Puluhan Hektare Lahan Petani di Sungai Haekesak Perbatasan Belu-Timor Leste Hilang Terkikis Air

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Dari tahun ke tahun, erosi di sungai yang membagi wilayah Perbatasan RI-RDTL di Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu terus terjadi dan menghilangkan lahan pertanian berupa persawahan milik warga setempat.

Pengikisan tanah oleh air atau erosi di bantaran Sungai Malibaka, tepatnya di Katarfua, Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur makin meresahkan petani. Sejak tahun 2018 hingga 2019, sekitar 50an hektare lahan pertanian yang hilang terkikis air sungai.

Meski pengikisan tersebut tidak mempengaruhi luas wilayah Indonesia karena terdapat patok batas negara tidak berubah. Terkait itu Pemerintah Pusat diminta untuk segera bersikap guna mencegah semakin berkurangnya lahan petani yang terkikis.

Wilayah Katarfua merupakan hamparan pertanian milik warga perbatasan yang menjadi pusat penghasil padi, komoditi sayur-mayur dan tanaman hortikultura lainnya.

Bupati Belu, Willybrodus Lay dalam kunjungan terkait panen cabai di wilayah Kecamatan Raihat, Selasa (6/8/2019) kemarin berkesempatan meninjau langsung lokasi paling parah terjadi pengikisan di kawasan Katarfau.

Menurut Lay, apabila kondisi ini tidak segera ditangani maka lahan pertanian warga semakin banyak yang hilang menjadi sungai. Langkah yang diambil berupa pembuatan tanggul karena dari sisi sungai yang masuk wilayah negara Timor Leste sudah dibangun tembok penahan.

“Suatu saat, tempat kita berdiri ini yakni sekitar 300 sampai 500 meter dari sungai ini sudah hilang dan menjadi tempat aliran sungai. Jadi kalau kita tidak segera membuat tanggul di sungai, otomatis banyak tanah kita yang akan hilang karena sungai malibaka semakin lebar,” kata Lay.

Disebutkan, sekitar dua tahun lalu, bagian hulu sungai tersebut sudah dilakukan penanganan namun untuk kawasan pertanian di Katarfua juga bantaran sungai Malibaka belum dilakukan.

“Saya mengharapkan pemerintah khususnya pemerintah pusat, untuk penanganan ini, dan kebetulan batas negara ini bukan kewenangan kabupaten jadi saya akan membuat proposal ke Kementerian PUPR atau Badan Pengelola Perbatasan agar sektor Katarfua ini segera bisa ditangani,” ujar dia.

Menurut Lay, langkah tanggap darurat yang diambil terkait kondisi itu yakni, sebelum bantaran sungai dengan ukuran panjang mencapai empat kilometer itu harus dibuat tanggul atau tembok penahan. Terhadap itu, dirinya akan memerintahkan alat berat berupa eskavator untuk mengeruk dasar sungai yang telah terjadi pendangkalan.

Lanjut Lay, hal tersebut dimaksudkan agar mengatur aliran air tidak masuk ke lahan pertanian warga. Penanganan sementara, akan diatur jadwal eskavator dan saya melihat jadwalnya di bulan September. Nanti eskavator datang untuk penanganan darurat, gali-gali sedikit supaya tidak terjadi abrasi.

“Batas negara sekarang sudah di dalam wilayah sungai. Aliran sungai ini masuk ke wilayah indonesia sehingga patok batasnya sekarang sudah jadi satu daratan dengan Timor Leste karena dari Timor Leste sudah ada tembok penahan,” ucap Lay.