RPK dan BNP2TKI Gelar Sosialisasi Perlindungan Pekerja Migran

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Rumah Perempuan Kupang, bersama, Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, atau BNP2TKI, Satgas Human Trafficking Partai Golkar, dan Deputi Bidang Penempatan Direktorat Sosialisasi dan Kelembagaan, menggelar sosialisasi Penempatan dan Perlindungan pekerjan Migran Indonesia, PMI. Sosialisasi tersebut berlangsung di Gedung DPD Satu Partai Golkar NTT, Jumat 5 September 2019.

Hadir dalam kegiatan sosialasi Direktris Rumah Perempuan Kupang Libby Sinlaeloe, Kepala BNP2TKI, Siwa,
Kepala Dinas Nakertrans Povinsi NTT, Kepala Badan Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan anak Prov.NTT. Sementara Peserta kegiatan ini adalah unsur Masyarakat, pemuda dan perempuan yang ada di NTT.

Direktris Rumah Perempuan Kupang, Libby Sinlaeloe dalam sambutanya mengatakan, Human Trafficking atau perdagangan manusia adalah segala bentuk jual beli terhadap manusia, dan juga ekploitasi terhadap manusia itu sendiri seperti pelacuran (bekerja atau layanan paksa), perbudakan atau praktek yang menyerupainya, dan juga perdagangan atau pengambilan organ tubuh manusia.

Fenomena ini merupakan salah satu masalah kontemporer yang tengah mendapat perhatian serius. Karakternya bersifat represif dengan tujuan eksploitasi manusia (individu dan kelompok). Luasnya pengaruh dan dampak ancaman yang ditimbulkan, membuat isu human trafficking diklasifikasikan sebagai bentuk kejahatan luar biasa.

Menurutnya, Perdagangan orang diIndonesia beberapa waktu ini semakin marak terjadi, baik dalam lingkup domestik maupun yang telah bersifat lintas batas negara. Perdagangan orang yang sangat menonjol terjadi adalah perdagangan anak dan perempuan yang dikaitkan dengan industri seksual, yang saat ini mulai menjadi perhatian masyarakat.

Masalah ini, kata Libby diperkuat dengan adanya data yang dicatat oleh Internasional Organization for Migration (IOM), sebanyak 6.651 orang menjadi korban dari perdagangan manusia (periode Maret 2005-Desember 2014). Dari jumlah ini, 82 persen adalah perempuan yang bekerja di dalam dan luar negeri sebagai tenaga informal dan 18 persen merupakan laki-laki yang mayoritas mengalami eksploitasi ketika bekerja sebagai Anak Buah Kapal.

Menurutnya, Di Nusa Tenggara Timur sendiri kasus human trafficking sendiri sudah memasuki status darurat karena banyak sekali warga NTT yang menjadi korban dari kejahatan ini. Hal ini diperkuat dengan data sebanyak 1.667 TKW asal NTT yang menjadi korban human trafficking (data tahun 2015).

Kemudian pada tahun 2016, pada bulan Januari sampai Juli, ada sekitar 726 orang yang teindikasi prakter perdagangan manusia. Dengan kondisi ini, maka NTT menjadi daerah dengan tingkat kasus perdagangan manusia tertinggi di Indonesia. Kasus diatas merupakan landasan atas adanya kegiatan sosialisasi ini, yang mempunyai tujuan menginformasikan, mengedukasi sekaligus ingin mencegah terjadinya kasus human trafficking.

Oleh karena itu, kata Libby, tujuan sosialisasi ini, untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang dampak dari human trafficking, serta Mengedukasi masyarakat tentang pencegahan human trafficking.(ntt-nm)