Tradisi Batar Manaik, Pemersatu Kelompok Suku di Malaka

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Malaka, NTTOnlinenow.com – Tradisi Batar Manaik, merupakan salah satu tradisi adat tahunan di desa Builaran kabupaten Malaka yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Tradisi ini kembali digelar tahun 2018 dan tahun 2019 dengan tujuan untuk menumbuhkan kembali semangat cinta akan budaya peninggalan leluhur.

Dikisahkan tokoh adat desa Builaran, Frans Taek Larasi bahwa tradisi Batar Manaik sesungguhnya merupakan persembahan upeti dari rakyat kepada rajanya.

Upeti disimpan di atas tikar yang digelar di depan rumah adat

“Tradisi Batar Manaik sesungguhnya kegiatan Persembahan upeti dari rakyat Wehali kepada Raja Liurai Malaka dan pemberlakuannya mengikuti keberadaan atau kedudukan Raja Liurai sesuai tempat berdiamnya (Tafatik) Liurai Malaka”, kisah Taek.

Ia juga menyampaikan, tradisi Batar Manaik sudah ada sejak masa jaya kerajaan Wesei Wehali. “Bermula dari Laran sejak masa jayanya Kerajaan Wesei Wehali, kemudian mengalami pergeseran tempat sekitar tahun 1700 an Liurai Malaka bersama kelompok masyarakat adatnya berimigrasi dan terakhir menetap di Builaran hingga sekarang”, lanjutnya.

Makna adat yang terkandung pada Festival Batar Manaik itu sendiri, seperti yang disaksikan pagelarannya terdapat ungkapan simbol penghormatan, ketaatan, rasa persatuan dan kebersamaan dalam tatanan hidup masyarakat adat Wehali kepada Raja Liurai Malaka.

Upeti dibawa masuk ke rumah adat

Sesuai pantauan media ini, pelaksanaan Batar Manaik diawali dengan musyawarah Liurai dengan tokoh – tokoh adat berwenang untuk membahas persiapan dan rencana kegiatan. Setelah itu beberapa Fukun diutus untuk memberitahu sekaligus mengundang para Raja, suku – suku terkait, dan pemerintah agar menghadiri kegiatan Batar Manaik.

Ada yang unik dan menarik dalam rangkaian persiapan Prosesi Batar Manaik. Media tanggal undangan menggunakan sepenggal pintalan tali yang dibuat simpul sebanyak 4 (empat) simpul untuk menunjukkan bahwa 4 hari lagi akan tiba hari puncak Kegiatan Batar Manaik, dengan tujuan memudahkan ingatan. Setiap harinya digunting buang satu simpulan, sampai tinggal satu simpul, itulah hari H Kegiatan Batar Manaik.

Pada hari puncak, setiap kelompok masyarakat membawa Upeti bisa dalam bentuk hasil pertanian, hewan atau dalam bentuk uang logam. Sambil menunggu prosesi, barang dan hewan yang dibawa masyarakat diletakkan sementara pada tempat yang ditentukan, lalu ada yang ditugaskan untuk mengecek semua upeti yang terkumpul. Apakah semua kelompok masyarakat sudah datang atau belum. Kemudian petugas itu kembali dan kalau semua sudah datang lengkap, ia akan memberi isyarat kepada kelompok – kelompok suku untuk berarak secara bergilir diiringi tarian likurai mengantar upeti. Upeti yang diantar, diletakkan di atas tikar dibentang di pelataran depan rumah adat Malaka. Di sana beberapa sesepuh adat sudah menunggu untuk dilakukan ritual adat sirih dan pinang.

Semua masyarakat dan tamu undangan menerima suguhan sirih pinang, sebagai lambang kekuatan adat

Pada jaman dahulu kala, saat menunggu rakyat mengantar upeti, Raja Liurai bertakhta di atas balai – balai istana didampingi Fukun Manesanulu dan Fukun Manleten. Menurut tradisi, Fukun Manesanulu di sisi kanan dan Fukun Manleten di sisi kiri. Suasana ketertiban sekitar Istana diatur oleh Troi Mutin dan Troi Metan. Usai ritual adat dilakukan ada pesan – pesan yang harus diperhatikan untuk peningkatan upeti pada tahun berikutnya. Hantaran upetipun dibawa masuk ke Istana Raja Liurai untuk 1 – 2 hari, kemudian dipindahkan ke rumah adat tempat penyimpanan upeti.

Upeti yang dimasukan, selain digunakan di Istana, juga bisa diberikan oleh Raja Liurai kepada masyarakat yang mengalami kekurangan pangan.

Bupati Malaka, Stefanus Bria Seran yang dikonfirmasi melalui Kadis Pariwisata Malaka, Rofinus Bau menjelaskan, kegiatan Batar Manaik dari kacamata Pariwisata dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.

“Kegiatan Batar Manaik ini tidak sebatas bagaimana kita membawa upeti, tapi dari kacamata Pariwisata, bisa menggerakan niat para wisatawan untuk bisa hadir dan menyaksikan event Batar Manaik”, jelas Bau.

Tarian menghibur tamu undangan

Menurutnya Batar Manaik di desa Builaran merupakan salah satu budaya termahal peninggalan leluhur yang harus terus dilestarikan.

“Batar Manaik ini salah satu warisan leluhur yang tak ternilai harganya. Ini hanya ada di kabupaten Malaka. Oleh karena itu, mari kita bersama menjaga budaya ini agar tidak punah. Perlu dipelihara dan dilestarikan dari generasi ke generasi, ini salah satu budaya kebanggaan kita. Upacara adat seperti ini juga untuk menjalin relasi baik dan harmonis antar kelompok suku dalam lingkungan Liurai Malaka.”, demikian Rofinus.

Kepada Kementerian Pariwisata RI yang sudah melirik event ini dan mendukung penuh terselenggaranya kegiatan ini, Pemerintah Kabupaten Belu melalui Kadispar Malaka menyampaikan ungkapan terimakasih. Yang mana kegiatan swadaya masyarakat adat ini mendapat dukungan baik dari pihak Kemenpar RI.

“Terimakasih juga untuk Kemenpar RI yang dengan berbagai cara telah mendukung penuh berlangsungnya Festival Batar Manaik sehingga boleh terselenggara dengan baik hingga akhir kegiatan. Kami Pemerintah Kabupaten Malaka tetap berharap dukungan dan kerjasama dari Kemenpar RI di tahun – tahun mendatang”, ungkap Bau kepada media ini di lokasi kegiatan, desa Builaran kecamatan Sasitamean kabupaten Malaka, Jumat (27/09/2019).Gelaran Festival Batar Manaik ini berlangsung di depan rumah adat Dominikus Kaloit.