Perekonomian NTT Didominasi Sektor Pertanian, Kehutanan dan Perikanan

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Secara struktur lapangan usaha, perekonomian Provinsi NTT masih didominasi oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Peningkatan produksi pertanian seiring pergesaran masa panen raya ke triwulan II dan peningkatan produksi perikanan seiring pola cuaca yang sudah membaik dianggap menjadi pemicu peningkatan perekonomian Provinsi NTT.

Tercatat pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT pada triwulan II 2019 mencapai 6,36% (yoy), tumbuh dibandingkan triwulan I 2019 sebesar 5,45% (yoy) dan lebih tinggi dibandingkan nasional yang tumbuh 5,05% (yoy).

Kepala Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI NTT, Muhammad Syahrial kepada wartawan di Kupang, Senin (19/8/2019).

Dari segi pengeluaran, Syahrial mengatakan pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT dipengaruhi oleh pengeluaran konsumsi Rumah Tangga yang tumbuh 6,40% (yoy) seiring dengan momen bulan puasa Ramadhan, libur panjang Hari Raya Idul Fitri, dan memasuki tahun ajaran baru.

Pada bulan Juli 2019, Provinsi NTT mengalami inflasi 0,21% (mtm) 0,23 (ytd), setelah pada bulan sebelumnya menunjukkan deflasi sebesar -0,19% (mtm). Inflasi didorong oleh peningkatan pada kelompok core/inti yakni biaya pendidikan terutama SD dan SMA seiring dimulainya tahun ajaran baru dan kenaikan tarif pusa telepon seluler (ponsel).

Secara tahunan, inflasi Provinsi NTT pada triwulan II 2019 tercatat sebesar 1,70% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2019 yang mencapai 1,35% (yoy). Pencapaian inflasi tahunan tersebut masih di bawah sasaran inflasi nasional yakni 3,5±1% (yoy).

Menurut Syahrial, Kota Kupang mengalami inflasi 0,26% (mtm) setelah pada bulan sebelumnya mengalami deflasi -0,19% (mtm). Inflasi disebabkan oleh kenaikan biaya pendidikan terutama Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Atas. Realisasi inflasi pada bulan Juli 2019 menyebabkan inflasi Kota Kupang secara tahunan tercatat sebesar 1,76% (yoy).

Sedangkan Kota Maumere mengalami deflasi setelah pada bulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,61% (mtm). Deflasi terutama didorong oleh penurunan harga kelompok bahan makanan seiring ketersediaan pasokan kangkung, bayam, sawi hijau, tomat sayur, telur ayam ras, bawang merah, dan bawang putih. Realisasi deflasi pada bulan Juli 2019 menyebabkan inflasi Maumere secara tahunan tercatat sebesar 1,24% (yoy).

Pada bulan Agustus 2019, Provinsi NTT diperkirakan mengalami deflasi sebesar -0,01% sampai dengan -0,25% (mtm) atau 0,1% sampai dengan 0,2% (ytd). Realisasi deflasi tersebut menyebabkan secara tahunan inflasi Provinsi NTT pada bulan Juli 2019 diperkirakan mencapai 1,80% (yoy) sampai dengan 2,20% (yoy). Deflasi tersebut sesuai dengan pola historis pasca Hari Raya Idul Fitri. Faktor risiko yang perlu diperhatikan adalah kekeringan di Provinsi NTT akibat rendahnya curah hujan yang berdampak pada ketersediaan pasokan kelompok bahan makanan.

Syahrial menjelaskan, prospek inflasi pada tahun 2019 diperkirakan berada pada kisaran 2,40 – 2,80% (yoy), atau sedikit melambat dibandingkan capaian tahun 2018 sebesar 3,07% (yoy). Meningkatnya koordinasi antar anggota TPID NTT sebagai salah satu perwujudan dari strategi pengendalian inflasi 4K (Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi yang Efektif) diperkirakan dapat menekan laju inflasi terutama di kelompok bahan makanan yang didatangkan dari daerah lain, seperti beras, daging ayam ras, telur ayam ras dan cabai merah serta faktor normalisasi harga sayur-sayuran pasca kenaikan cukup tinggi pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, cukai rokok yang tidak dinaikkan pemerintah serta penurunan harga tarif listrik turut menjadi penahan inflasi pada tahun 2019. Peringatan hari besar keagamaan seperti Natal juga dapat dapat memberikan tekanan pada inflasi secara umum terutama kelompok bahan makanan dan tarif angkutan udara seiring meningkatnya permintaan.

“Dalam rangka pengendalian inflasi, TPID Provinsi NTT melakukan serangkaian kegiatan seperti sidak di beberapa tempat seperti Pasar Naikoten, Pasar Oeba, Pelabuhan Tenau, Gudang BULOG, Gudang Distributor, dan Bandara El Tari, operasi pasar murah, kerjasama BI dengan Bulog Divre NTT, serta HLM TPID untuk membahas langkah strategis menghadapi potensi inflasi Hari Natal dan Tahun Baru,” pungkas Syahrial.