Sepak Bola, Seni Yang Mempersatukan.

Bagikan Artikel ini

Catatan Pojok El Tari Memorial Cup Malaka.
Frans Watu – Mantan Pemain PSK & Galatama.
Betun, NTTOnlinenow.com – Tidak dipungkiri kalau sepak bola merupakan olah raga terpopuler sejagat raya. Begitu popolernya sehingga di berbagai sudut kota Betun dan Besikama masyarakat nampak eforia menyambut pesta sepak bola El Tari Memorial Cup (ETMC). Sejenak mereka melupakan ladang dan ternak bahkan aktivitas lainnya untuk menyambung hidup mereka. Rai Malaka wilayah yang terkenal dengan wisata pantai ini tengah melaksanakan turnamen dua tahunan PSSI (liga 3) untuk wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Hajatan bola ini seolah menjadi candu yang telah menyihir masyarakat Malaka dan Nusa Tnggara Timur (NTT). Masyarakat tersihir dengan hajatan ETMC sehingga mendorong masyarakat melupakan sejenak berbagai kesibukan mereka. Sepak bola menjadi topik diskusi di setiap sudut kota Betun yang merupakan ibu kota Kabupaten Malaka.

Berbagai kalangan mulai dari laki, perempuan, tua muda, berambut kriting dan berambut lurus, yang bermukim di berbagai kota di seantero NTT, berbondong-bondong memenuhi stadion Betun, Besikama dan Kobalima, tempat dimana turnamen ETMC dipertandingkan. Mereka rela berpanas-panasan datang menyaksikan klub kesayangannya berlaga di stadion yang jauh dari standar Badan Liga, maklum saja Kabupaten ini belum lama memisahkan dirinya dari Kabupaten Belu pada tahun 2012. Sepak bola merupakan seni yang mempersatukan semua elemen bangsa. Semua perbedaan politik seketika lenyap terhipnotis dalam fanatisme kedaerahan maupun kecintaan akan klub idolanya.

Tidaklah heran masyarakat Malaka dan sekitarnya begitu antusias memenuhi stadion tempat berlangsungnya turnamen ETMC, karena sepak bola selalu menarik. Ada seni dan atraksi skil individu maupun team work yang menghibur masyarakat di tapal batas NTT dan Timor Leste. Sepak bola merupakan olah raga yang murah meriah. Murah meriah karena bisa dimainkan kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja.

Bagi masyarakat NTT, sepak bola adalah olah raga rakyat, tidak butuh banyak perlengkapan bahkan dengan telanjang kakipun mereka mampu memainkan si kulit bundar, maka tak heran dari bumi Flobamora ini banyak melahirkan pemain berbakat, sebut saja Leo Rodja dan putranya Rudi Roja (Kapolda Papua), Nani Fernandez dan putra-putranya (Valens, Lipus,Yos, Lorenz,Dion), Cor Manteiro, Sinyo Aliandoe, Kia Bersaudara (Anton dan Polce), Eduard Mangilomi, Mathias Bisinglasi, Vin Koda, Lipus Tadi, Jony Dopo, Maxi Daclori, Melius Mau, Verry Billy, Yopi Riwoe, Yun Bali, Yance Ruma, Yabes Roni, bahkan Wakil Gubernur NTT merupakan pemain terbaik dari produk ETMC di Maumere. Bahkan hingga kini beberapa pemain muda NTT masuk dalam Timnas Indonesia U 16.

Sepak bola adalah seni karena keindahan yang dapat menjadi hiburan bagi setiap kita yang menyaksikan kegesitan seorang pemain dalam berlari mengejar dan menggiring bola untuk dilesakkan ke gawang lawan. Sepak bola juga adalah pemersatu. Para pemain dalam satu kesebelasan dipersatukan dari berbagai suku, agama dan warna kulit untuk memadukan kemampuan dan keterampilan mereka memainkan si kulit bundar untuk satu tujuan bersama mencetak gol dan meraih kemenangan. Selain seni dan pemersatu, dalam sepak bola juga inspirasi dan jiwa sportivitas selalu ada. Setiap pemain sepak bola, dalam dirinya tumbuh dan tertanam semangat dan inspirasi untuk menjadi yang terbaik dalam mencetak gol di setiap laga demi meraih kemenangan.

Penampilan Yanto dkk dari Persada Sumba Barat Daya, ketika menahan imbang pendatang baru Bintang Timur FC Atambua di Stadion Betun, Senin (8/7) dengan skor 1 – 1, adalah bukti bahwa peta sepak bola di NTT sudah merata. Bintang Timur FC salah satu pendatang baru yang diperkuat mantan pemain Timnas U 19 yang pernah merumput Liga Brunei Iner Sontany Putra dan ditangani pelatih berkebangsan Belanda Berth Pentury.

Sepak bola sebagai seni, pemersatu, inspirasi dan sportivitas, tersaji di hadapan supporter Bintang Timor FC dan Persada yang datang dari Kupang dan Sumba. Bersatunya kedua supporter ini menggambarkan semangat persaudaraan dan bukti bahwa sepak bola bisa memperatukan semua elemen. Sorak gempita terdengar riuh di seantero Stadion Betun ketika pluit panjang dibunyikan. Kegembiraan di sepanjang jalan di kota Betun bagaikan pesta rakyat dan pesta itu adalah pesta sepak bola, pesta umat manusia di bumi Flobamora.

Penulis adalah Mantan Kapten Suratin Cup NTT, PSK Kupang di ETMC 1985, Liga Mahasiswa bersama ASMI Jakarta, Galatama bersama Perkesa Mataram, Lampung Putra, Arema Malang.