Liga 3 Rasa Tarkam, Kemana Asprov PSSI NTT ?

Bagikan Artikel ini

Frans Watu – Mantan Pemain PSK & Galatama
Catatan Pojok El Tari Memorial Cup Malaka.
Gelaran turnamen sepak bola bertajuk El tari Memorial Cup (ETMC), telah memasuki babak 8 besar (19/7/2019). Delapan tim juara dan runner-up masing-masing grup sudah memastikan diri lolos ke babak ini. Delapan tim yang akan berlaga di 8 besar adalah Persemal (Malaka), Perss So’e (TTS), Perse Ende, Persap (Alor), Persab (Belu), Perseftim (Flores Timur), Persamba ( Manggarai Barat), Persada (Sumba Barat Daya).

Dalam babak pengisian grup Persemal sebagai tuan rumah mencatat poin nyaris sempurna. Bermain dihadapan pendukungnya Persemal belum pernah mengalami kekalahan, demikian juga Perss So’e, Perseftim, Persab, Persamba, Persada. Dua tim Persamba dan Persada menjadi tim terakhir yang bergabung di 8 besar setelah keduanya bermain imbang. Pupus sudah harapan Bintang Timur FC yang dipertandingan sebelumnya melumat Perserai dengan skor 4-1.

Babak delapan besar hari ini akan dilangsungkan dua pertandingan di lapangan Betun, masing-masing pukul 18.00 wit dan pukul 20.00 wit. Pada pertandingan pertama Persemal – Malaka vs Persap – Alor dan di laga ke dua mempertemukan Perse – Ende vs Perss – So’e. Pada esok hari di lapangan yang sama akan berhadapan Persab – Belu vs Persada – Sumba Barat Daya dan Persamba – Manggarai Barat vs Perseftim – Flores Timur.

Laga Persemal melawan Persap adalah laga yang ditunggu oleh penggemar bola Malaka, Apakah tuan rumah dapat menahan gempuran anak-anak Teluk Ombai ataukah Persemal yang akan menguburkan harapan Persap untuk maju ke babak semi final.

Bermain dibawah tekanan penonton tuan rumah kedua tim bermain imbang di babak pertama. Gol baru terjadi di babak ke dua. Persap unggul melalui counter attach yang dilakukan setelah Persemal gagal melakukan serangan di area Persap, namun selang beberapa menit Persemal mampu menyamakan kedudukan lewat kemelut yang terjadi di kotak pinalti Persap. Mendapat umpan dari sisi kiri pertahanan Persap, Andro yang berdiri bebas tanpa pengawalan pemain bertahan dapat menjebol gawang Persap dan skor 1-1 bertahan hingga babak ke dua berakhir.

Kemenangan Persemal terjadi di babak ke dua perpanjangan waktu. Berawal dari tendangan bola mati di luar kotak pinalti Persap. Ekesekusi yang dilakukan dengan dingin oleh pemain Malaka dapat menembus pagar betis yang dibuat pemain bertahan Persap. Malaka unggul hingga wasit meniup pluit tanda berakhirnya pertandingan.
Dipertandingan ke dua Perse Ende vs Perss So’e tak kalah menarik, permainan kolektif Perse dapat diimbangi dengan kecepatan anak-anak dari Perss So’e. Perss So’e bermain sangat hati-hati menit awal. Sebaliknya Perse langsung mengendalikan permainan. Tercatat 3 kali bola mengena tiang gawang Perss So’e dan gawang Perss terselamatkan berkat penampilan gemilang penjaga gawangnya.

Gol tercipta di menit akhir menjelang pertandingan babak ke dua usai. Bola kemelut di depan gawang Perss So’e berhasil diteruskan penyerang Perse dan jebollah gawang Perss So’e. Kedudukan 1-0 untuk Perse hingga wasit meniup pluit tanda berakhirnya pertandingan. Di babak selanjutnya Persemal malaka akan bertemu Perse Ende untuk memperebutkan satu tiket ke babak final.

Memasuki Babak 8 besar hingga final, semua pertandingan akan berlangsung di lapangan Betun. Animo masyarakat untuk menyaksikan partai puncak tentu tidak bisa dibendung. Namun menjadi miris jika kita saksikan betapa tak beraturannya penonton. Penonton dengan leluasa memasuki lapangan dan banch pemain. Hal ini sangat membahayakan keselamatan pemain dan official yang bertanding. Hal seperti ini tidak akan terjadi jika Pengawas Pertandingan (PP) meminta jaminan dari panitia penyelenggara atau menunda pertandingan. Asprov NTT harusnya berkaca dari kejadian ETMC Ende. Jika kerusuhan terjadi Ketua dan Sekretaris Asprov NTT harus bertanggung jawab dan mundur dari kegiatan sepak bola di NTT.

Sepak bola NTT hanya hidup dan terdengar setiap 2 tahun sekali ketika ETMC dipertandingkan. Penonton kadang kecewa karena disuguhkan pertandingan yang hanya menonjolkan fanatisme daerah, pertandingan mengandalkan power bukan teknik dan tak tik mengolah si kulit bundar.

Asprov NTT harus memberikan persyaratan bagi tuan rumah, harus mempunyai satu stadion dengan standar keamanan dan fasilitas tribun bagi penonton. Ini penting untuk keselamatan pemain, official dan peragkat pertandingan. Kalau tidak diberikan standarisasi maka tidak heran mutu turnamen ETMC jauh dibawah turnamen antar kampung (tarkam). Ini kompetisi liga 3 jangan sampai kelasnya sama dengan liga tarkam, atau liga 3 rasa tarkam. Kenyamanan penonton dan keselamatan pemain, official dan perangkat pertandingan ditopang dengan kepemimpinan wasit yang prima tentunya akan menaikan mutu dan gengsi dari ETMC dari masa ke masa.
Penulis adalah Mantan Kapten Suratin Cup NTT, PSK Kupang di ETMC 1985, Liga Mahasiswa bersama ASMI Jakarta, Liga Galatama bersama Perkesa Mataram, Lampung Putra, Arema Malang.