Kompetisi di Daerah Yang Miskin Kompetisi, Menuju Kebangkitan Sepakbola NTT

Bagikan Artikel ini

Catatan Pojok El Tari Memorial Cup Malaka
Frans Watu – Mantan Pemain PSK & Galatama
Betun, NTTOnlinenow.com – Rai Malaka daerah di kaki gunung Lakaan tengah menjadi perhatian masyarakat NTT dan penggemar bola di negeri ini. Saat ini tengah berlangsung turnamen El Tari memorial Cup (ETMC) yang pesertanya didominasi pemain muda yang bisa dijaring masuk liga 2 atau akademi sepakbola untuk dipersiapkan mengikuti kompetisi liga 1.

Hari kedua penyelenggaraan El Tari memorial Cup (ETMC) menampilkan 3 pertandingan di pool A bertanding, PSKN TTU vs Persami Maumere berakhir dengan skor 1-0 kemenangan PSKN. Perss Soe vs PS Kota Kupang berakhir 1-0 untuk Pess Soe sedangkan di pool B bertanding Persap Alor vs Putera Oesao FC skor 2-0 kemenangan Persap Alor.

Hari ke dua ETMC sudah diwarnai dengan aksi protes tim Persami Maumere terhadap wasit yang menjadi instrumen penting dalam sebuah pertandingan. Persami yang berada di pool A merupakan satu-satunya klub dari daratan Flores yang di kepung 5 tim dari daratan Timor (PS Malaka, PS Kota Kupang, Perss Soe, PSKN,PS Kupang).

Kompetisi di daerah yang miskin kompetisi, apa yang diharapkan ? tidak ada pemain bintang yang lahir tanpa melalui suatu kompetisi yang berkesinambungan. Dari kompetisi lahirlah pemain berkualitas dan wasit yang punya jam terbang sehingga dalam memimpin pertandingan tidak disangsikan lagi kemampuannya dalam bertindak di lapangan.

Baca juga : Catatan Pojok El Tari Memorial Cup Malaka

Rumornya ada aroma tak sedap, wasit dikarantina panitia sehingga sulit berkomunikasi, beda dengan ketika ETMC di Ende dua tahun silam, tutur salah seorang official yang berceritera kepada saya. Harusnya demikaian, selama berlangsung turnamen wasit harus diisolir dan dibatasi berkomunikasi dengan peserta agar tidak ada ruang untuk “main sabun” atau suap.

Saya berharap turnamen ETMC menjadi momentum penjaringan bibit pemain bagi Asprov NTT dalam mempersiapkan tim menuju Pekan Olahragha Nasional (PON) di Papua 2020. Asprov dan Askab/Askot sudah mulai memikirkan bagaiman roda kompetisi di daerah bisa berjalan dengan rutin. Di daerah yang misikin prestasi ini jangan bermimpi untuk juara di PON walaupun banyak pemain NTT yang sudah bermain di liga 1 atau liga 2.

NTT harus bermimpi suatu saat akan memiliki sebuah klub yang bisa bicara di liga 1 atau liga 2. Jalan pintasnya akuisisi klub liga 2 dan ganti namanya dengan branding dari salah satu kota/produk lokal NTT. Hal ini bisa dilakukan oleh seorang Viktor Laiskodat yang punya visi dalam membangun propinsi kepulaun ini. Klub ini dapat dijadikan alat untuk mempromosikan periwisata dan produk lokal NTT.

Jalan lain menuju kebangkitan sepakbola NTT yang bisa dilakukan oleh penggiat sepakbola di daerah yang miskin kompetisi ini dengan cara mengganti pengurus Asprov dan Askab/Askot yang sudah terlalu lama bercokol di organisasi. Bersihkan organisasi sepakbola di daerah dari intrik politik dengan cara berikan kepada swasta dan penggiat sepakbola yang mampu mengurus dirinya dengan dukungan pemerintah daerah. Kebangkitan sepakbola NTT, wah bagus juga kita nonton di televiisi ada klub liga 2 dari NTT dengan nama dan ciri khas NTT seperti, Kupang FC, Komodo FC, Flobamora United dengan branding “visit Labuan Bajo” , Garam Timor, PD Flobamora atau Sophia. Kehadiran klub sepakbola professional di NTT bisa menjadi solusi peningkatan ekonomi masyarakat setempat dan mampu membuka lapangan pekerjaan. Kita tunggu sambil menikmati secangkir kopi Bajawa, bangkit sepakbola NTT.

Penulis adalah Mantan Kapten Suratin Cup NTT, PSK Kupang di ETMC 1985, Liga Mahasiswa bersama ASMI Jakarta, Liga Galatama bersama Perkesa Mataram, Lampung Putra, Arema Malang.