Kemana Suara Asprov PSSI NTT Menjelang Kongres PSSI?

Bagikan Artikel ini

Laporan Frans Watu
Jakarta, NTTOnlinenow.com – Komita Pemilihan telah menetapkan 8 nama calon Ketua Umum PSSI yang akan bertarung di Kongres PSSI awal November nanti. Dari 8 nama itu ada nama Fary Djemi Francis putra NTT mantan penjaga gawang Bank Suma dan Persedil.

Disamping Fary beredar muka lama yang punca catatan plus dan minus di mata penggiat dan pemerhati bola Indonesia, sebut saja La Nyala Mataliiti, Bernard Limbong, Rahim Sukasah.

“Kalau ada yang baru kenapa pilih yang lama, toh yang lama kita sudah tahu sepak terjang dan prestasinya. Berikan kesempatan kepada yang baru dengan konsep dan program yang konkrit demi pengembangan dunia sepakbola nasional”, tegas Ari Bali eksekutif muda mantan pemain Bonak Kupang.

Hadirnya mantan penjaga gawang Bank Suma, perintis sepakbola dari perbatasan Timor Leste mendapat apresiasi dari perkumpulan mantan pemain NTT (NTT All Star) seperti Lourens Fernadez, Agustinus Maufa, Yun Bali, Ari Bali, Marsel Muja, Carel Dae, Yopi Riwoe, Nelson Noak, Dwi Pranayudha, Polce Kia, Ricky Ndun, Veri Bili.

“Fary kita kenal baik tentang komitmen dan dedikasinya di dunia sepakbola. Punya visi dan kosep pengembangan sepakbola yang cukup bagus jika didukung oleh para mantan pemain dan media serta stakeholder sepakbola Indonesia. Beliau punya pengalaman dan jaringan luar negeri yang sangat luas. Kalau kita mau sepakbola kita berubah, saya kira Bung Fary pilihan yang tepat, tegas Veri Nelson Bili mantan pemain Pra PON dan PSK Kupang seangkatan dengan Fary.

Fary putra NTT maju dengan dukungan dari PSN Ngada anggota Liga 3 dari kabupaten Ngada-Flores. Sayangnya dukungan tertulis yang disampaikan PSN Ngada, tidak diikuti oleh Frans Lebu Raya Ketua Asosiasi Sepakbola Provinsi NTT. Kalau mau NTT maju di bidang sepakbola harusnya Asprov NTT bisa mengikuti langkah PSN Ngada, lanjut Veri.

Sepakbola dibangun tidak semata dengan dukungan finansial, perlu cinta dan jaringan yang memadai serta intgritas dari sang nahkoda. Kita harus belajar dari kepengurusan PSSI saat ini. Jadwal liga yang terkesan kebut semalam berdampak pada penampilan Timnas yang amburadol. Hadirnya pemain yunior dikelompok umur bukan dari hasil kompetisi yang diputar PSSI tapi lebih banyak atas inisiatif kelompok di luar PSSI.

Dengan kondisi federasi sepaknbola Indonesia seperti ini, kita perlu nahkoda yang punya integritas dan paham tentang seluk beluk sepakbola. PSSI butuh orang yang punya hati dan cinta akan sepakbola, bukan mereka yang latah karena punya uang.

Saya hanya mau mengajak teman-teman Asprov PSSI NTT dan para voter yang punya hak memilih agar kedepankan masa depan sepakbola Indonesia jangan karena uanga dan iming-iming dibalik dukungan lalu menentukan pilihan berdasarkan pesanan. Kalau sudah ada Satgas pemberantasan mafia wasit, mudah-mudahan ada tim pengak hukum atau FIFA yang turut memantau proses pemilihan Ketua Umum PSSI di arena Kongres nanti.

“Saya takut Asprov NTT masuk angin, karena kandidat yang maju dalam perebutan Ketua Umum PSSI kali ini ada beberapa yang mengandalkan dukungan finansial, mereka akan menghalalkan segala cara. Hal ini lazim dalam perebutan tampuk pimpinan di setiap organisasi apalagi sekelas PSSI. Uang bisa mengalahkan moral dan melulukan hati, lanjut Koordinator NTT All Star Frans Watu.

Fary merupakan orang NTT kedua yang mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI setelah Yacob Nuwa Wea mantan Menteri Tenaga Kerja di era Presiden Megawati.

Pada Kongres PSSI 2003, ketika pemungutan suara tahap pertama, Nurdin Halid meraih 131 suara, Yacob Nuwa Wea 134 suara, Sumaryoto hanya 88 suara. Karena tidak ada satu calon pun yang memperoleh 50 persen plus satu suara, digelarlah pemilihan ulang, hanya diikuti Nurdin Halid dan Yacob Nuwa Wea. Dalam pemilihan kedua, Nurdin meraih 183 suara, mengalahkan Nuwa Wea dengan 167 suara.