Suku Kaliduk Batal Serahkan Tanah Untuk Pembangunan Patung Bunda Maria di Teluk Gurita

Bagikan Artikel ini

Laporan Yansen Bau
Atambua, NTTOnlinenow.com – Suku Kaliduk di Atapupu selaku pemilik lahan yang akan dibangun patung Bunda Maria
di teluk Gurita, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak akan kembalikan uang senilai Rp 30 juta yang diberikan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Belu.

Diketahui uang ritual adat untuk penyerahan lahan pembangunan patung Bunda Maria itu diserahkan Pemkab Belu melalui Dinas Pariwisata kepada tiga Suku Kaliduk yakni Kaliduk Uma Katuas, Uma Meo dan Uma Beihale sebagai tanda dimulainya proses pembangunan patung raksasa itu.

Menurut Ketua Suku Kaliduk Uma Katuas, Sipri Metty saat dihubungi media di Atambua, Sabtu malam (15/6/2019) mengatakan, pengembalian uang itu sebagai bentuk penolakan penyerahan tanah Suku Kaliduk yang akan dibangun patung.

“Uangnya kami akan kembalikan ke Pemkab Belu dan kami tolak menyerahkan tanah untuk pembangunan patung itu sebelum permintaan kami dipenuhi Pemerintah,” ucap Ketua Suku Kaliduk, Sipri Metty didampingi Ketua Suku Kaliduk Uma Beihale Yoseph Antoni Leki.

Menurut dia, apabila Pemerintah tidak memenuhi permintaan kepentingan suku besar maka tanah tersebut tidak akan diserahkan mengingat tanah itu diperoleh leluhur mereka melalui pertumpahan darah.

“Kami tidak ingin anak cucu kami menderita dan leluhur kami murka atas apa yang kami lakukan saat ini,” tandas kedua Ketua Suku itu.

Sekedar diketahui, dua Ketua Suku Kaliduk kecuali Ketua Suku Kaliduk Uma Katuas, Sipri Metty telah menandatangani kesepakatan penyerahan tanah yang mana dalam waktu dekat, akan dilakukan ritual adat pembukaan lahan. Namun setelah tandatangan sepakati penyerahan tanah itu justru dapat penolakan dari anggota Suku tersebut.

Informasi yang berhasil dihimpun, para Ketua Suku Kaliduk yakni Kaliduk Uma Katuas, Kaliduk Uma Meo dan Kaliduk Uma Beihale merasa berada dalam tekanan sehingga terpaksa menandatangani kesepakatan itu. Terkesan ada pemaksaan kehendak dari pemerintah Kabupaten Belu dalam hal ini Bupati Belu, Wakil Ketua DPRD dan Kepala Dinas Pariwisata Belu untuk mengambil paksa tanah ulayat tersebut.

“Kami ini tandatangan terpaksa saja karena waktu itu dalam keadaan tertekan,” sebut Ketua Suku Kaliduk Uma Beihale, Yoseph Antoni Leki dan Ketua Suku Kaliduk Uma Katuas, Sipri Metty.

Pernyataan kedua ketua suku ini mendukung pernyataan Ketua Suku Kaliduk Uma Meo, Amandus Hale yang sebelumnya telah menyatakan penolakan penyerahan tanah milik Suku Kaliduk untuk pembangunan patung raksasa tersebut.

Menurut Yoseph dan Sipri, penolakan penyerahan tanah masih terkendala karena setelah mendengar reaksi penolakan dari seluruh anggota suku.

Sebelumnya, Bupati Belu Willy Lay kepada awak media yang dihubungi di rumah jabatannya, Selasa (11/6/2019) lalu mengatakan, tidak ada lagi permasalahan lahan atau tanah terkait pembangunan patung tersebut.

Saat disinggung terkait keberatan Ketua Suku Kaliduk Uma Meo, Amandus Hale bahwa mereka merasa ditekan, Bupati Lay menyampaikan itu tidak benar. Itu hanya dinamika saja dalam proses penyerahan tanah tersebut.

“Tidak ada tekanan, itu hanya dinamika saja. Masalah tanah tidak ada,” ujar Lay.

Untuk diketahui, pembangunan patung Bunda Maria raksasa di Teluk Gurita, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak, Belu, Timor Barat wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste menelan anggaran senilai Rp 15.942.000.000.
Proses tender proyek sudah dilakukan dan dimenangkan oleh PT. Enviture Mulia Persada asal Semarang-Jawa Tengah.