Disorot FWI Motaain Sepi dan Buang – buang Uang Negara, begini Tanggapan Perwakilan Kemenpar RI dan Pemkab Belu

Bagikan Artikel ini

Laporan Judith Lorenzo Taolin
Atambua, NTTOnlinenow.com – Festival Wonderful Indonesia (FWI) 2019 yang diselenggarakan ke empat kalinya di PLBN Motaain dinilai sepi dan buang – buang uang negara. Sorotan tersebut dirilis salah satu media online. Menanggapi pemberitaan tersebut, Perwakilan Kemenpar RI Herbin Saragih malah berterimakasih dan tanpa bermaksud mengintervensi media manapun, ia menjelaskan tujuan dan maksud daripada kegiatan FWI.

“Kita siap dikritik untuk hal – hal yang positif. Namun dari teman teman media, mungkin bisa dipahami dulu tujuan event Kemenparnya”, tukas Saragih dan lanjut menjelaskan tujuan kegiatan Kemenpar yang dikemas dalam FWI.

“Event Crossborder itu tujuan utamanya mendatangkan wisman dari Timor Leste sebanyak banyaknya melalui berbagai event. Apakah itu dengan kegiatan seperti yang sekarang Festival Wonderful Indonesia, lomba mancing, balap, konser musik dan lain – lain. Indikator kita adalah jumlah wisatawan asing yang masuk ke Indonesia”, sambung Saragaih.

Sesuai pemberitaan yang di lansir salah satu media online, di lokasi FWI nampak sepi tak ada pengunjung booth dan pagelaran musikpun tak ditonton pengunjung. Turut dijelaskan Saragih. “Kalau untuk sepi dan ramai itu tidak bisa kita paksakan, itu tergantung masyarakatnya mau hadir atau tidak, kita tidak bisa memaksakan. Teori ekonominya begini, semakin banyak orang berkunjung ke daerah tertentu akan dengan sendirinya meningkatkan taraf ekonomi masyarakat. Kita bisa lihat multiplier efek dari banyaknya orang yang berkunjung ke Kota Atambua. Dengan sendirinya pertumbuhan ekonomi makin bagus. Beberapa tempat usaha seperti hotel , warung makan , dan lain lainnya. Apa yg kami lakukan ini adalah bagian untuk membangun NTT khususnya kabupaten Belu, Malaka dan TTU. Dari sisi pariwisata tujuannya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Kedepannya kami siap menerima masukan dengan metode apa yg bisa kami lakukan untuk mendatangkan Wisatawan dari Timor Leste dan Wisatawan Lokal”, jelas Saragih.

Lanjutnya, “Kalau hanya sekedar buat ramai kami tidak selenggarakan kegiatan ini di siang hari. Dan kenapa harus difokuskan kegiatannya di tiga PLBN RI – RDTL . Kita kan bisa selenggarakan kegiatannya di kota dan bisa bikin malam hari pasti jadi ramai dengan konser musik. Tapi inikan tujuannya lain sehingga dilaksanakan di batas negara”, ungkapnya.

Tanggapan senada juga disampaikan Kadis Pariwisata Belu, Remigius Asa. Menurut Asa, Misi utama kegiatan Kemenpar yang dikemas dalam Festival Wonderful Indonesia bukan untuk menghibur masyarakat semata. Tapi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dari negeri tetangga”, ungkap Kadis Remigus Asa yang dihubungi pertelepon Sabtu (28/09/2019).

Remigius Asa, Kadis Pariwisata Belu

Asa mengakui bahwa ia dihubungi wartawan media online per WhatsAp dan ia hanya meminta jika kegiatan itu sepi perlu dievaluasi kembali untuk dirubah bentuk kegiatannya. “Saya tidak lihat wartawannya di lokasi kegiatan, dia WA ke saya sehingga perlu diluruskan kembali beritanya apalagi tanpa konfirmasi pihak panitia. Sepi itu hanya pada jam – jam tertentu saja bukan sepi dari awal kegiatan hingga selesai karena saya berada di sana waktu itu. Sepinya di pagi hari saja karena masing – masing orang masih punya kesibukan di rumah dan tempat kerja”, tuturnya.

Asa juga tidak mau terkesan mencampuri profesionalisme Pers. “Saya sangat menghormati profesi teman – teman media yang adalah mitra baik saya. Sekali lagi saya tidak mencampuri profesionalisme media tapi tentunya dalam aspek pemberitaan terdapat kaidah – kaidahnya”, lanjutnya.

Kepada media ini Asa membeberkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Belu, sesuai yang disampaikannya kepada awak media lainnya. Sampai dengan Agustus 2019 sebanyak 5.679 orang.

“Rincian wisatawan domestik 4.044 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 1.635 orang. Dari data tersebut menunjukan, jumlah wisatawan domestik yang berkunjung ke Kabupaten Belu keadaan Agustus 2019 sebanyak 4.044 orang, laki-laki 3.009 orang dan perempuan 1.241 orang.

Wisatawan mancanegara sebanyak 1.635 orang, laki-laki 1.035 orang dan perempuan 394 orang. Jumlah kunjungan wisatawan akan terus bertambah hingga Desember 2019. Terkait jumlah kunjungan wisatawan tahun 2018, Remi Asa menuturkan, total kunjungan wisatawan tahun 2018 mencapai 103.098 orang, rincian wisatawan domestik 34.789 orang dan wisatawan mancanegara sebanyak 68.309 orang.

Jumlah ini selain dihimpun dari hotel-hotel juga dari institusi yang menangani pelintas batas. Meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara menjadi pratanda bahwa potensi Pariwisata di Belu cukup diminati wisatawan mancanegara”, beber Asa.