Tangkap Bandar Narkoba Jaringan Internasional, BNN Sita Aset Rp 6,1 Miliar

Bagikan Artikel ini

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Badan Narkotika Nasional (BNN) menangkap seorang bandar narkoba jaringan internasional berinisial KML, di Dusun Pintu Air, Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, Selasa (14/5/2019).

Kepala Biro Humas dan Protokol BNN RI, Sulistyo Pudjo Hartono, S.I.K, M.Si mengatakan, dari tangan tersangka KML, BNN menyita sabu seberat 15,6 kilogram (kg) dan tablet PMMA sebanyak 9.900 butir.

“KML merupakan salah seorang bandar narkoba jaringan internasional,” ujar Pudjo, demikian sapaan untuk Sulistyo Pudjo Hartono kepada nttonlinenow.com, Jumat (24/5/2019).

Menurut Pudjo, dari hasil pengembangan kasus ini diperoleh keterangan bahwa tersangka KML diduga kuat terlibat dalam pencucian uang hasil kejahatan narkoba karena menguasai dan menggunakan beberapa rekening yang digunakan untuk mentransfer uang dan menerima pentransferan uang terkait bisnis narkotika.

“KML juga mendapatkan keuntungan yang sangat besar dan keuntungan tersebut disimpan di beberapa rekening milik tersangka ataupun orang lain,” ungkap Pudjo.

Selain itu, dari bisnis haram yang dijalankannya, dia juga memiliki aset bergerak maupun tidak bergerak dengan nilai yang sangat tinggi, antara lain 2 unit rumah, kebun sawit, 1 unit mobil, 4 unit motor, 2 unit dump truck. Total aset keseluruhan dari KML, ditaksir mencapai angka Rp 6,1 miliar.

“Petugas BNN terus melakukan pengembangan untuk melacak aset-aset yang diduga terkait dengan bisnis haram KML,” katanya.

Atas kejahatannya, tambah Pudjo, tersangka KML dikenakan pasal berlapis, karena selain terlibat dalam peredaran narkoba juga diduga kuat terlibat dalam pencucian uang hasil kejahatan narkoba. Ia dikenakan pasal pasal 114 ayat (2), Jo Pasal 132 ayat (1), Pasal 112 ayat (2), Jo Pasal 132 ayat (1), UU RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman maksimal hukuman mati.

“Selain itu, atas kejahatan pencucian uang tersebut, tersangka KML terancam Pasal 3, 4, dan 5 ayat (1) Jo Pasal 10 Undang-Undang No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pasal 137 huruf a,b UU RI No.35 Tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman hukuman maksimal pidana penjara selama 20 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar,” tandasnya.