Pemenuhan Air Bersih, Pemkot Harus Mencari Sumber Air Untuk Dikelola

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Masalah sumber air di Kota Kupang yang saat ini menjadi fokus pemerintah Kota Kupang sampai saat ini belum terselesaikan secara baik. Hal ini membuat anggota DPRD Kota Kupang Tellendmark Daud angkat bicara, dan meminta pemerintah mencari solusi yang tepat karena masalah air bersih di Kota Kupang pokok permasalahannya adalah di sumber air.

“Menurut saya yang harus dicari terlebih dahulu adalah masalah sumber air, jadi berbicara tentang air, intinya adalah sumber air, jadi bagaimana pemerintah mencari sumber air yang ada di Kota Kupang,” ujarnya.

Tellend menjelaskan, untuk mengadakan sumber air ini banyak cara, misalnya dengan pembangunan bendungan, membuat sumur bor dengan kajian yang tepat, atau juga dengan menanfaatkan sumber air masyarakat yang mempunyai debit air yang memungkinkan.

“Misalnya dalam perhitungan, kebutuhan masyarakat Kota Kupang akan air bersih sekitar 800 lebih meter kubik per detik, sementara yang ada sekarang hanya baru 200 lebih, dan ini yang dikelola oleh PDAM Kota Kupang dan Kabupaten Kupang, artinya ada sumber-sumber air yang belum dikelola oleh PDAM Kota Kupang dan Kabupaten Kupang,” ujarnya.

Jadi, kata Tellend, pemerintah harus bisa memanfaatkan sumber air warga, ada yang debitnya 5 sampai 10 liter per detik, dan pemerintah membayar kepada masyarakat.

“Contohnya, BLUDPAM membeli air di Tilong dan menjualnya kepada masyarakat, kenapa kita tidak demikian, membeli sumber air warga dan menjualnya kepada masyarakat,” kata anggota DPRD Kota Kupang tiga periode ini.

Menurutnya, pemerintah jangan berpikir terlalu besar, sebab harus dimulai dengan area kecil, misalnya ada sumber air di kelurahan Oebobo, sumber air itu dimanfaatkan untuk mengcover kebutuhan air warga di kelurahan Oebobo saja. Sambil pemerintah mengupayakan bendungan Kolhua.

Bendungan Kolhua, kata Tellend, hanya terkendala dengan pembebasan lahan saja. Sejak tahun 2012 lalu, sudah dianggarkan Rp 8 miliar untuk pembebasan lahan, karena area yang dimanfaatkan untuk bendungan sebesar 80 hektar.

“Anggaran Rp 8 miliar ini juga merupakan dana yang ditanggung bersama, dimana pemerintah Provinsi menberikan Rp 4 miliar dan Pemerintah Kota Kupang Rp 4 miliar, ternyata dalam pelaksanaannya menemui kendala dan belum selesai sampai sekarang,” terangnya.

Tellend juga meminta agar pemerintah melakukan pendekatan dengan warga secara intens. “Jangan pemerintah hanya pergi sekali, lalu ada penolakan dan pemerintah menyerah begitu saja, tetapi harus lakukan pendekatan lebih baik lagi,” kata dia.

Sementara terkait Bendungan Tilong, jika pemerintah Kota Kupang ingin mengelola bendungan Tilong, maka harus dipikirkan secara baik, karena biaya operasional yang sangat tinggi, dan selama ini juga Pemerintah Kota Kupang sudah menggunakan bendungan Tilong.

“Jadi selama ini Kota Kupang sudah menggunakan air bendungan Tilong, berpikirlah hal yang benar-benar merupakan jalan keluar tepat, bukannya menambah masalah, karena selama ini Bludpam Provinsi yang mengelola bendungan tilong masih sulit, apalagi dikelola oleh Kota Kupang,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Direktur PDAM Kota Kupang, Marianus Seran mengatakan, sesuai data BPS Kota Kupang jumlah penduduk Kota Kupang pada tahun 2018 sebanyak kurang lebih 423.900 jiwa, sementara itu tingkat kebutuhan air bersih mencapai kurang lebih 18.312.480 liter kubik per tahun.

Adapun ketersediaan total produksi PDAM Kota Kupang di tahun 2018 adalah 146,6 liter per detik yang terdiri dari debit terproduksi PDAM Kota Kupang 71,6 liter per detik, dan suplai air curah BLUD SPAM NTT 75 liter per detik.

Marianus menjelaskan, terdapat beberapa potensi sumber air Kota Kupang yang belum dieksploitasi sementara dilakukan observaasi. Sumber-sumber air diantaranya mata air Sagu dengan kapasitas 50 liter per detik, kali Dendeng 100 liter per detik, Kolhua 10 liter per detik, mata air Gua Oesapa 10 liter per detik.

“Berdasarkan uraian data diperoleh bahwa untuk pemenuhan akan kebutuhan air bersih bagi masyarakat Kota Kupang baru mencapai 11,24 persen, sehingga masih ada jarak yang cukup jauh antara kebutuhan air bersih dan debit produksi dari PDAM Kota Kupang,” katanya.

Dikatakan, Kali Liliba bisa menyuplai 50 liter per detik dan Bendungan Kolhua mencapai 200 liter per detik.
“Tanpa Bendungan Kolhua kita masih kekurangan 141,36 liter per detik. Kalau ada Bendungan Kolhua maka kelebihan 8,64 liter per detik,” jelasnya.

Menurutnya, total debit air yang bisa dieksploitasi mencapai 671,6 liter per detik namun jika Bendungan Kolhua dibangun maka total debit yang bisa di eksploitasi mencapai 821,6 liter per detik.