Politisi NasDem TTU, Diduga Sebagai Otak Pelaku Penyerangan dan Pengrusakan Rumah Warga Desa Oepuah

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Kefamenanu, NTTOnlinenow.com – Brando Sonbiko, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (ADPRD) terpilih Partai NasDem kabupaten Timor Tengah Utara Periode 2019 – 2024 yang baru dilantik, terlibat kasus penganiayaan warga dan diduga sebagai otak pelaku penyerangan dan pengrusakan rumah warga di Dusun II Naekefi, Desa Oepuah Kecamatan Biboki Moenleu.

Sesuai informasi yang dihimpun media ini, peristiwa pengrusakan rumah warga desa Oepuah, milik Yonatas Tahoni bermula dari perbincangan seputar Pemilu Legislatif yang baru saja berakhir dalam suatu acara syukuran keluarga.

Pada Minggu 20 Oktober 2019 sekitar pukul 20.30 wita, korban Yonatas Tahoni dan Brando Sonbiko beserta sepuluh orang lainnya sedang duduk bersama, tiba tiba Brando Sonbiko yang baru dilantik sebagai ADPRD TTU dari Partai NasDem menyindir kerabatnya dengan mengatakan dia tetap jadi anggota DPR sekalipun tidak dipilih oleh mereka.

“Kamu tidak coblos saya juga, saya sudah jadi anggota DPR. Dan untuk kamu orang KUTIOM di Kaubele saya tidak butuh, saya hanya butuh orang KUTIOM di Unina saja”, ungkap Brando pada sejumlah kerabatnya.

Karena ungkapan yang dilontarkannya, akhirnya korban menegur Brando lantaran tidak terima apa yang disampaikan Brando ditujukan ke keluarganya sendiri ” Hai adik ini kamu sudah omong bagaimana, yang kau omong itu kita punya om”, tegur Yonatas.

Mendengar teguran itu, Brando emosi dan menunjuk korban sambil menuding korban mabuk sehingga bicara seperti itu. “Kau omong begitu karena kau mabuk”, tandas Brando. Akhirnya korban menangis dan diketahui oleh anak korban. Karena melihat keadaan ayahnya seperti itu, anak korban Melki mendatangi Brando, menanyakan masalah yang menyebabkan bapaknya menangis.

kondisi rumah korban yang rusak akibat diserang massa

“Kenapa dari tadi pagi sampai sore tidak ada masalah dan sudah malam begini baru ada masalah. Kira – kira ada masalah apa….memangnya ada masalah apa sampai bapak saya menangis”, tanya Melki.

Secara spontan dijawab Brando bahwa korban dan dirinya mabuk, sebenarnya tidak ada masalah apapun. “Itu kami dengan kau punya bapak ada mabuk semua, tidak ada masalah apa apa”. Melkipun meminta maaf pada Brando tapi langsung Brando menawarkan berkelahi dengan Melki. “Kalau berani kita satu lawan satu”, tawar Brando. Akhirnya massa yg berada di lokasi kejadian marah atas perilaku Brando sehingga memicu baku dorong antara Brando dengan massa, setelah itu situasi dapat di atasi oleh orang tua yg berada di situ.

Selanjutnya Korban dan anak – anaknya pulang ke rumahnya, namun beberapa saat kemudian di depan rumah korban berhenti satu unit trek yg membawa massa. Dan massa langsung secara brutal menyerang dengan melempari rumah korban menggunakan batu hingga rusak parah.

Atas kejadian tersebut, anggota Polsubsektor Mena langsung mendatangi TKP dan melakukan olah TKP serta mengamankan barang bukti. Termasuk korban, dibawa ke Polsubsektor Mena untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil pengamatan, barang bukti berupa batu banyak ditemukan dalam rumah korban dan kondisi rumah korban dalam keadaan rusak parah.

Dan sesuai keterangan yang diambil dari korban, diketahui ada 3 pelaku diantaranya, Florentinus Meta (50), Antonius Taleke (43), Petrus Boik (45), ketiganya berasal dari alamat yang sama, yakni Unina Desa Luniup Kecamatan Biboki Moenleu.

Sebanyak 4 saksi juga sudah diambil keterangan, diantaranya Yulius Najumolo, (29) anak kedua korban, Veni Haumen (26), anak mantu korban, Deni Naekefi (30) dan Krisyanto Najumolo(31).

