Bank Christa Jaya Ancam Polisikan Nasabah

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Bank Christa Jaya mengancam akan mempolisikan nasabah yang akibat perjanjian kerja sama menyebabkan manajemen bank merugi Rp15 miliar.

Kuasa hukum Bank Christa Jaya, Samuel Haning sampaikan ini kepada wartawan di Kupang, Selasa (10/9/2019).

Samuel menjelaskan, kliennya membangun kerja sama saling menguntungkan dengan salah satu nasabah, Rachmat alias Rafi. Kerja sama yang dibangun sejak tahun 2014 itu lebih pada jual beli mobil bekas. Untuk kerja sama ini, nasabah menyerahkan sejumlah aset miliknya ke Bank Christa Jaya sebagai jaminan. Untuk hal ini, atas sepengetahuan isteri Rafi, Sri Wahyuni.

Ironisnya, lanjut Samuel, dalam perjalanan Rafi tidak memenuhi kesepakatan dan perjanjian yang telah diambil bersama. Bahkan melarikan diri dari Kupang ke Makasar dengan berbagai alasan. Karena sikap seperti itu, kliennya menyita salah satu rumah milik Rafi yang dijadikan sebagai jaminan.

“Akibat penyitaan itu, isteri Rafi melaporkan Wilson Liyanto, Manager Marketing Bank Christa Jaya dengan tuduhan melakukan pencurian dengan pemberatan,” kata Samuel.

Menyikapi laporan polisi itu, lanjut Samuel, bersama kliennya akan Sri Wahyuni atas tuduhan yang dilayangkan. “Kami juga akan mengambil langkah hukum dengan melapor balik pelapor (Sri) berupa pencemaran nama baik, sehingga dapat diketahui laporan siapa yang benar,” tandasnya.

Samuel menyatakan, cukup heran dengan laporan Sri dan pemanggilan pemeriksaan terhadap kliennya, karena belum ada proses pemeriksaan. “Jika disebut pencurian, harusnya sudah ada putusan hukum tetap.

“Patut diduga ada kriminalisasi terhadap klien kami,” tegas Samuel.

Dalam kasus ini, terangnya, Rafi sebagai peminjam uang di Bank Christa Jaya tidak mampu mengembalikan pinjaman tersebut. Sehingga dia menyerahkan seluruh asetnya berupa rumah dan showroom beserta isinya kepada Bank Crista Jaya. Sejumlah aset yang diserahkan ke Bank Christa Jaya sebagai barang sitaan, seharusnya sudah dilakukan penyerahan surat kuasa kepada Bank Christa Jaya, namun Rafi kabur.

“Jadi laporan istri Rafi, hanya mau imbangi kasus yang sedang menjeratnya,” ungkap Samuel.

Ia mengaku, kliennya sudah mengajak Rafi untuk selesaikan masalah itu secara damai, sehingga kasus ini bisa dihentikan. Namun hingga saat ini belum ada titik temu antara kliennya dan Rafi.

Komisaris Utama, Bank Chtista Jaya, Christofel Lianto menjelaskan, hutang rugi di Bank Christa Jaya saat Rafi kabur mencapai Rp15 miliar yang digunakan untuk bisnis jual beli mobil. Rafi merupakan salah mitra dari Bank Christa Jaya dalam event “Bursa jual beli mobil bekas”. Jika Rafi dan istrinya hendak membeli mobil, maka harus siapkan uang muka 30 persen, sedangkan 70 persen akan ditanggung Wilson. Caranya sebelum dicairkan dana 70 persen, Rafi harus membawa mobil untuk dilakukan pengecekan dan meninggalkan BPKB di bank.

“Bisnis itu sudah dilakukan Rafi dan Wilson sejak 2014 lalu. Mulai dari pinjaman Rp100- 200 juta, dan seterusnya hingga 60 mobil,” kata Christofel.

Namun, pada 2017 setelah dilakukan stok opname, lanjutnya, ternyata jumlah BPKB tidak sesuai dengan kondisi di lapangan. Dimana jumlah mobil tidak mencapai 60 buah. Ternyata Rafi telah menjualnya tanpa menyerahkan uang ke bank untuk pengambilan BPKB. Artinya, Rafi menjual mobil tanpa BPKB.

Hal itu terus dilakukan Rafi hingga akhirnya dia dikejar oleh pembeli mobil untuk menyerahkan BPKB. Mulai saat itu Rafi sudah sulit dihubungi hingga akhirnya kabur. Stafnya sempat mencari ke rumahnya, namun tidak ada. Sehingga rumah itu di sita beserta isinya.

Awalnya rumah itu dijaga oleh staf dari Bank Christa Jaya, namun berapa lama berselang rumah itu dibiarkan kosong. Setelah dilakukan pengecekan kembali ternyata pintu belakang rumah terbuka, dan sebagian barang hilang. Setelah itu barang- barang sisa telah diamankan dan masih ada sampai sekarang. (NTT-R)