Perpustakaan Desa Mulai Dibangun Tahun 2020

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Program Pemerintah NTT untuk mendukung gerakan literasi adalah membangun perpustakaan modern di setiap desa yang mulai dilaksanakan pada tahun 2020 mendatang.

Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi sampaikan ini di Kupang, Jumat (27/9/2019).

“Perpustakaan yang dibangun tidak hanya sekedar ada buku, tetapi memiliki internet dan menjadi perpustakaan online,” papar Nae Soi.

Ia mengatakan, program menghadirkan perpustakaan di setiap desa sebenarnya sudah harus dilaksanakan. Namun karena keterbatasan anggaran dan prioritas pembangunan, program perpustakaan desa belum terealisasi.

“Kita belum laksanakan program perpustakaan desa karena anggaran masih difokuskan untuk pembangunan infrastruktur dan pendidikan,” kata Nae Soi.

Ia menyampaikan, untuk pembangunan perpustakaan desa, pemerintah akan mencari sumbangan pihak ketiga. Bahkan sudah ada pihak yang menyalurkan bantuan melalui tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Pada kesempatan itu ia berargumen, salah satu upaya mensejahterakan rakyat adalah menggelar festival literasi di Mbay, Kabupaten Nagekeo pada 27- 30 September. Kegiatan ini untuk membudayakan semangat membaca dan menulis agar masyarakat buta aksara atau yang kemampuan membaca dan menulisnya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dapat melatih diri untuk terbiasa membaca. Selain itu mampu menyerap dan mengelola informasi yang sudah dibaca demi kepentingan hidupnya.

“Semua orang di NTT mungkin bisa membaca, tetapi bagaimana menterjemahkan apa yang sudah dibaca dalam kesehariannya, belum tentu semua bisa. Bahkan yang menyandang gelar S1 atau S2 pun belum tentu bisa menterjemahkan apa yang sudah dipelajarinya,” tandas Nae Soi.

Ia menyatakan, semestinya dengan pengetahuan yang dimiliki, misalkan jebolan S1 dan S2 di bidang pertanian atau peternakan, mampu mengimplementasikan apa yang sudah dipelajari di bangku kuliah. Sehingga mereka bisa bertani atau beternak secara profesional.

“Jebolan sarjana yang masih menganggur, tidak perlu malu pulang kampung untuk mengaplikasikan ilmu di kampung halamannya. Belajar itu bukan hanya untuk dapat ijazah, tapi bagaimana menterjemahkan pengetahuan yang ada. Itu yang paling penting,” harap Nae Soi.

Ia meminta masyarakat NTT yang putus sekolah tidak perlu berkecil hati atau minder. Karena belajar yang sesungguhnya tidak mengenal waktu dan ruang. Asal tekun membaca dan melatih diri dalam mengelola informasi, serta terampil menerapkan informasi yang didapat dalam kegiatan sehari-hari, kesuksesan akan terpampang di depan mata.

“Kita belajar bukan untuk sekolah, tapi untuk hidup. Sehingga sepanjang hidup kita sebenarnya adalah belajar,” ujar Nae Soi.