Perlu Kajian dan Penelitian Taman Nasional Komodo

Spread the love

Laporan Jean Alfredo Neno
Kupang, NTTOnlinenow.com – Sekretaris Daerah (Sekda) Nusa Tenggara Timur (NTT), Benediktus Polo Maing menyatakan penting untuk melakukan kajian dan penelitian mengenai Taman Nasional Komodo (TNK) di Manggarai Barat.

“Dengan hasil penelitian oleh pihak Undana nantinya bisa menjadi acuan untuk mengkonkritkan kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi NTT dan dari Kementerian pusat,” kata Benediktus di Kupang, Selasa (14/5/2019).

Hal ini disampaikannya pada rapat bersama dalam menindaklanjuti upaya-upaya untuk pengelolaan Taman Nasional Komodo yang lebih optimal.

Menurut Benediktus, dengan kerja sama dengan tim peneliti Universitas Nusa Cendana (Undana), maka tentunya akan menjadi bagian penting dari pengelolaan habitat untuk memprioritaskan keberlangsungan hidup komodo.

“Termasuk dalam menindaklanjuti ditutupnya TNK pada 1 Januari 2020 mendatang,” ungkap Benediktus.

Selain Taman Nasional Komodo, Benediktus menambahkan, ke depannya juga perlu dilakukan pengkajian dan penelitian pada destinasi pariwisata lain di NTT.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama Undana, I Wayan Mudita mengatakan, Undana telah menyiapkan tim peneliti secara internal dan juga mendukung kebijakan penutupan TNK.

“Kita juga menginginkan dukungan Pemda untuk memfasilitasi tim peneliti. Kita akan bekerja sesuai koridor, tentunya melalui perencanaan. Karenanya, perlu adanya legitimasi seperti MoU atau surat dari gubernur,” papar Mudita.

Direktur Program Pascasarjana Undana yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Peneliti, Mangadas Lumban Gaol mengatakan, Taman Nasional Komodo harus dikaji terus menerus, mulai dari habitat, keadaan dan kesehatan komodo, ketersediaan pangan juga sumber daya alam dan ekosistem sekitar TNK.

“Kita juga melibatkan stakeholders yang hadir dalam rapat ini, sehingga hasil kajian penelitian bisa komprehensif dan dapat membuahkan kebijakan yang positif pada TNK,” jelas Mangadas.

Mangadas mengatakan, hewan purba komodo ini adalah kekayaan NTT, karena itu populasinya harus dipertahankan. “Kita harap nantinya kebijakan juga bisa diiplementasikan dalam menjaga keberadaan TNK ini,” tambah Mangadas.

Sementara itu, Kepala Balai KSDA NTT, Timbul Batubara juga menekankan perlunya tata kelola dan konservasi sesuai konteks yang ada pada TNK.

“Harus ada value yang universal. Kita juga akan mendukung untuk kajian penelitian bagi seluruh kawasan di Nusa Tenggara Timur,” ujar Timbul.

Kepala Biro Ekonomi dan Kerja Sama NTT, Lery Rupidara turut mengutarakan harapannya untuk penataan kembali Taman Nasional Komodo.

“Dengan adanya tim peneliti yang telah dibentuk dan juga adanya stakeholder yang saling memberikan dukungan maka perlu berproses bersama dan tetap berintegrasi. Kita ini daerah otonom, perlu ada kebijakan yang dimulai dari kontrol manajemen dan inovasi pada TNK yang lebih baik,” jelas Leri.

Plt. Bapelitbangda NTT, Luki Koli menjelaskan pentingnya menjaga ekositem dan rantai makanan komodo. Menurutnya, kajian tim peneliti Undana memiliki sinkronisasi dengan apa yang dikatakan gubernur NTT.

“Kita juga perlu melihat vegetasi dan mengembalikan habitat asli komodo. Nilai komodo yang paling dilihat adalah sebagai binatang liar, pemangsa yang agresif,” ujar Luki.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTT, Fredy J. Kapitan mengemukakan, perlunya penanganan dalam menjaga lingkungan lain dalam TNK.

“Kita perlu juga untuk melihat hutan mangrove dan hutan alam di sana. Masyarakat di sana memanfaatkan hutan untuk mendapatkan madu. Itu juga bisa berkontribusi untuk menarik wisatawan,” papar Fredy.

Kepala Bidang Pembinaan Dinas LHK NTT, Rudi Lismono megatakan, perlunya pemetaan yang baik dari kawasan wilayah TNK serta pengelolaan masyarakat secara sosial, ekonomi dengan meningkatkan SDM dan membangun jejaring pasar.

Sementara itu Kepala Balai Litbang LHK Kota Kupang, Sumitra Gunawan menyebutkan, kawasan konservasi lain yang juga berpotensi untuk menjadi destinasi wisata.

“Kita juga ke depannya akan melihat kawasan lain yang berpotensi dan juga mengadakan penelitian, di antaranya penyediaan ruang mangsa komodo dan dampak dari wisata perairan terhadap ekosistem laut di sekitar TNK,” jelas Sumitra.

Kepala Prodi Magister Ilmu Lingkungan PPs Undana, Philiphi de Rozari mengatakan, berbagai penelitian dan juga jurnal, baik nasional maupun internasional yang mengkaji tentang Komodo telah dikumpulkan sebagai referensi dan alat untuk memfokuskan tujuan penelitian.

Selanjutnya Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi kreatif Provinsi NTT, Wayan Darmawa menyoroti terkait perlunya perhatian terhadap aspek sosial.

“Di TNK sendiri terdapat desa dan di desa itu ada penduduk. Tentunya ke depan penduduk juga akan bertambah dan memungkinkan terjadinya perluasan wilayah permukiman. Hal yang harus kita cermati adalah bagaimana komodo tidak terganggu dengan penduduk sekitar tersebut,” kata Wayan Darmawa.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan NTT, Samuel Rebo yang hadir turut mendukung semua kinerja tim peneliti dan stakeholder.

“Kita mau agar semua yang ada ini lebih terpadu, sehingga dapat mempercepat apa yang dikatakan pak gubernur. Kita satukan tim kerja yang ada dan ke depannya TNK bisa menjadi destinasi ekslusif,” tandasnya.