Disaksikan Suku Kaliduk, BPN Ukur Tanah Pembangunan Kawasan Taman Doa di Teluk Gurita

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Belu melakukan pengukuran tanah untuk pembangunan taman wisata rohani di Teluk Gurita, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan RI-RDTL, Jumat (12/7/2019) siang.

Pantaun media dilokasi, nampak para Petugas BPN Belu didampingi pelaksana proyek, Kadis Pariwisata Belu, PPK disaksikan para pemilik lahan tiga Suku Kaliduk yakni Suku Kaliduk Uma Katuas, Uma Meo dan Bei Hale.

Pengukuran tanah tersebut untuk mengetahui luas lahan sesungguhnya sesuai yang dibutuhkan Pemerintah untuk membangun patung kawasan taman wisata rohani di teluk Gurita seluas 5 hektare.

Kepada awak media di lokasi, Ketua Suku Kaliduk Uma Meo, Amandus Hale didampingi Ketua Suku Kaliduk Uma Katuas Siprianus Meti dan Ketua Suku Kaliduk Uma Bei Hale, Yosep Antoni mengatakan, mereka menyaksikan pengukuran tanah sesuai kesepakatan ketiga Anggota suku hanya menyerahkan lahan seluas 5 hektare untuk pembangunan kawasan taman wisata rohani.

“Ketiga suku sepakat serahkan 5 hektare lahan untuk pembangunan taman wisata rohani. Tapi penyerahan tanah baru sah setelah Pemerintah penuhi permintaan dari ketiga Suku yakni, uang ganti rugi lahan sebesar Rp 450 juta, surat pernyataan untuk mempekerjakan tenaga lokal di lokasi proyek serta permintaan untuk renovasi patung yang ada di belokan Aufuik,” urai dia.

Lanjut Amandus, semua permintaan itu dibuat dalam bentuk tertulis sebagai pegangan bagi suku, sehingga kedepan suku juga punya pegangan. Setelah semua permintaan tersebut telah dipenuhi Pemerintah maka tanah menjadi milik Pemerintah dan dibuatkan sertifikat.

Ketiga suku Kaliduk prinsipnya mendukung pembangunan taman wisata rohani di wilayah tersebut. Akan tetapi lahan yang dipakai untuk pembangunan kawasan itu milik ketiga suku. Sehingga anggota suku yang berjumlah mendekati 200 kepala keluarga itu meminta pengertian baik dari pemerintah berupa uang ganti rugi lahan senilai Rp 450 juta untuk membuat tiga rumah suku.

Bersamaan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, Remigius Asa memberikan apresiasi kepada seluruh anggota suku Kaliduk yang bijaksana dalam menyelesaikan masalah tanah. Meski lahan masih bermasalah, proses pembangunan tidak dilarang Suku.

Dikatakan, permintaan dari ketiga suku beberapa diantaranya telah diakomodir oleh Pemerintah Daerah. Terkait permintaan ganti rugi lahan senilai Rp 450 juta selesai pengukuran tanah akan dipertemukan ketiga Ketua suku dengan Bupati Belu guna penyelesaian lanjut.

Terpisah Kepala Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Belu, Antonio Goncalo yang dihubungi media terkait pengukuran tanah pembangunan patung kawasan membenarkan, pengukuran tanah telah dilakukan tadi.

“Ya tadi su habis ukur untuk mengurangi luas dari 10 hektare menjadi 4 hektare,” terang dia via whatsappnya.

Kendati demikian jelas Antonio, untuk sertifikatnya belum bisa diterbitkan pihak BPN, karena belum ada permohonan masuk ke Kantor. “Karena status tanah belum jelas, tadi ukur kasih kurang luas saja,” kata dia.