Pilih Pemimpin Gereja Dengan Cara Undi

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – ‎Memahami Roh Allah juga bekerja dalam mekanisme demokrasi one man one vote kedepan alangkah baiknya memilih pemimpin gereja dalam hal ini Gereja Masehi Injili di Timor dipilih dengan cara undi sebagaimana yang direkomendasikan dalam Kisah Para Rasul 1:26. Yang memilih bukan mereka yang mempunyai hak suara tetapi persidangan ini memberi kewenangan kepada Tuhan Yesus yang memilih sebab Tuhan Yesus Sang Kepala Gereja yang mengenal hati semua orang.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Panitia Persidangan Sinode GMIT XXXIV di Jemaat GMIT Paulus, Prof.Dr.L.Benu pada acara pembukaan Selasa (15/10/2019).

Dikatakan pemilihan cara undi akan menjadi preseden baik yang bisa juga dilakukan di tingkat klasis dan jemaat dalam memilih kerjanya.

Dalam laporan panitia tersebut Rektor Undana ini menyampaikan terhadap persidangan yang demikian besar menghabiskan anggaran sampai mencapai Rp 3 M dengan waktu penyelenggaraan lebih dari satu minggu pihaknya sebagai panitia menyampaikan hasil refleksi agar persidangan yang sama di masa mendatang dapat dilakukan secara strategis berjenjang yang lebih bersifat pleno hasil persidangan di tingkat jemaat dan tingkat klasis.

Mantan Kepala Lemlit Undana ini mengemukakan penjenjangan persidangan seperti ini akan membatasi pembahasan suatu agenda tertentu yang terlalu panjang dengan hanya membahas rumusan persidangan pada tingkat klasis.

Menurut dia, bahan refleksi ini perlu mendapat pembahasan lebih lanjut dalam persidangan kali ini khususnya melalui Komisi termasuk di dalamnya mekanisme persidangan. Pemilihan Kepengurusan Majelis Sinode masa layanan berikutnya yang lebih ditekankan pada kerelaan untuk mengirimkan Roh Allah bekerja ditengah tengah persidangan tanpa harus memaksakan bekerjanya mekanisme demokrasi “one Man one vote”.

“Walaupun kita juga mengimani Roh Allah turut bekerja dalam mekanisme demokrasi one Man one vote,” tambahnya.

Fred mengutip cerita dalam Kitab Kisah Para Rasul 1;15-26 dimana Rasul Petrus memimpin sebuah pertemuan yang dihadiri 120 orang untuk memilih pengganti Yudas yang sudah mengkhianati Yesus. Ada dua kandidat yang diusulkan yakni Yusuf alias Barsabas, alias Yustus dan Mathias. Ayat (23).

Lebih lanjut dituturkannya pada ayat 26 secara jelas menyebutkan pemilihan dengan cara diundi. Sebelum diundi semua berdoa begini “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini ayat (24).

Diungkapkannya alangkah indahnya jika dalam persidangan kali ini, bertepatan dengan hanya ada dua kandidat ketua, GMIT membuat Sejarah Iman memilih pemimpin gereja dengan cara yang direkomendasikan dalam Kisah Para Rasul 1:26.

Bahan refleksi ini menurut Fred disampaikan untuk dibahas secara serius dalam persidangan kali ini, semata hanya untuk mendorong terciptanya persidangan yang efektif, efisien dan solutif dengan upaya gereja mendorong kehidupan jemaat untuk hidup secara sederhana, tidak hedonis, membangun kehidupan jemaat secara ugahari. Dan juga sebuah persidangan yang teologis.

Prof. Fred menyampaikan ini adalah pengalaman pertamanya memimpin Panitia Persidangan yang melibatkan hampir 1000 orang peserta sidang dengan hak berbicara hampir mencapai 500 orang yang akan membahas paling sedikit agenda belum termasuk belum termasuk persidangan pemilihan ketua, sekretaris dan pengurus Majelis Sinode GMIT Periode Layanan 2019-2023.

