Tenun Ikat NTT Terancam Diprinting

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Tantangan yang dihadapi para penenun adalah motif NTT sudah sangat merajalela untuk diprinting dan akan mematikan penenun di desa-desa.

Ketua Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) NTT, Julie Sutrisno Laiakodat sampaikan ini di Kupang, Jumat (13/9/2019).

Julie mengatakan, menyikapi tantangan dimaksud, pemerintah melalui instansi terkait harus berkolaborasi untuk mengurus hak cipta. Sehingga hasil tenun ikat NTT mendapat pengakuan dari pihak lain dan tidak diklaim sebagai milik mereka.

“Kita patut berbangga karena hasil produk tenunan NTT begitu hebat dan go internasional,” kata Julie.

Ia menyampaikan, hasil produk tenunan NTT sangat luar biasa dan sudah dibawa ke New York, Paris, London dan Australia. Bahkan akibat dari kegiatan promosi yang dilakukan, beberapa waktu lalu dirinya menerima penghargaan Dekranasda Award sebagai Deskranasda terbaik tingkat nasional. Penghargaan itu langsung diberikan langsung ibu wakil Presiden RI. Pada saat itu, seluruh ibu bupati se-NTT juga hadir dengan memakai pakaian tenun masing- masing daerah.

Julie berargumen, sejauh ini NTT sudah terkenal. Namun kendala yang dihadapi penenun di NTT adalah kekurangan modal dan pemasaran. Mengatasi persoalan ini, Dekranasda bekerjasama dengan PKK provinsi dan kabupaten untuk mendirikan desa model dan setiap kabupaten didirikan satu desa model.

“Setiap kabupaten ada desa model dan ada penenun. Mereka akan diberikan benang gratis oleh dekranasda provinsi. Benang yang diberikan itu bukan benang biasa, tetapi benang standar yang tidak luntur,” terang Julie.

Ia berharap motif tenun ikat NTT tidak boleh diubah karena itu menjadi nilai cerita. Tapi warnanya disesuaikan dengan pangsa pasar. Misalnya, Amerika dan Eropa suka warna alam. Sehingga benang yang diberikan adalah benang yang harus warna alam.

“Kita harus sesuaikan dengan permintaan pasar, karena pasar-pasar dunia selalu meminta warna yang berbeda- beda,” terang Julie.

Lebih lanjut ia menyebutkan, persoalan lain yang dihadapi penenun adalah pangsa pasar. Karena itu, selaku Ketua Dekranasda NTT, pihaknya mengimbau para pejabat/ASN lingkup Pemprov NTT untuk membeli tenun ikat NTT.

“Setelah Dekranasda memberikan bantuan benang, peralatan dan mencarikan pangsa pasar, para penenun harus menjaga kualitas tenunannya,” tandas Julie.

Kepala Biro Humas dan Protokol Setda NTT, Marius Jelamu menjelaskan, sebelum Viktor Bungtilu Laiskodat dan Josef Nae Soi dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur NTT, Julie Sutrisno sebagai marketer dan promotor tenun ikat NTT ke berbagai penjuru dunia. Di NTT begitu banyak produk ekonomi lokal dan semua daerah memilikinya.

Ia menyatakan, Negara Ekuador 600 tahun yang lalu tidak mempunyai tenun. Nenek moyangnya belajar tenun dari Indonesia. Namun kecurigaan muncul karena motif tenunnya sama persis dengan motif tenun Maumere-Sikka.

“Kami akan ke Ekuador mewakili pemerintah dan membawa empat penenun untuk uji coba di sana apakah mereka yang asli atau kita yang asli,” papar Marius.