Petrus Bere : Cukup Beralasan Jika Kita Menempatkan Desa Sebagai Titik Dasar Pembangunan

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Kabupaten Malaka sebagai bagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan sebagai Kabupaten Perbatasan, memiliki jumlah penduduk sekitar 181.404 jiwa (tahun 2015), yang tersebar di 12 Kecamatan,127 Desa,715 Dusun,810 RW dan 1.787 RT. 100 % penduduk Kabupaten Malaka tinggal di desa.

Sementara semua sumber daya baik SDM maupun SDA terkonsentrasi di desa. Dengan demikian cukup beralasan jika kita menempatkan desa sebagai titik star pembangunan.

Hal itu dikatakan Bakal Calon Bupati Malaka Periode 2020-2025, Petrus Bere di Atambua, Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL, Rabu (25/9/2019).

Dikatakn, patut disadari bahwa Kabupaten Malaka usianya masih sangat muda. Dalam usia yang demikian, sangat dibutuhkan ide, gagasan yang konstruktif dari berbagai pihak sebagai wujud rasa ikut mimilki daerah otonomi baru ini.

“Bupati Perdana Malaka bersama jajarannya , telah melakukan berbagai hal dengan salah satu Program Unggulannya adalah Revolusi Pertanian. Melalui revolusi ini diharapkan luas lahan olahan petani semakin bertambah, produksi dan produktivitas pertanian semakin meningkat yang bermuara pada peningkatan pendapatan masyarakat petani,” ujar Bere.

Lanjut Bere, secara jujur boleh kita simpulkan bahwa program ini belum optimal mengatasi persoalan yang sedang dihadapi petani yaitu rendahnya produksi dan produktifitas pertanian yang bermuara pada rendahnya pendapatan masyarakat petani.

“Program ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat bila didukung dengan beberapa hal antara lain, perlu adanya perubahan Mindset baik di kalangan petani maupun pengelola program. Di kalangan petani perlu adanya perubahan pola hidup konsumtif menjadi pola hidup produktif. Perlu adanya perubahan sikap petani dari kurang disiplin menjadi petani yang disiplin, kreatif ,inovatif dan produktif,” terang dia.

Bere juga menekankan bahwa, perlu ada perubahan pola pikir dari “Proyek Oriented” ke Mision Oriented” dari para pengelola program. “Kalau kita memandang program ini dengan menggunakan Kacamata Proyek, maka hasilnya lebih banyak berupa berkas-berkas pertanggungjawaban administratif yang tersusun dan tersimpan rapih,” ujar dia.

Bere memandang, saat ini di desa-desa masih terdapat lahan-lahan tidak produktif (lahan tidur) yang cukup luas.
Data menunjukkan bahwa kemampuan olah lahan oleh masing-masing petani masih berkisar 0,6 ha, dengan rata-rata penghasilan jagung 0,7 ton per petani.

“Kondisi penghasilan seperti ini belum mampu menjawab kebutuhan konsumsi keluarga sehingga tidaklah heran kalau masih banyak petani yang mengalami kelaparan dan menaruh harapan pada beras dari Pemerintah,” ungkap Bere.

Disisi lain Sumber Daya Alam di Malaka cukup besar. Untuk itu sangat dibutuhkan kerja sama dan kerja keras dari semua anak Malaka. “Jangan hanya mampu berdebat tanpa kesimpulan, tetapi mari kita bersatu “ Kaen Kelun ba malu” dalam balutan ‘Tebe Rai Malaka’,” tandas dia.