“Saya tidak bayangkan jika tidak didukung oleh panitia yang kuat, penuh komitmen dan dedikasi dengan kerjasama yang kuat dengan Majelis Klasis Kota Kupang beserta Majelis Jemaat dan Jemaat Paulus maka tidak mungkin persidangan ini dapat berlangsung dengan baik,” ujarnya sembari menambahkan terima kasih atas kerjasama yang baik yang telah ditunjukkan Ketua Harian Dr. Ludji Riwu Kaho dan Sekretaris Umum, Dr. Roddialek Pollo beserta 200 anggota panitia Ketua Majelis Klasis Kota Kupang, Pdt. Nona Manu Nalle dan Ketua Majelis Jemaat GMIT Paulus. Pdt. Jacky Latuparisa dan seluruh jemaat.

Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon menyampaikan Suara Gembala mengatakan Tata Cara Pemilihan MS GMIT bisa diubah jika ada perubahan Tata GMIT. Pdt. Mery mengingatkan peserta sidang untuk serius memberi perhatian pada materi persidangan dan tidak diganggu perhatiannya dengan gadget.

“Kita berada Revolusi 4:0 yang dengan mudah terkoneksi ke dunia luar karena ada Wifi, sidang ini dididoakan jemaat karena itu harus fokus ke materi sidang dan bukan gadget,” pintanya.

Wacana mengamandemen Tata GMIT pada warga gereja sudah sangat lama dan masif didiskusikan warga gereja yang progresif. Hanya saja mekansimenya sulit karena harus melalui persidangan jemaat jemaat. Ada berapa banyak jemaat yang paham tentang Tata GMIT. Dalam Tata GMIT ada Peraturan Pemilihan dimana Panitia Pemilihan harus bekerja berdasarkan Tata GMIT sebagai konstitusi. Sementara arus kuat warga jemaat yang progresif menghendaki Tata Cara Pemilihan yang ada saat ini harus diganti.

Pantauan media ini di arena persidangan ada yang berpendapat Sidang Sinode GMIT ke 34 sebagai Forum Pengambilan Keputusan Tertinggi dapat saja mengamandemen Tata GMIT termasuk Peraturan Pemilihan untuk diberlakukan pada Persidangan Sinode ke 35. Aturan itu dibuat untuk manusia bukan untuk aturan sendiri. Untuk kepentingan gereja Tuhan dan warga gereja harus ada tindakan extra ordinary yang melampaui aturan itu sendiri untuk kepentingan perubahan dalam gereja. Kalau mengikuti mekanisme normal akan memakan waktu dan biaya yang besar. Gereja reformasi harus terus mereformasi dirinya termasuk aturan aturan yang tidak sesuai konteks jemaat.

Persidangan Sinode GMIT ke-34-2019 ini berlangsung dari 15-22 Oktober 2019. Acara pembukaan dihadiri Gubernur NTT, Viktor B Laiskodat, Ketua DPRD NTT, Ir. Emelia Nomleni, Walikota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore, Romo Geradus Doeka mewakili Uskup Agung Kupang, Ketua MUI NTT, Drs. Abdulkadir Makarim, Ketua PGI, Ketua GPI Pdt. Lintje Sumampou, Gereja Gereja Mitra dalam dan luar negeri, Ketua Sinode GKS, Ketua Sinode Gereja Protestan Timor Leste.

Pada acara pembukaan ini diluncurkan Buku GMIT di Panggung Kehidupan. Pengkhotbah pada kebaktian ini Pdt. Emeritus Thoby Mesakh. Dari prosesi para pejabat negara, para pelayan dan liturgos dengan tari tarian berlangsung hikmah dan penuh sukacita. Ribuan jemaat GMIT memadati gedung gereja, tumpah ruah hingga ke halaman gereja. Puncak kemarau panjang tak menghalangi niat mereka mengikuti pesta iman tersebut.

Jalan Soeharto ditutup total dari persimpangan Basuki Rahmat, Durian dan Flamboyan. Aparat keamanan dan pemuda gereja bahu membahu mengatur arus lalu lintas dan menjaga keamanan.(non)