Jadi Tersangka, Ini Ancaman Hukuman Penjara Bagi Kades Babulu Selatan dan 6 Orang Pelaku

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Penyidik Polres Belu menetapkan Kepala Desa Babulu Selatan dan 6 orang sebagai tersangka penganiayaan terhadap NB (16) alias N warga Beitahu, Desa Babuk Selatan, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka.

Tujuh pelaku persekusi antara lain, Paulus Lau selaku Kepala Desa, Kepala Dusun Beitahu Margaretha Hoar (MH), Hendrikus Kasa (HK), Marselinus Ulu (MU), Dominikus Berek (DB), Benediktus Bau (BB) dan Eduardus Roman (ER) warga desa setempat telah ditahan di Mapolres Belu dan dikenakan pasal berlapis.

Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing melalui Kasat Reskrim, AKP Sepuh Siregar menuturkan, kasus penganiayaan terhadap NB gadis perempuan dengan cara tangannya diikat pada bagian siku lalu digantung pada kuda-kuda atap rumah digantung kemudian dipukul atau ditendang oleh beberapa warga sebagaimana viral dalam video di medsos menghebohkan warga Belu hingga seluruh Indonesia.

Menurut Siregar, atas perbuatan tersebut para pelaku dijerat dengan pasal 80 ayat 1 undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak jo pasal 76 C undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak jo pasal 170 ayat 1 ayat 2 dengan ancaman penjara 3,6 tahun dan 7 tahun.

Dituturkan bahwa, kasus penganiayaan itu terjadi Kamis tanggal 17 Oktober 2019 sekitar jam 11.30 bertempat di dalam Posyandu di Dusun Beitahu, Desa Babulu Selatan, Kecamatan Kobalima, Kabupaten Malaka.

Atas kejadian itu keluarga korban melaporkan kasus ke Polres Belu melalui Polsek Kobalima pada tanggal 26 selanjutnya membuat laporan polisi dengan nomor LP/26/X/2019.

Selanjutnya pihak Polsek berkoordinasi dengan Satuan Reskrim Polres Belu guna melakukan penyelidikan yang intensif dengan memeriksa saksi-saksi pada Senin lalu dan berhasil amankan 7 orang pelaku penganiayaan terhadap NB gadis dibawah umur.

Lanjut Siregar, kronologi kejadiannya saat itu korban NB dituduh telah melakukan pencurian cincin. Tanpa bukti NB dituduh warga melakukan pencurian cincin milik AB warga setempat. Namun tanpa ada bukti yang kuat NB langsung digiring ke Posyandu dan para pelaku langsung melakukan kekerasan dengan cara memukul dengan mengunakan tangan dan kayu.

Tidak saja itu korban di tendang kemudian diikat dengan tali plastik pada bagian siku tangan lalu menggantung korban di kuda-kuda atap rumah yang diduga kuat ditarik oleh Kepala Desa Paulus Lau.

Tidak saja itu, tersangka HK alias E juga melakukan kekerasan terhadap NB dengan cara memukul sebanyak dua kali mengunakan sebatang kayu damar. Sedangkan MH alias E (kepala dusun) menampar wajah Korban sebanyak dua kali.

MU melakukan kekerasan terhadap korban dengan cara menampar pipi kirl korban satu kali, DB menampar wajah korban berulang kali, BB menampar wajah korban sebanyak dua kali dan menendang pantat satu kali dan ER pamong adat menarik rambut kirban sebanyak kali kali sambil berteriak gantung saja sehingga Kepala Desa mengikat kedua tangan NB di belakang dengan mengunakan seutas tali senar/plastik.

Sebelumnya disampaikan Siregar pada hari Rabu tanggal 16 Oktober 2019 sekitar jam 19.00 Wita korban NB juga dianiaya oleh MH selaku kepala dusun dengan mengunakan sebatang kayu.

“Hubungan para tersangka dan korban adalah keluarga. Motivasi para pelaku melakukan kekerasan karena malu dan marah sebab NB dituduh mencuri cincin. Selain para pelaku diamankan juga barang bukti berupa tali,” ungkap dia didampingi Kasubag Humas dan Kanit Provos Polres Belu.