Warna-Warni Pakaian Adat Peserta Upacara Hardiknas 2019 di Belu Batas RI-RDTL, Wabup Ose : Harus Bangga Punya Budaya Beragam

Bagikan Artikel ini

Atambua, NTTOnlinenow.com – Ada hal yang berbeda dan unik dalam upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tahun 2019 di Kabupaten Belu, Timor Barat wilayah perbatasan antar Negara Indonesia dengan Timor Leste, Kamis (2/4/2019).

Warna-warni pakaian adat atau dalam bahasa daerah Belu disebut Tais digunakan para peserta upacara seperti pelajar dari tingkat SD, SMP, SMA/SMKN, Forkopimda, OPD hingga BUMN/BUMD pada upacara yang berlangsung di lapangan Kantor Desa Derok Fatukrene, Kecamatan Tasifeto Barat salah satu Kecamatan yang berbatasan langsung dengan eks Propinsi ke-27 Timor-Timur sekarang Timor Leste.

Wakil Bupati Belu J.T Ose Luan mengenakan tais adat daerah Belu yang bertindak selaku Inspektur Upacara Hardiknas mengatakan, ternyata busana tais adat daerah membuat penampilan kita hari ini tampan dan cantik, gagah dan perkasa.

“Saya sangat bangga dengan peserta upacara yang tampil beda dengan mengenakan tais adat daerah,” ujar dia dalam sambutan lokal.

Menurut Wabup Ose, pakaian adat atau tais adat merupakan ciri khas setiap daerah, ciri asli identitas suku yang beragam karena itu kita harus berbangga memiliki pakaian adat yang beragam.

Ditambahkan, keberadaan kita di jaman dulu seperti ini. Mengapa saat ini dihidupkan kembali tradisi menggunakan pakaian adat, karena adanya degradasi nilai-nilai yang mengarah kepada merosotnya nilai-nilai budaya ada yang.

“Nilai-nilai budaya ini menguatkan, mengokohkan hingga bangsa ini merebutkan kemerdakaan sampai saat ini. Kita bangga punya budaya yang beraneka ragam, suku, agama. Mari kita semua berbangga dengan bangsa ini. Bangsa yang hebat dengan Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika,” tandas Wabup Ose.

Mantan Sekda Belu menegaskan bahwa, Pendidikan sangat penting karena itu kita semua harus bersyukur dan berterima kasih kepada para insan pendidikan terutama para penjasa pendidikan. Kita semua bisa seperti sekarang ini berkat pendidikan.

“Didiklah, bimbinglah, binalah anak-anak generasi muda sejak dini agar kelak mereka berguna bagi nusa dan bangsa,” kata dia.

Wabup Ose menyampaikan terimakasih kepada kepada seluruh pihak yang telah terlibat dan berpartisipasi sehingga kegiatan upacara Hardiknas tahun ini dapat terlaksana dengan aman, lancar dan meriah.

“Terimakasih untuk Camat Tasbar, Kepala Desa, Danramil, Kapolsek, tokoh adat, para guru sekolah dan anak-anak yang telah terlibat sehingga upacara ini berlangsug dengan sukses,” ucap dia.

Lanjut Wabup Ose dalam sambutan Mendkibud RI, Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa, kekuatan sektor pendidikan dan kebudayaan menemukan urgensinya. Kaitan dengan itulah, tema Hari Pendidikan Nasional tahun 2019 adalah “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”.

Disebutkan bahwa, tema ini mencerminkan pesan penting Ki Hajar Dewantara terkait hubungan erat pendidikan dan kebudayaan dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang syarat nilai dan pengalaman kebudayaan guna membingkai hadirnya sumberdaya-sumberdaya manusia yang berkualitas, demi terwujudnya Indonesia yang berkemajuan.

Jelas dia, dalam perspektif Kemendikbud pembangunan sumber daya manusia menekankan dua penguatan, yaitu pendidikan karakter dan penyiapan generasi terdidik yang terampil dan cakap dalam memasuki dunia kerja.

Dalam pendidikan karakter dimaksudkan untuk membentuk insan berakhlak mulia, empan papan, sopan santun, tanggung jawab, serta budi pekerti yang luhur. Sementara ikhtiar membekali ketrampilan dan kecakapan disertai pula dengan penanaman jiwa kewirausahaan.

Tentu, kata Wabup Ose semua itu membutuhkan profesionalitas kinerja segenap pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan di tingkat pusat dan daerah. Peradaban dunia berkembang secepat deret ukur. Sementara dunia pendidikan bergerak seperti deret hitung.

Hadirnya Revolusi Industri telah mempengaruhi cara kita hidup, bekerja dan belajar. Ditambah dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, dapat mempengaruhi cara berpikir, berperilaku dan karakter peserta didik.

“Karena itu, peserta didik harus memiliki karakter dan jati diri bangsa di tengah perubahan global yang bergerak cepat. Saat ini peserta didik kita didominasi Generasi Z yang terlahir di era digital dan pesatnya teknologi.
Mereka lebih mudah dan cepat menyerap teknologi terbaru,” terang dia.

Hal ini jelas dia, bisa dimanfaatkan oleh sekolah dan para guru untuk menerapkan pendidikan berbasis teknologi digital dengan sentuhan budaya Indonesia melalui tri pusat pendidikan, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga pusat pendidikan tersebut harus saling mendukung dan menguatkan.

Selaras dengan itu, dalam konteks kebudayaan, posisi kebudayaan sebagai basis pendidikan nasional semakin kukuh dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, serta Kongres Kebudayaan tahun 2018.

“Implementasinya diharapkan semakin meningkatkan ketahanan budaya, meningkat pula dalam mengambil peran di tengah peradaban dunia,” ungkap dia.

Tambah dia, penguatan karakter anak juga ditopang dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

“Kecintaan dan kebanggaan pada simbol-simbol negara itu harus terus ditanamkan agar mampu membentuk generasi yang kuat rasa nasionalismenya dan berjiwa patriot,” tegas Wabup Ose.

Untuk diketahui, hadir dalam upacara Hardiknas 2019 di lapangan Derok Faturene, Sekda Belu, Pimpinan OPD Belu, Forkompimda Belu, tokoh adat, tokoh masyarakat yang kenakan pakaian tais, Danyon RK 744/SYB, Dansatgas Yonif Raider 408/SBH, Pimpinan BUMN/BUMD, para Guru SD, SMP, SMA/SMK serta tamu undangan lainnya.

Adapun kegiatan upacara Hardiknas 2019 berlangsung hikmah dan dimeriahkan dengan berbagai hiburan seperti tampilan drum band Camka Subrastha Satgas Yonif Raider 408, drum band SMA 2 Tasbar, Likurai serta stand up comedy dan hiburan dari para siswa-siswi sekolah di perbatasan Belu dan Timor Leste. (PKP Setda Belu).