Capim KPK Yang Persoalkan LHKPN Sebaiknya Segera Diamputasi

Bagikan Artikel ini

Kupang, NTTOnlinenow.com – Calon pimpinan (Capim) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang mempersoalkan Laporan Hasil Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) sebaiknya segera diamputasi atau dicoret dari daftar nama yang ikut diseleksi.

Pemerhati Masalah Sosial dan Budaya, GF Didinong Say sampaikan ini dalam keterangan persnya yang diterima media ini, Selasa (13/8/2019).

Menurut Didinong, ada capim KPK sebagaimana diberitakan media mengatakan, kebijakan untuk memberikan LHKPN tidak sesuai dengan konsep ber- Tuhan dan Pancasila. Bila kebijakan administratif LHKPN diasumsikan sebagai syarat integritas dalam hal kejujuran capim KPK, maka sikap dan pernyataan dimaksud secara terang benderang menunjukkan mispersepsi tentang keutamaan kejujuran sebagai suatu konsep teologis. Ketidakjujuran terhadap diri sendiri dan Tuhan pada gilirannya akan berdampak kepada sesama.

“Sungguh celaka nasib masyarakat yang dikontrol dipimpin oleh penguasa yang tidak jujur kepada diri sendiri dan Tuhan,” kata Didinong.

Ia menyatakan, pernyataan capim KPK itu membenarkan adagium yang berbunyi, mereka yang bersedia bergiat dalam lembaga anti rasuah semestinya adalah mereka yang sudah selesai dengan dirinya. Keterikatan mereka terhadap material hanyalah karena kebutuhan bukan keinginan. Mereka tidak berada dalam posisi mencari dan menambah melainkan bekerja dan hidup. Mereka yang bergiat dalam lembaga anti rasuah adalah orang orang pilihan yang sudah lolos uji kejujuran subjektif maupun uji kejujuran objektif.

“Kalau sekedar membuat LHKPN saja berkeberatan dan beralasan yang tidak logis, sebaiknya capim KPK itu segera diamputasi,” tandas Didinong.

Alumni STF Driyarkara ini menyampaikan, kejujuran selalu hadir sebagai nilai dan prinsip dalam semua ajaran keagamaan maupun sistem kebudayaan. Kejujuran dalam artian konsistensi kebenaran dan kesesuaian antara hal intrinsik dengan hal ekstrinsik. Dengan demikian dapat disimpulkan sebagai suatu wujud keutamaan (virtue) universal imperatif yang mendasari kemanusiaan sebagai kreasi Sang Pencipta.

“Kejujuran adalah manifestasi beriman bahkan keimanan itu sendiri,” terang Didinong.