Penyelundupan 4.874 Pil Ekstasi Yang Digagalkan Bea Cukai Mota’ain Adalah Jaringan Internasional

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Narkoba jenis MDMA (methylenedioxy methamphetamine) sebanyak 4.875 butir yang digagalkan petugas Bea Cukai Atambua merupakan jaringan internasional.

Kasus tersebut, barang bukti berupa pil ekstasi bersama kedua kurir JSP dan AS (pasutri) asal Negara Timor Leste telah ditangani Polres Belu setelah dilimpahkan pihak Bea Cukai Atambua.

Kapolres Belu, AKBP Christian Tobing dalam konferensi pers bersama awak media aula Mapolres Belu, Rabu (26/6/2019) mengatakan, hasil penyelidikan polisi, narkoba yang digagalkan itu berasal dari negara Filipina.

Barang haram itu jelas Tobing dibawa oleh orang yang berinisial JG ke Negara Timor Leste. Selanjutnya narkoba itu diberikan kepada tersangka berinisial JSP untuk diselundupkan ke wilayah Indonesia.

“JSP adalah warga Timor Leste. Dia sebagai kurir yang dibayar oleh warga Filipina sebesar 200 dollar per hari untuk membawa narkoba ke Indonesia melalui pintu PLBN Mota’ain,” urai dia.

Menurut Tobing, rencananya narkoba senilai Rp 4,8 Miliar itu dibawa ke Jakarta melalui Kupang. Orang yang menerima narkoba tersebut di Kupang berinisial HS, warga Jakarta yang saat itu berhasil ditangkap aparat Kepolisian.

Dituturkan, JSP dan AS dua tersangka kurir yang diamankan petugas Bea Cukai di PLBN Mota’ain berstatus sebagai suami istri. Saat ini dua tersangka ditahan di Mapolres Belu sambil menunggu proses hukum lebih lanjut. Sedangkan satu tersangka berinisial HS ditahan di Kupang.

Lanjut Tobing, modus yang dilakukan tersangka yakni barang haram yang dibawa dibungkus menggunakan kemasan plastik warna hitam dan dimasukkan ke dalam sebuah printer.

Atas perbuatan dua tersangka itu jelas Tobing, tersangka dapat dijerat dengan Pasal 102 huruf e jounto Pasal 103 huruf c Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan jounto Pasal 113 ayat 2 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan tuntutan hukuman pidana minimal empat tahun maksimal hukuman seumur hidup.

Adapun hadir dalam konferensi pers, Kepala Bea Cukai Atambua, Tribuana Wetangterah, Kasat Narkoba Polres Belu, Kepala BNK Belu, Ferdinandus Bone Lau juga dihadirkan kedua tersangka kurir narkoba JSP dan AS dalam konferensi pers dengan pengawalan dari Polisi.