikanNya satu umat tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberianNya kepadamu”

Pancasila telah memberikan dasar-dasar nilai yang fundamental bagi bangsa indonesia untuk hidup secara damai dalam kehidupan beragama di negara indonesia. Dalam pengertian ini, maka negara menegaskan dalam UUD1945 “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa” ini berarti dalam kehidupan dalam kenegaran mendasarkan pada nilai-nilai Ketuhanan. Bentuk aktualisasi Pancasila sebagai paradigma pengembangan kehidupan beragama adalah bahwa setiap penganut agama yang resmi diakui maupun agama/keyakinan yang belum/tidak diakui oleh pemerintah, sejatinya harus saling membangun saling menghargai, menghormati, bertoleransi dan bersinergi dalam menjaga hubungan baik antar sesama pemeluk agama sehingga tercipta suasana simbiosis mutualistik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Mereka hidup berdampingan secara damai dan menjaga rasa persaudaraan sesama bangsa indonesia yang Bhinneka Tunggal Ika

Pandangan wawasan ketuhanan diharapkan dapat memperkuat etos kerja bangsa Indonesia, karena kualitas kerjanya disandarkan dari batasan hasil kerja materialnya. Oleh karena itu dengan teologi kerja yang trasendental memberi nilai tambah spiritual, sehingga memperkuat motivasi, inspirasi dan aspirasi warga negaranya. Dengan wawasan teosentris ini, bangsa indonesia di tuntut untuk pandai menjangkarkan kepentingan (interest) kepada nilai (value) dalam berpolitik berbangsa dan bernegara.

Nilai yang terkandung dalam sila kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kesadaran sikap dan perbuatan manusia yang didasarkan pada potensi akal budi dan hati nurani manusia dalam hubungannya dengan norma-norma dan kesusilaan umum, baik terhadap diri sendiri, dengan sesama manusia dan dengan lingkungan alam di sekitarnya. Kemanusiaan yang adil dan beradab ditampakkan dalam implementasi hak dan kewajiban asasi manusia serta tanggnung jawabnya terhadap penegakkan hukum yang berkeadilan.

Persatuan indonesia dalam sila ketiga pancasila mencakup persatuan dalam arti ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan wilayah tanah air indonesia. Persatuan Indonesia adalah persatuan bangsa yang mendiami wilayah tanah air Indonesia. Keinginan bersatu karena d dorong untuk mencapai kehidupan kebangsaan yang bebas dalam wadah negara kesatuan republik Indonesia yang merdeka dan berdaulat.

Pada sila keempat terkandung nilai-nilai kedaulatan rakyat, artinya kedaulatan atau kekuasaan tertinggi dalam negara adalah rakyat, rakyatlah yang berdaulat sebagai pemegang kekuasaan negara. Nilai nilai kerakyatan atau demokrasi dipimpin atau diarahkan oleh kebijaksanaan untuk musyawarah mufakat melalui perwakilan permusyawaratan. memancarkan kehendak untuk menghadirkan Negara persatuan yang dapat mengatasi paham perseorangan dan golongan, sebagai refleksi dari semangat kekeluargaan dari pluralitas kebangsaan Indonesia dengan mengakui adanya kesederajatan atau persamaan dalam perbedaan.

Secara khusus keadilan sosial dalam sila kelima pancasila ini menekankan prinsip keadilan dan kesejahteraan di bidang ekonomi. Dengan adanya sila kelima ini, bahwa indonesia persamaan hak, kesederajatan, dan keadilan tidak hanya berlaku di bidang pollitik, melainkan juga dibidang perekonomian.