Korban Yonatas Tahoni, dalam kondisi luka berdarah bagian tangan dan memar di bagian wajah dan badan

Brando Sonbiko, politisi Partai NasDem yang dikonfirmasi media ini, menyatakan tidak tahu menahu soal pengrusakan rumah korban. Menurutnya, justru ia menduga undangan kepadanya untuk menghadiri acara syukuran sambut baru anak keluarganya itu sudah terselip suatu rencana yang kurang baik terhadap dirinya.

Justru dirinya yang dianiaya hingga terjatuh dan diinjak di bagian dada oleh keluarga korban. Dan kepada media ini juga, ia menegaskan bahwa amukan massa yang datang secara spontan menyerang rumah korban, bukan atas arahan dia. Itu tindakan spontanitas massa lantaran mendengar informasi dirinya dianiaya korban dan keluarganya.

Awalnya saya diundang ke acara sambut baru cucu dari keluarga saya itu. Saya menyadari diantara kami, hubungan sempat renggang sejak Pemilu Legislatif yang baru lewat. Namun karena sudah diundang, saya tetap ke sana dengan tujuan untuk membuat suasana yang selama ini beku karena perbedaan politik menjadi cair kembali. Tapi malah di sana, korban menyinggung soal pemilu legislatif dan saya menjawab bahwa tidak perlu dibahas lantaran masa politik itu sudah lewat. Saya dan korban memang ada minum miras sedikit tapi saya masih sadar.

Tiba – tiba korban meninggalkan saya dan salah satu anaknya bernama Melki datang memukul saya hingga terjatuh dan dada saya diinjak oleh Yanto. Dan pamannya Egidius Najumolo memukul saya dari belakang. Saya sudah agak parah dipukul, mungkin keluarga tidak terima mendengar saya diperlakukan seperti itu, sehingga mereka secara spontan datang dan menyerang rumah korban. Soal saya yang menggerakan massa, itu tidak benar. Saya ada niat baik penuhi undangan, kalau niat saya tidak baik sejak awal saya tidak mungkin ke acara itu karena hubungan kami lagi renggang sejak lama.

Mereka bagian dari keluarga saya, kalau mereka mau diprovokasi oleh orang – orang tertentu yang berkaitan dengan politik untuk kepentingan mereka, ya saya siap saja ikuti mereka mau seperti apa. Mau damai ya damai, mau lanjut berproses ya saya sudah siap hadapi, toh saya juga sudah seperti ini, dikeroyok oleh mereka”, beber politisi NasDem TTU, Brando.

Sementara sumber informasi lain yang diwawancarai media ini, KT mengatakan tidak mungkin massa dalam waktu yang secepat itu datang menyerang rumah korban. “Pasti sudah ada perencanaan sebelumnya, berupa percakapan telpon dan lain – lain sehingga mereka berani datang. Lagian jarak rumah korban dan alamat para pelaku cukup jauh, bisa jadi mereka digerakkan oleh seseorang”, ungkap KT.

Saksi lain juga membeberkan, aksi penyerangan ke rumah korban itu menimbulkan rasa trauma pada anak korban. Batu – batu yang berserakan dalam rumah korban, sampai ke dalam kamar anak korban tersangkut pada kelambu tempat tidur anak korban.

“Saat beradu mulut itu, ada yang lapor ke pihak kepolisian. Dan situasi sudah kondusif saat itu. Namun tiba – tiba aksi penyeranganpun terjadi. Atas kejadian itu pihak korban sudah melapor duluan. Saat dia mengetahui pihak korban sudah duluan melapor, dia cepat – cepat menelpon pihak kepolisian minta divisum. Kami heran ada anggota dewan yang bertindak sebodoh itu, menggerekan massa yang adalah keluarganya samoai datang membawa baranf tajam.seperti kelewang, parang, bahkan panah. Kelewang sudah langsung ditaruh di leher korban, istri korbanpun nyaris dipanah. Polisi harus mengusut siapa aktor dibalik aksi penyerangan tersebut. Dan semoga proses hukum yang sudah berjalan tidak tebang pilih. Anggota dewan yang dikatakan terhormat kalau sudah bertindak anarkis seperti ini, bagaimana bisa melihat dan bekerja untuk masyarakatnya dengan baik “, tukas DS.

Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian Sektor Mena masih mendalami kasusnya. “Laporannya sudah diterima dan sementara didalami kasusnya sehingga kami belum bisa pastikan bahwa otak pelaku dibalik aksi brutal pengrusakan rumah korban, Yonatas Tahoni adalah Brando. Tapi yang jelas semua pelakunya adalah keluarga Brando Sonbiko”, jelas Kapolsek Biboki Selatan, Iptu Yosep Baun, saat dikonfirmasi media ini per telepon, Senin (21/10/2019).