20 Tahun Hidup di Camp, Ratu Azia Borromeu dan Rakyatnya Pindah Tinggal di Tenda Beratap Terpal

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Ratu Alas-Manufahi, Azia Borromeu bersama rakyatnya tinggal di tenda beratap terpal dinding daun kelapa yang dibangun di dusun Maktaen, Desa Rinbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste sejak Selasa (16/7/2019).

Warga baru (eks Timor-Timur) yang sebelumnya menetap di Camp pengungsian LP3T, Sukabitetek, Desa Leuntolu, Kecamatan Raimanuk kembali memilih tinggal di hutan sebagai aksi protes kepada Pemerintah Republik Indonesia yang kurang memperhatikan mereka, terutama kepastian tempat tinggal.

Aksi Ratu Azia Borromeu dan rakyatnya tinggal di tenda dilakukan bertepatan dengan peringatan hari Integrasi Timor-Timur ke pangkuan Ibu Pertiwi-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ke-44 sejak tanggal 17 Juli 1975 hingga sekarang.

Selain itu juga aksi mengenang jasa perjuangan sekaligus mengenang 15 tahun meninggalnya Raja Alexandrino Borromeu selaku tokoh apodeti yang menandatangani petisi Balibo membawa 13 Kabupaten bergabung ke NKRI.

Terpantau media, Kamis (18/7) tenda darurat beratapkan terpal dan dinding daun kelapa menjadi tempat tinggal Ratu Azia Borromeu. Nampak bagian depan kamar ratu terpajang foto almarhum Liurai Alas Timor Leste, Dom Carlos Borromeu Duarte, Dom Engracia Doutel Liurai, Raja Alas Timor-Timur Alexandrino Borromeus, gambar Soekarno-Hatta dan tiang bendera Merah Putih.

Ditemui awak media di lokasi tenda, Ratu Azia Borromeu didampingi Raja Turiscai-Manufahi Orlando Manuel Pires bersama tokoh adat menyampaikan maksud aksi dilakukan karena selama 20 tahun sejak eksodus pasca jajak pendapat tahun 1999, tempat tinggal mereka tidak jelas. Selama ini mereka tinggal di Sukabitetek, Desa Leontolu di lahan milik Pemerintah sebanyak 250 KK dan lahan milik warga local sebanyak 50 KK.

Aksi Ratu Azia yang rela tidur di tenda darurat demi memperjuangkan rakyatnya yang saat ini tidak memeliki lahan dan tempat tinggal. Nasib mereka tidak diperhatikan Pemerintah RI. Mereka dibiarkan merana tanpa tempat tinggal yang pasti.

Sebagai manusia yang memiliki harga diri apalagi seorang anak raja di Timor-Timur, Ratu Azia memilih untuk berjuang bersama rakyatnya. Tenda yang dibangun ini untuk menampung rakyat saya yang saat ini tidak memiliki lahan dan tempat tinggal sejak mengungsi tahun 1999 lalu.

“Saya ini seorang ratu dan anak raja. Saya rela tinggal di tempat seperti ini karena kami sudah diusir. Kami tidak punya tempat tinggal lagi. Saya bangun tenda ini supaya saya punya rakyat yang datang bisa tinggal di sini,” kata putri Raja Alas-Manufahi, Alexandrino Borromeu (Tokoh Perintis yang tandatangan Petisi Darurat Deklarasi Balibo pada 30 November 1975 tentang Integrasi Timor-Timur ke dalam NKRI).

Ditegaskan, dirinya akan tetap tinggal di tenda darurat sampai Pemerintah RI memberikan kepastian tempat tinggal bagi rakyatnya. Selama beberapa hari ke depan akan tetap melakukan kegiatan di lokasi baik diskusi maupun kegiatan lainnya yang intinya mereka tidak akan kembali ke tempat tinggal yang lama karena di tempat tinggal yang lama adalah tanah milik saudara mereka warga local yang sudah di jual dan tanah milik Pemerintah.

Dikatakan, hampir 20 tahun WNI (eks Timor-Timur) ditelantarkan Pemerintah Indonesia secara tidak manusiawi. Rakyatnya pasca eksodus pasca jajak pendapat tahun 1999 lalu cukup menderita tanpa lahan dan tempat tinggal karena diabaikan oleh Pemerintah Indonesia.

Untuk itu kata Ratu Azia, jika Pemerintah RI tidak memperhatikan nasib dan penderitaan warga baru (eks Timor-Timur) maka ia akan memperjuangkannya hingga Pemerintah memperhatikan mereka.

“Saya tidak terima, saya tidak main-main, saya muak dengan sikap pemerintah Indonesia yang menelantarkan rakyat saya. Harga diri rakyat Timor-Timur dipermainkan dan saya akan memperjuangkan sampai titik darah penghabisan. Sebagai anak raja saya akan perjuangkan itu,” tegas Ratu Azia.

Sementara itu Raja Turiscai-Manufahi, selama ini mereka tinggal di LP3T lahan milik Pemerintah kurang lebih 20 tahun tanpa ada perhatian pemerintah. Jika ada bantuan seperti rumah pasti mereka tidak dapat karena lahan yang mereka tempati merupakan lahan pemerintah, bukan lahan pribadi.

Dituturkan, selama ini mereka tinggal di lahan Pemerintah sehingga tidak bisa mendapatkan bantuan dari Pemerintah selama ini. Sehingga mereka memutuskan untuk keluar dan tinggal di hutan untuk meminta perhatian pemerintah.

Akui Raja Turiscai, memang Pemerintah tidak meminta warga untuk meninggalkan atau mengosongkan lahan itu sekarang, tetapi sewaktu-waktu pasti pemerintah akan menggunakan lahan itu untuk membangun, dan kalaupun Pemerintah belum menggunakan kami memang tidak mau lagi tinggal di lahan Pemerintah karena selama ini kami tidak berhak mendapatkan bantuan apa-apa karena tinggal di tanah Pemerintah.

“Kalau ada bantuan, kami dibilang tidak berhak karena kami tinggal di lahan Pemerintah. Kami tidak bisa beli tanah karena kami tidak mampu,” ucap dia.

Kaitan itu Raja Turiscai meminta Pemerintah menyiapkan lahan dan tempat tinggal bagi kami sehingga kami bisa ada harapan bertahan hidup bersama anak-anak dan cucu kami ke depan.

Senada Tokoh adat Alas-Manufahi, Abel Bareto mengatakan, mereka bersama rakyatnya khusus warga Alas-Manufahi yang selama ini menetap di lahan milik salah satu warga lokal di Dusun Webutak, Sukabitetek, Desa Leon Tolu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu sejak tahun 1999 terpaksa meninggalkan lahan itu karena lahan itu sudah dijual ke orang lain.

Terpaksa, dirinya bersama 50KK rakyatnya mengungsi dan tinggal di lahan seluas 24 are di Dusun Maktaen, Desa Rinbesihat, Kecamatan Tasifeto Barat, meski tenda hanya beratapkan terpal layaknya saat mengungsi pada tahun 1999 lalu.

Jelas dia, mereka tinggal di tenda di belakang pemukiman warga karena bertepatan dengan peringatan Hari Integrasi Timor-Timur ke NKRI tanggal 17 Juli 1975 dan mengenang jasa perjuangan sekaligus mengenang 15 tahun meninggalnya Raja Alexandrino Borromeu selaku tokoh apodeti dan perintis Integrasi.