Ini Strategi Sikapi Rentenir Berkedok Koperasi

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT menggunakan dua strategi untuk mengatasi praktek rentenir berkedok koperasi dilakukan sejumlah pihak yang dapat memperburuk citra koperasi.

Kepala Dinas Koperasi, Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTT, Sisilia Sona sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Rabu (16/10/2019).

Sisilia mengatakan, pihaknya menerima pengaduan masyarakat terkait maraknya penipuan dan atau investasi ilegal berkedok koperasi. Misalkan, penipuan berupa pinjaman tanpa bunga dan pinjaman modal yang ditawarkan melalui media sosial. Cara yang dilakukan melalui facebook, short message service (SMS), serta telepon mengatasnamakan Kementerian Koperasi, Dinas Koperasi provinsi maupun kabupaten/kota.

Sisilia menyatakan, ada juga pinjaman online berkedok koperasi tapi rentenir dan banyak masyarakat menjadi korban penipuan.

“Rentenir yang berkedok koperasi cenderung menggebu-gebu memberikan pinjaman dengan persyaratan yang sangat sederhana, hanya KTP dan langsung dicairkan,” kata Sisilia

Ia menyatakan, menyikapi praktek rentenir berkedok koperasi dimaksud, pihaknya menggunakan dua prinsip, yakni legal dan logis. Aspek legal untuk mengetahui legalitas lembaga dan usaha dengan cara melihat badan hukum koperasi, dan diklarifikasi badan hukum koperasi melalui dinas setempat. Setelah melihat badan hukum koperasi, perlu dicek kegiatan usaha atau koperasi hanya papan nama.

“Harus juga dipastikan soal izin usaha simpan pinjam, izin pembukaan kantor cabang yang dikeluarkan pemerintah,” papar Sisilia.

Sementara itu, lanjutnya, aspek logis adalah upaya untuk mengetahui logis atau tidaknya sarana yang ditawarkan. Caranya, memperhatikan tingkat bunga. Melihat cara promosi koperasi, yakni dengan cara sembunyi-sembunyi atau terbuka, memiliki tempat usaha dan status kepemilikan.

“Kita imbau masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan rayuan kemudahan dan kecepatan dalam mencairkan pinjaman,” pinta Sisilia.