Pertama di NTT, RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua Bakal Kantongi Izin Operasional Incenerator

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – RSUD Mgr Gabriel Manek, SVD Atambua memiliki incenerator (tempat pembakaran sampah). Fasilitas pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun terletak di belakang gedung rumah sakit batas dengan sungai.

Untuk mengoperasikan incinerator, tentu harus mendapatkan ijin operasional dari Kementeria Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI. Sejumlah prasyarat baik syarat administrasi maupun syarat teknis lainnya telah dimasukkan sejak dua tahun lalu.

Tahap demi tahap usai memasukan syarat ke pihak Kementerian KLHK akhirnya incinerator RSUD Atambua, Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL bakal kantongi izin operasional dari pihak Kementerian.

Kepala Seksi Pengolahan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah-B3) pada Ditjen Pengolahan Limbah B3 Kementerian Lingkungan Hidup RI, Sortawati Siregar menuturkan, kinerja dari Incenerator RSUD MGR. Gabriel Manek, SVD Atambua, uji lab sudah memenuhi beberapa mutu.

“Jadi dengan secara lisan dapat saya sampaikan bahwa ijinnya dapat dikeluarkan karena memenuhi beberapa mutu,” sebut Siregar kepada awak media di ruang kerja Direktur RSUD Atambua, Rabu (11/09/2019).

Dijelaskan bahwa, pihak Kementerian Lingkungan Hidup telah melakukan verifikasi terhadap kinerja dan uji lab mutu incinerator milik RSUD Atambua dan akan segera memberikan ijin operasional.

“Saya kesini untuk verifikasi, dan ini merupakan tahap terakhir setelah adanya system Online System Submission (OSS). Tahap terakhir dari tahapan untuk mendapatkan ijin,” ujar Siregar.

Pertama di NTT, RSUD Mgr. Gabriel Manek Atambua Bakal Kantongi Izin Operasional Incenerator

Dituturkan bahwa, proses ijin ada dua yang akan diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup yakni terpenuhinya komitmen rumah sakit dan notifikasi ke lembaga OSS.

“Nanti proses ijinnya ada dua yakni Ibu Menteri akan keluarkan dua surat, satu surat pernyataan telah terpenuhinya komitmen yang akan disampaikan ke RSUD Atambua dan notifikasi ke lembaga OSS, dan RSUD juga akan dapat dari OSS satu lembar pernyataan bahwa ijin telah berlaku efektif,” terang Siregar.

Lanjut dia, adanya incenerator di RSUD Atambua ini kebangaan dan ini bisa menjadi contoh untuk pihak RDUD lain di pulau Timor termasuk di dalam wilayah propinsi NTT.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Belu, Yohaneta Mesak pada kesempatan itu mengatakan, untuk memperoleh ijin incenerator prosesnya sangat panjang dan ini sudah tahap-tahap terakhir untuk penerbitan ijin, dan kita sangat bersyukur incenertor milik RSUD Atambua segera dapatkan ijin untuk beroperasi.

“Kita bersyukur didatangi orang dari Kementerian. Selain memantau secara langsung pemanfaatan Incenerator dan kekurangan administarasi yang sudah dilengkapi,” ucap dia.

“Kedatangan hari ini khusus memantau langsung peralatan incenerator berfungsi atau tidak sehingga mendapatkan ijin operasional,” tambah Mesak.

Dikatakan, pihak Dinas Lingkungan Hidup akan melakukan kerjasama dengan Rumah Sakit lain termasuk Puskesmas di wilayah Kabupaten Belu untuk segera menyediakan incenerator. “Karena miliki incenerator, kedepan RSUD Atambua juga akan lakukan MoU kerjasama dengan Rumah Sakit dan Puskesmas yang ada di Belu termasuk dengan Puskesmas yang ada di Belu,” ujar Mesak.

Direktur RSUD MGR. Gabriel Manek, SVD Atambua drg. Ansila Eka Mutty menuturkan, limbah medis yang dihasilkan rumah sakit maupun klinik membutuhkan penanganan khusus. Pasalnya, salah satu penanganan limbah yang digolongkan sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) ini adalah dengan dibakar di dalam incenerator.

Ansila menjelaskan bahwa, Incenerator merupakan fasilitas pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun sebagai pembakar limbah medis baik limbah padat dan limbah cair. Setiap Rumah Sakit harus memiliki incenerator untuk dapat mengelola limbah media sehingga dapat menghadirkan lingkungan yang bersih, aman dan nyaman.

“Rumah Sakit wajib ada, tapi di NTT yang dapat ijin operasional hanya RSUD MGR Gabriel Manek, SVD Atambua. Kita bersyukur dengan kerja keras, meski melalui proses panjang Kementerian akan terbitkan ijin operasional incenerator,” ungkap Ansila.