Anggota DPRD Belu Geram, Uang 150 Penari Likurai di Istana Merdeka “Dipotong”

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Anggota DPRD Belu geram dengan panitia atau koordinator Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Belu yang memotong uang 150 penari Selaras Tihar Likurai Belu yang tampil di Istana Merdeka meriahkan HUT RI ke-74 pada 17 Agustus 2019 lalu.

Anggota DPRD Belu Theodorus Seran Tefa menuturkan, pihaknya mendapat pengaduan dari orang tua penari Likuria lantaran uang transportasi para penari yang tampil di Jakarta dipotong. Padahal DPRD Belu bersama Pemerintah telah alokasikan anggaran sebesar Rp.1,5 Miliar untuk mendukung para penari Likurai tampil di Istana Merdeka. Namun, kenyataan uang untuk 150 anak-anak penari Likuari dipotong oleh panitia.

Demikian Theodorus Seran Tefa yang akrab disapa Theo Manek dalam sidang paripurna dengan agenda pemandangan akhir fraksi terhadap Ranperda yang diajukan oleh Pemda Belu dan sebelum paripurna penetapan atau pengesahan Perda APBD Perubahan tahun 2019 di ruang sidang DPRD Belu, Senin (2/9/2019).

Disampaikan bahwa, kita bangga dengan mengalokasi anggaran Rp.1,5 Miliar untuk mendukung para penari datang ke Jakarata. Ini luar biasa, saat 17 Agustus kita juga terharu karena budaya kita dapat ditampilkan di ibukota negara (istana negara).

“Tapi ada satu hal yang perlu diklarifikasi bahwa sesuai dengan pengaduan dan informasi yang kami terima, biaya transportasi untuk masing-masing penari, pemanfaatan anggaran ini masih ada pemotongan yang tidak benar, ini saya butuh klarifikasi dulu. Kenapa uang itu potong sampai Rp.300 ribu bertahap sampai hak-hak penari itu dihilangkan?,” tanya Manek.

Menurut Ketua Komisi III DPRD Belu itu, pemotongan uang penari Likurai ini sangat tidak manusiawi karena telah mengeksploitasi karya anak-anak penari untuk kepentingan tertentu.

“Jangan lakukan ini, ini seolah kita mengeksploitasi untuk kepentingan yang tidak baik, tidak benar, saya minta pemerintah klarifikasi dulu. Karena kalau ini benar terjadi, saya rasa ini sangat tidak manusiawi,” tegas dia.

Tambah Manek, informasi pemotongan uang para penari diketahui dari orang tua para penari yang mengadu kepada pihak DPRD Belu.

“Ini kami terima pengaduan ini dari orang tua penari. Anak-anak sudah berlatih sekian bulan, biaya transportasi swadaya, pribadi, tenaga terkuras, tetapi ketika dewan dan pemerintah mengalokasi anggaran masih dipotong sana sini tidak tahu pemanfaatannya untuk apa? Tolong klarifikasi dulu,” pungkas Manek.

Menyikapi itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Belu, Marsianus Loe Mau mengakui adanya pemotongan uang para penari yang dilakukan pihaknya.

Jelas dia, pemotongan uang penari Likurai yang sudah tampil mengharumkan nama Kabupaten Belu di mata jutaan rakyat Indonesia itu dilakukan untuk kepentingan konsumsi dan transportasi penari itu sendiri.

“Bahwa uang Rp.300 ribu yang disampaikan kepada Bapak Theo itu benar, tidak salah. Dapat kami jelaskan uang Rp.300ribu itu Rp.150 ribu biaya transportasi untuk kepentingan anak-anak sendiri 150 orang dalam perjalanan Atambua-Kupang dan menjemput kembali dari Kupang-Atambua untuk 7 Bus. Dan Rp.150 Ribu untuk konsumsi anak-anak. Sisa uang khusus untuk Rp. 150 Ribu untuk konsumsi itu sudah kami bagikan kepada anak-anak,” urai dia.

“Ini yang kami sampaikan kalau ada hal yang tidak berkenan kami mohon maaf tetapi kebijakan ini kami tempuh untuk kepentingan anak-anak, tidak untuk kepentingan orang-perorang,” tambah Loe.

Namun, penjelasan Kadis P dan K dibantah Theo Manek bahwa pemotongan uang untuk kepentingan konsumsi anak-anak tidak benar. Sesuai pengaduan, para penari mereka biaya sendiri untuk kebutuhan konsumsi mereka saat makan di warung Niki-Niki.

“Tapi pada kenyataannya itu Pak Kadis, anak-anak saat pulang dari Kupang ke Atambua, katanya tiba di rumah makan Niki-Niki. Harusnya menjadi kewajiban koordinator untuk membayar, tetapi anak-anak makan bayar sendiri, itu yang menjadi keluhan mereka, kenapa itu bisa terjadi? Ini yang menjadi masalah dan tidak bagus,” ketus Manek.

Lagi Kadis P dan K menjelaskan bahwa dirinya saat perjalanan kembali dari Kupang ke Atambua tidak mengetahui kejadian di Niki-Niki terkait biaya konsumsi yang ditanggung sendiri oleh para penari.

“Dalam perjalan kembali, di Niki-Niki kalau makan lagi saya tidak tahu karena saya sudah duluan,” terang Loe.